Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 49. Untung Tidak Amnesia


__ADS_3

"Tunggu! Kamu bilang dia, siapa, Ners? Adik?" tanya Evan. Dia memastikan bahwa apa yang didengarnya tidak salah.


Sang ners pun menganggukkan kepala. Membenarkan apa yang ditanyakan Evan.


Seketika itu pula tawa Evan meledak. Dia merasa geli mendengar ners memanggil Elina seperti itu. Sangat konyol menurutnya.


"Kenapa tertawa? Gak ada yang lucu tahu!" protes Elina. Dia tidak suka karena merasa ditertawakan oleh Evan.


Sedangkan, sang ners tersenyum canggung. Dia sedikit malu kepada Evan karena hal tersebut.


"Ya sudah. Kalau sudah gak ada yang ditanyain lagi, aku pergi dulu," pamit ners, lalu meninggalkan kamar rawat Elina.


Evan mengusap kedua ujung matanya yang telah basah oleh air mata. "Adik-Adik."


Bibir Elina maju beberapa senti. Dia ngambek karena Evan terus saja menggodanya.


"Jangan marah, dong. Ilang nanti cantiknya." Evan mencoba merayu, supaya Elina tidak marah. Dia berjalan mendekati sang istri, lalu berucap, "Untung juga kamu gak amnesia."


"Apa?" pekik Elina, "kamu pengen aku amnesia, heh?"


Sungguh, Elina merasa bahwa Evan tidak mempunyai hati. Bisa-bisanya berharap sang istri lupa ingatan.

__ADS_1


"Kalau bisa 'kan lumayan. Kamu bisa lupain pria itu." Seperti tak punya salah, Evan begitu mudahnya berkata seperti itu.


Mendengar ucapan Evan, Elina tersulut emosi. Dadanya kembang-kempis karena kebencian yang merasuk. Kalau tidak sedang sakit, mungkin dia akan mencekik pria tersebut.


"Enak aja kalau ngomong! Kamu aja yang amnesia, sana! Biar gak ingat aku dan gak gangguin hubunganku dengan David."


"Andai itu bisa, aku juga gak masalah. Terlalu sulit buat kamu jatuh cinta sama aku. Padahal, aku udah selalu baik dan nyelametin kamu." Evan menundukkan kepala, sedih dengan keadaannya sendiri.


Dia merasa apa yang dilakukannya selama ini hanya sia-sia. Namun, Evan juga tak ingin menyerah begitu saja. Sesuatu harus diperjuangkan untuk mendapatkannya.


"Gak usah bilang lagi kalau kamu yang nyelametin aku. Aku gak akan percaya itu."


"Udah diselametin malah gak percaya. Terserahlah," gumam Evan.


"Kalau emang kamu yang nyelametin, mending gak usah aja. Biarin aku dip3rkosa sama mereka!"


"Enak aja biarin mereka menikmatimu. Mending aku yang menikmatimu."


Senyum seringai tampak di bibir Evan. Dengan perlahan, pria itu mengusap lembut pipi Elina. Dia menjadi ingin melakukan hal tersebut karena ucapan sang istri.


Elina merasa ketakutan, diam mematung. Tatapan Evan membuat dirinya sulit bernafas, sungguh mengerikan, bagai singa yang hendak menerkam mangsa. Dengan susah payah dia menelan salivanya.

__ADS_1


"Mau apa kamu?" tanya Elina dengan suara sedikit bergetar.


Kini wajah Evan semakin mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Harum minyak wangi pria itu semakin pekat seiring menyempitnya jarak. Elina pun semakin gugup.


"Ada cctv. Kamu gak lihat?"


"Aku gak peduli!" ucap Evan semakin mendekat.


Namun, ketukan pintu membuyarkan konsentrasi Evan. Dia segera menarik tubuhnya tepat sesaat sebelum seseorang membuka pintu, lalu duduk di sofa.


Seseorang masuk dengan membawa nampan berisi nasi dan lauk pauk. "Sarapannya, Mbak."


"Iya, makasih," ucap Elina seraya tersenyum kepada orang tersebut.


Orang itu segera pergi setelah menaruh sarapan tersebut ke atas nakas. Keheningan pun terjadi di ruangan itu.


"Mana Hp-ku?" tanya Elina, memecah keheningan.


Evan berdiri, lalu membuka laci nakas. Diraihnya benda pipih di dalam sana, kemudian di sodorkan ke arah Elina.


"Nih, pacarmu nelpon terus tuh," ucap Evan.

__ADS_1


Elina tak menghiraukan ucapan tersebut. Dia segera menyambar benda itu, lalu membuka kunci layarnya. Deretan panggilan tak terjawab dan beberapa pesan tampak setelah dia membuka aplikasi tersebut.


Bersambung.


__ADS_2