
Langkah Elina terlihat energik. Wanita itu sungguh sangat bahagia. Pertemuannya dengan sang pujaan hati tadi membuahkan hasil yang manis. Walaupun, David belum percaya sepenuhnya bahwa dia masih tersegel.
Sekarang, itu bukan yang utama bagi Elina, yang penting David sudah setuju untuk menikah dengannya, itu saja sudah cukup. Dia sangat senang tatkala pria tersebut mengatakan bahwa bagaimanapun keadaan dirinya, sang kekasih menerima semua itu.
Tak mengapa bagi Elina jika harus bertahan bersama Evan untuk beberapa waktu. Ketika David lulus nanti, dia akan segera bercerai dengan Evan, lalu menikah dengan kekasihnya. Itulah yang dijanjikan oleh pria tersebut.
"Sayang, baru pulang?" tanya Evan ketika Elina memasuki kamar. Suaranya sangat lembut bak sutra, begitu berbanding terbalik dengan tadi pagi.
Kerasukan apa dia? Kenapa udah berubah aja? Kayak bunglon, cepet banget berubahnya, batin Elina.
Namun, Elina mengabaikan Evan dengan berjalan menuju lemari untuk mencari baju ganti. Wanita itu segera menuju kamar mandi setelah beberapa baju di tangan.
"Dia tenang banget. Gak tanya, gitu, aku dari mana. Padahal, 'kan, tadi aku gak pamit," gumam Elina heran.
"Ah, biarin aja. Ngapain mikirin dia." Elina segera menyiramkan air ke tubuhnya.
Elina keluar dari kamar mandi dengan tangan sedang mengeringkan rambut mengguakan handuk. Tiba-tiba dari arah yang tak diduga, Evan memeluk tubuh wanita itu. Dia pun memberontak agar segera dilepaskan. Akan tetapi, pria tersebut semakin erat memeluk.
"Maafin aku yang udah buat kamu ngambek, ya? Kemarin aku lagi pusing dengan perusahaan. Ada masalah hingga aku harus menghadapi dengan perkelahian. Kamu lihat sendiri, 'kan, pas pulang wajahku penuh lebam?"
__ADS_1
Evan segera menjelaskan alasan atas kemarahannya. Walaupun bukan alasan yang sebenarnya, tetapi dia berharap dapat meredakan emosi Elina sedikit.
Evan harus tetap menjaga sikap agar dapat segera mendapatkan kepercayaan wanita itu. Pria itu juga ingin membuktikan bahwa dialah pria yang terbaik untuk Elina. Dengan begitu, mungkin dirinya juga akan mendapatkan hati sang istri.
"Ih, apaan, sih? Terserah, kamu mau babak belur, kek, mau mati, kek, aku gak peduli."
Elina kini semakin berani. Keyakinannya untuk bersama David membuat sikapnya berubah seperti itu. Dia merasa bahwa akan ada orang yang membelanya ketika menghadapi Evan. Menurutnya, selama ini keluarganya juga hanya menyukai sang suami.
Kenapa sekarang dia berani ngomong kayak gitu? Evan heran dengan ucapan Elina. Apa pria itu menghasutnya?
Pasti mereka telah merencanakan sesuatu, batin Evan.
Evan menghembuskan nafas panjang, mencoba mengurangi panas di hati. Perubahan yang sangat besar akan sikap sang istri setelah bertemu dengan pria itu, membuatnya harus berhati-hati. Kini, dia harus lebih bersabar dan lembut terhadap wanita itu, seperti yang dikatakan oleh Chandra.
"Kok, begitu? Kalau aku mati, nanti kamu sedih karena menyesal," ucap Evan. Bibirnya mencoba menjangkau pipi Elina, tetapi gagal karena wanita itu menghindar.
"Ih, buat apa menyesal. Aku justru senang kalau kamu mati. Jadi, aku bisa nikah lagi," jelasnya penuh kekesalan, "udah, lepasin aku! Aku mau keringin rambut."
Evan melepaskan pelukan Elina, seketika itu pula wanita tersebut berjalan menuju ranjang untuk duduk. Tangannya kembali mengusap rambut dengan handuk.
__ADS_1
Evan tahu apa yang dimaksud Elina dengan 'nikah lagi'. Kalau diteruskan perdebatan itu, pasti akhirnya dia juga yang sakit hati dan semakin emosi. Dirinya lebih memilih mengalah lalu mencari topik pembicaraan yang lain.
"Kamu udah makan? Aku masak menu spesial, loh, buat kamu," ucap Evan lembut. Dia duduk di samping sang istri.
"Gak perlu masakin aku. Aku udah makan tadi di luar." Elina berdiri, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk menaruh handuk.
Elina kembali menuju ranjang untuk merebahkan tubuhnya di atas sana. "Sana pergi! aku mau tidur."
Evan pun bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju sisi ranjang yang lain. Dia segera merebahkan tubuhnya di sisi Elina yang lebih dahulu berbaring di sana. Dipeluknya tubuh sang istri dengan penuh kehangatan. Semua cinta dan kasih sayang tercurah dalam pelukan itu.
Elina juga merasakan perbedaan pelukan Evan. Dia merasa dibuai oleh pelukan itu sehingga tak ada penolakan darinya.
Kenapa kayak gini? Kok, nyaman sekali sih, pelukannya. Lebih nyaman dari pelukan David.
Elina memejamkan mata, menikmati pelukan Evan. Semua kebencian yang baru saja dia miliki, luntur, dihempas oleh kehangatan.
Tanpa terasa, mereka terhanyut boleh pelukan itu hingga terlelap ke alam mimpi.
Bersambung.
__ADS_1