Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 55. Tak peduli


__ADS_3

Matahari tengah berada pada separuh perjalanannya hari ini. Tanpa tudung maupun aling-aling, membuat panas langsung menusuk ke bumi. Sang pusat tata surya seperti mengerahkan seluruh hawa panas yang ia punya, menjadikan siapapun tak dapat menghindarinya.


Begitu pula Evan, dia bahkan merasakan panas yang berlipat ganda, di luar maupun di dalam hatinya. Kini, pria tersebut tengah duduk termenung di balkon, menatap nanar rumah di depannya. Dia masih saja memikirkan perkataan Viona. Mencintai diri sendiri, apakah harus dengan melepaskan sang pujaan hati.


Namun, ada benarnya juga, selama masih bersama Elina, dia seperti tak merasakan kebahagiaan. Dirinya selalu saja menjaga perasaan sang istri tanpa mempedulikan perasaannya sendiri. Entah hingga diinjak-injak pun dia tak peduli.


Setelah berbincang sesaat dengan Viona saat itu, dirinya menyadari sebuah kenyataan bahwa dia juga butuh kebahagiaan.


"Baiklah, mulai sekarang aku gak akan lagi ganggu atau bahkan urusin urusannya. Terserah dia mau apa," gumamnya. Mata Evan memancarkan sebuah keyakinan.


Evan sudah mantap dengan keputusannya kali ini. Dia sudah lelah, hatinya tak sanggup lagi menahan rasa sakit hati atas ucapan dan perbuatan Elina. Baginya sudah cukup untuk merasakan itu semua.


"Tapi, aku gak bakalan ceraiin dia," ucapnya mantap.


"Enak aja." Evan tersenyum dengan mengangkat sebelah ujung bibirnya. "Aku juga gak bakalan rela kalau mereka nikah resmi."


Untuk yang satu ini, Evan benar-benar tak rela. Walapun Elina menggugat carai, dia tak akan menyetujui alasan itu. Berapapun biaya yang dikeluarkan, dia akan tetap menjaga pernikahan itu. Lebih tepatnya, tak membiarkan mereka berdua menikah secara resmi.

__ADS_1


Evan terus saja bergumam sendiri hingga sebuah panggilan menyadarkannya. Dia berjalan masuk ke dalam kamar, lalu mendekati nakas. Diraihnya benda pipih di atas sana, dia melihat siapa yang menelepon.


"Chandra," gumamnya dengan dahi mengerut, "tumben dia nelpon."


Evan segera menerima panggilan.


"Ada apa, Bro? Tumben telpon," tanya Evan ketika sudah terhubung.


"Hi, Bro. Kamu di mana?" tanya balik pria di seberang sana.


"Kenapa kamu di rumah? Gak ngikutin putri kecilmu?"


Chandra menyebut kata itu, membuat Evan menarik nafas panjang. Sebenarnya dia sudah ingin melupakan Elina, tetapi sang sahabat justru mengingatkannya.


Namun, ada segelitik pertanyaan, kenapa Chandra berkata seperti itu? Apa dia ngikutin Elina?


Evan segera menggelengkan kepala. Gak! Dia gak mungkin ngikutin Elina. Kayak gak ada kerjaan aja.

__ADS_1


"Aku tadi lihat dia di daerah Bukit Asri sama orang itu, loh," ucap Chandra sebelum Evan bertanya hal yang mengusik pikirannya.


Oh, ternyata Chandra melihat dia yang sedang jalan-jalan. Kirain hal serius apa. Itu, 'kan, tempat pemandian umum?


Tempat itu sangat ramai kalau akhir pekan. Apa yang bisa mereka lakukan. Ah, biarin aja, buat apa dipikirin. Evan mencoba mengacuhkannya.


Bukit Asri memang tempat yang sedang hits saat ini. Setiap harinya tak sepi pengunjung. Apalagi di hari Minggu seperti ini, hingga sudut tempat itu pun akan dipadati pengunjung.


Terutama para pengguna sosial media. Mereka akan berlomba-lomba mengambil gambar dengan spot terbaik di sana. Pengelola tempat itu telah menyediakan berbagai spot foto bagi mereka pecinta fotografi.


"Terus? Apa peduliku," ucap Evan.


"Oh, jadi sekarang kamu udah gak peduli sama dia?" tanya Chandra. Dia pun melanjutkan penjelasannya.


Setelah mendengarkan penjelasan Chandra, pria tersebut segera turun ke lantai bawah. Dia mencari kunci motor, lalu memakai helm. Segera digebernya kuda besi dengan kecepatan tinggi.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2