Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 53. Bahagia untuk Diri Sendiri


__ADS_3

Sungguh, kini Evan dan Elina telah dinyatakan pisah ranjang. Sudah sebulan ini mereka tidur terpisah di rumah masing-masing. Walaupun rumah mereka berhadapan muka, tak memudahkan mereka untuk kembali bersama.


Sebagai tetangga, bahkan sudah dianggap saudara sendiri, Diyan dan Verry merasa sungkan kepada Angga. Mereka berdua terus berusaha merayu sang anak supaya kembali pada Evan. Namun, usaha mereka tak membuahkan hasil.


Elina tetap saja menolak untuk kembali. Dia tidak mau kembali bersama orang yang selalu membuatnya sakit hati. Kini, wanita itu tak sungkan lagi menghubungi David walau di rumah orang tuanya.


"Sayang, Minggu besok ada waktu, gak?" tanya David.


"Iya, emang kenapa?" tanya Elina balik. Dia meresa heran sekaligus senang. Dirinya menebak bahwa sang kekasih akan mengajaknya pergi.


"Aku mau ajak kamu jalan-jalan ke Bukit Asri."


Benar dugaanya, sang kekasih akhirnya mengajak Elina pergi jalan-jalan. Tentu saja dia tidak menolak tawaran pria tersebut. Dengan senang hati dirinya mengiyakan ajakan itu.


"Tapi, Bukit Asri itu tempat kayak apa?"


Elina tak pernah pergi ke sana, mendengar namanya juga tak pernah. Akan tetapi, mendengar nama tempat itu saja sudah sangat menarik. "Bukit Asri" berarti tempat tersebut sangat sejuk, begitulah gambaran di dalam benak wanita itu.

__ADS_1


"Itu tempat pemandian air panas. Kita bisa healing dan menghilangkan penat dengan menikmati air panas. Gimana?"


"Mau banget," ucap Elina senang.


Sedangkan di FW COMPANY, Evan duduk termenung di atas kursi kebesarannya. Rencan yang telah dibuat matang-matang, kini tiada hasil. Hanya bencana yang datang padanya, pernikahan impian hancurlah sudah.


Sebuah ketukan menyadarkan Evan dari lamunannya. "Masuk!" teriaknya pada orang yang mengetuk pintu. Dia bahkan masih menundukkan kepala, begitu malas untuk menatap ke depan.


Pintu terbuka, lalu seorang wanita berjalan anggun menuju kursi di hadapan Evan. Dia mengamati wajah pria tampan yang sedang duduk termenung, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hanya lewat tatapan itu, dirinya tahu bahwa pria di hadapannya sedang bersedih.


Gak pernah dia sesedih ini. Apa ada masalah dalam rumah tangganya? batin orang tersebut.


"Tidak ada, Vania." Evan menggelengkan kepala, mengembalikan kesadarannya penuh. "Ada apa kamu ke sini?"


Vania menjelaskan apa tujuannya datang di hadapan Evan. Di awal penjelasan, pria itu sangat mendengarkan. Akan tetapi, lama-kelamaan pikirannya tidak fokus, lari dalam lamunan.


Vania menyadari akan hal itu. Dia menggoyangkan tangan Evan dengan lembut yang membuat pria itu tersentak kaget.

__ADS_1


"Pak Evan bisa cerita. Mungkin aku bisa membantu Anda," ucapnya dengan senyum begitu lembut.


Aduh, menyentuh tangannya aja, jantungku udah gak karuan, batin Vania. Dia segera menarik tangannya, tak ingin merasakan perasaan yang tak karuan lebih lama.


Evan pun terbuai dengan senyuman wanita tersebut hingga membawanya ikut tersenyum.


Dengan sedikit kata-kata lembut dari Vania, akhirnya Evan menceritakan semua masalah yang dihadapi.


"Pak Evan, hati wanita tak bisa dipaksa. Apalagi, kalau dia udah punya pujaan hati lain." Vania menatap Evan teduh.


"Kasihanilah diri Anda sendiri. Jangan terus menyakiti dengan mengejar orang yang tidak mencintai Anda," ujarnya lembut.


Perkataan Vania membuat dirinya berpikir sekali lagi. Dia merasa sungguh benar apa yang dikatakan wanita tersebut. Dengan begini, dirinyalah yang akan terus terluka.


"Lihatlah ke depan. Masih banyak yang mungkin bisa Anda miliki sepenuh hati," lanjut Vania.


Wanita tersebut merasa kasihan terhadap Evan. Tak seharusnya pria sebaik itu harus merasakan pahitnya sakit akan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Dirinyalah yang pantas mendapatkan hal itu karena mencintai orang yang tak seharusnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2