
“Nak Evan, duduk dulu di sini.” Diyah mempersilahkan Evan duduk di kursi ruang tamu.
Diyah segera menuju kamar Elina untuk mengabarkan kedatangan Evan. Namun, setelah beberapa kali panggilan, Elina tak kunjung keluar. Sang ibu memutar kenop pintu untuk mencoba masuk.
“Elin, Evan sudah datang, tuh. Cepat temui dia!” pinta Diyah lembut. Wanita itu berjalan menghampiri sang anak yang sedang memainkan ponsel.
“Iya, Bu. Sebentar lagi,” ucap Elina tanpa mengalihkan pandangannya. Sesungguhnya dia enggan untuk menemui Evan.
“Elin, tidak enak kalau dia nunggu kamu lama. Cepetan, gih!”
“Iya, Ibu,” ujar Elina malas.
Ya, hari ini adalah hari di mana Elina dan Evan akan memilih baju pengantin. Untuk itu, dirinya sangat malas karena harus pergi dengan pria itu seharian.
Elina bangkit dari posisinya. Dia mengambil handuk dari balik pintu, lalu melangkah gontai menuju kamar mandi. Wanita itu sengaja belum mandi walaupun dia tahu hari ini fitting baju.
Diyah menggelengkan kepala atas kelakuan sang anak. Wanita itu kembali menuju ruang tamu, menemui Evan di sana.
“Nak Evan, tunggu sebentar, ya. Elina lagi dandan.” Diyah berbohong kepada Evan karena dia tidak enak kalau bilang Elina sedang mandi. Wanita itu menutupi perilaku sang anak yang seenaknya sendiri.
“Iya, Bu. Lama juga gak apa-apa. Aku akan setia menantinya.” Evan melebarkan senyum. Sungguh senyum yang ikhlas.
__ADS_1
“Duh, Nak Evan, romantis sekali. Ibu jadi malu.” Diyah menggoyang-goyangkan badannya dengan jari bertautan. Seperti seorang gadis yang sedang dirayu.
“Loh, kok, Ibu yang malu?” tanya Evan seraya memundurkan badannya sebagai reaksi kaget.
“Iya juga. Ha-ha-ha. Ya sudah, ibu ke warung dulu, ya?”
Setelah mendapat anggukkan dari Evan, Diyah segera menuju warungnya. Sedangkan, pria itu merogoh benda pipih di saku celana. Dia memainkan ponsel guna mengusir kejenuhan ketika menunggu Elina.
Seperti yang telah dikatakan Evan tadi, sudah satu jam tapi Elina belum juga keluar dari kamar. Pria itu pun sudah beberapa kali melirik ke arah belakang. Namun, bayangan Elina pun tak nampak. Evan melanjutkan menyelam ke dunia maya.
Evan segera menghentikan kegiatannya ketika mendengar suara hak sepatu berbenturan dengan lantai mendekat dari arah belakang. Dia menunggu penampakan yang muncul dari arah datangnya suara. Sesosok wanita dengan rambut terurai dan gaun selutut yang membuat matanya tak dapat berkedip.
“Sungguh bidadari turun dari kayangan. Kamu cantik banget, Elin,” puji Evan masih tanpa berkedip.
Tanpa menghiraukan Evan, Elina berjalan keluar rumah. Evan seketika berdiri mengikuti sang gadis. Dengan sigap dia membukakan pintu mobil untuk sang pujaan hati.
Selama perjalanan, tak ada sepatah kata pun terucap dari bibir mereka berdua. Yang ada hanya Evan sesekali melirik ke arah Elina. Dia sungguh menikmati pemandangan indah di sampingnya.
__ADS_1
Elina terus saja memandangi aspal jalanan memalui kaca jendela di sampingnya. Tak sedikit pun mengalihkan pandangan, hingga mereka sampai pada tempat yang di tuju.
“Ayo, kita turun.” Evan mengulurkan tangan ke arah Elina.
Namun, Elina tidak menyambut uluran tangan itu. Dia keluar begitu saja lalu berdiri di samping mobil.
Evan hanya menghela nafas menerima perlakuan itu. Dia sadar bahwa gadis itu sangat membencinya. Akan tetapi, dia tidak akan pernah putus asa untuk mendapatkan hati putri kecilnya.
Di dalam butik, Elina kagum setelah melihat pakaian nan indah yang berjejer rapi. Ini pertama kalinya dia pergi ke sebuah butik ternama. Ternyata di dalamnya hanya ada pakaian ternama pula, tidak seperti yang selalu dia pakai. Akan tetapi, wanita tersebut tidak mau menampakkan kekaguman itu.
“Pilih, mana yang kamu suka!” perintah Evan. Nada bicaranya begitu lembut kepada Elina yang menandakan betapa dia sayang kepada gadis itu.
Kenapa sekarang dia begitu lembut sama aku, ya? Gak seperti Mas Evan biasanya. Dia lebih sabar sama aku, batin Elina.
Elina berjalan mengitari deretan baju pengantin yang digantung berjajar. Dia merasa bingung karena menurutnya semua bagus. Ingin rasanya dia memiliki semuanya.
Saat berjalan ke tengah ruangan, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah gaun yang terpasang di tubuh sebuah boneka. Dia pun mendekati gaun itu, lalu mengitarinya.
Baju itu memiliki aksen payetan tangan berwarna emas dengan dasar putih. Payetan itu tersebar di seluruh bagian, lalu mengumpul di dada. Sungguh membuat gaun itu terlihat rapi dan sangat mahal.
“Kamu suka itu? Coba saja, kalau cocok kita beli itu.” Evan tiba-tiba berdiri di belakang Elina.
__ADS_1
Bersambung.