Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 31. "Aku hamil"


__ADS_3

Air dari shower mengalir lepas, mengguyur tubuh Evan. Dengan kepala menunduk dan tangan bertumpu pada dinding, pikirannya kacau. Dia berada dalam posisi seperti itu sudah hampir dua puluh menit. Pria itu berharap semua rasa sakit dalah hati dan pikirannya luntur, terbawa air pergi, entah ke mana.


Rasa dingin tak diindahkannya, dia masih berandai-andai. Bagaimana jika orang itu diberi pelajaran yang tidak terlupakan agar tidak mengganggu lagi. Akan tetapi, Evan masih memikirkan konsekuensi akan hal itu, Elina pasti tidak terima dan semakin benci kepadanya..


Ya, Evan tadi mendengar percakapan mereka. Ingin rasanya segera mengakhiri percakapan kedua orang itu tadi. Namun, dia masih menahan emosi, berpura-pura tidak mengetahuinya. Pria itu menunggu waktu yang tepat untuk membongkar semua hal tersebut.


"Tunggu aja, semua ini pasti akan berakhir!" Evan memukul tembok sekali dengan keras keras. Hatinya sungguh panas, walaupun air telah menyirami seluruh tubuh.


Evan segera menyelesaikan mandinya. Dia ingin bergegas istirahat, meletakkan tubuh dan pikirannya yang lelah. Sungguh sangat menguras emosi jika memikirkan hal itu.


Evan mendapati tubuh Elina yang terbalut selimut setelah membuka pintu kamar mandi. Langkah kaki mulai mendekat ke arah wanita itu. Dia menekuk lutut untuk menyetarakan wajahnya dengan wajah sang istri. Wajah manis walaupun tidak berias, itu yang selalu didamba sejak kecil.


"El, sampai kapan akan kayak gini. Aku kangen kamu dulu, waktu kamu masih kecil. Elina yang polos dan manis." Evan membelai lembut pipi wanita itu. Walaupun ada pergerakan dari sang istri, tetapi matanya masih tertutup.


Lintasan masa kecil pun terbayang di benaknya. Kala itu, Elina masih berusia lima tahun. Dia sedang bermain bersama Evan. Beberapa boneka tergeletak di antara kedua bocah itu. Benda itulah yang menjadi sarana bermain mereka.

__ADS_1


"Mas, ini Mas Evan, ya." Elina memberikan Evan sebuah boneka laki-laki.


Evan menerima boneka itu, lalu dilakonkan sebagai dirinya. Elina pun membawa sebuah boneka perempuan untuk dimainkan.


Elina meminta untuk bermain bagaikan sinetron yang ada di televisi. Begitulah bocah kecil, apa yang dilihat, itulah yang akan menjadi imajinasinya.


Evan selalu menemani gadis itu saat bermain, walaupun mereka memainkan mainan perempuan. Namun, menurutnya itu lebih menyenangkan, daripada ketika bermain dengan Eko.


"Mas, sekarang kita nikah, ya. Aku mau ganti baju dulu."


Kedua boneka pun mereka baringkan pada sebuah ranjang mainan. Kain kecil, Elina jadikan sebagai selimut. Kedua boneka itu tidur bersama setelah menikah.


"Sudah pagi, ayo bangun."


Elina membangunkan bonekanya, lalu melepas baju untuk berpura-pura dimandikan. Dia pun mengganti baju. Namun, ada hal yang tak terduga, sepotong kain dia masukkan di balik baju boneka.

__ADS_1


"Mas, aku hamil," ucap Elina gembira.


"Wow, kamu hamil." Evan pun merasa senang. "Kalau begitu, aku kerja dulu buat kerumah sakit."


Evan sungguh melakokan perannya dengan baik. Dia tidak pernah membuat Elina kecewa. Apa pun yang menjadi imajinasi gadis kecil itu, dirinya sanggup untuk mengimbangi.


Masa kecil yang sangat manis. Evan selalu saja mengalah kepada Elina sehingga tidak ada pertengkaran di antara mereka. Tidak seperti Eko yang maunya menang sendiri. Maka dari itu, Evanlah yang senantiasa menemani gadis itu.


Evan akan selalu tersenyum ketika mengingat masa-masa itu. Elina yang masih polos, membuatnya selalu bahagia. Mereka juga bisa tertawa bersama tanpa ada kebencian.


"Hamil." Evan menghembuskan nafas panjang yang menerpa wajah Elina. "Kapan kamu hamil anakku, El?"


Evan menatap ke depan, bukan melihat Elina. Entah, apa yang dilihatnya. Pikiran pria itu masih berada pada pada masa kecilnya.


"Aaa ...."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2