
Beberapa saat kemudian, lampu telah dimatikan, menandakan bahwa film akan segera diputar. Semua mata tertuju pada layar besar di depan sana. Elina sudah tidak sabar melihat aktor favoritnya melakonkan film tersebut.
Adegan demi adengan begitu sangat romantis. Elina hingga terhanyut dalam percintaan itu. Tanpa disadari, dia telah menggenggam tangan Alex yang duduk di sampingnya.
Saat adegan yang sedikit panas, Elina meremas tangan itu dengan kuat. Menyalurkan seluruh emosi di sana. Namun, saat pikirannya terbayang oleh David, dia baru sadar, lalu segera melepaskan tangan itu.
Elina sangat malu sekarang. Wanita itu yakin bahwa kini pria tersebut tengah menatapnya dengan wajah mengejek. Dia pun mencoba menyembunyikan wajah dengan mengedarkan pandangan ke arah lain.
Namun, apa yang didapat sungguh sangat mengejutkan. Beberapa pasang muda-mudi tengah menyatukan bibir mereka. Elina menelan salivanya dengan berat.
Andai ada David di sini, pasti aku juga akan seperti mereka, batin Elina dengan perasaan malu sendiri ketika membayangkan hal tersebut.
Ketika Elina hendak mengembalikan fokusnya pada layar besar, dia merasa melihat sosok yang sangat akrab baginya sedang menikmati bibir orang lain. Dia menyipitkan mata untuk mempertajam penglihatan. Ya, dalam keadaan seperti itu memang semua tampak kurang jelas karena hanya layar bioskoplah yang menjadi penerang.
Dada Elina seketika sesak setelah yakin dengan apa yang dilihat. Air mata terjun bebas dengan sendirinya. Ingin rasanya menghampiri orang tersebut, tetapi dia tahu tempat.
__ADS_1
Ini yang namanya ibu sakit? Apa kamu berbohong dengan ibu sakit? Makanya, kamu minta agar dikirim sebelum hari ini. Ini ternyata alasannya. Kamu hanya mau cari uang buat jalan sama dia, hah?
Banyak sekali argumen dan pertanyaan dalam benak Elina. Kini, dirinya tak lagi fokus pada film yang tengah berputar. Matanya terus saja menyaksikan adegan memilukan tersebut.
"El, kamu kenapa?" tanya Bunga dengan berbisik. "Kan gak adegan sedih."
Elina tak menjawab, bibirnya kelu menahan sakit yang teramat. Isakan pun mulai terdengar dari mulutnya.
Bunga segera mengikuti arah mata Elina setelah lelah menunggu jawaban yang tak kunjung ke luar. Matanya membulat seketika menyaksikan apa yang membuat sang sahabat menagis.
Bunga hanya merasa David memeras sang sang sahabat. Untuk itu dia berupaya untuk memisahkan mereka. Namun, dirinya tak percaya jika pria itu akan menusuk Elina dari belakang.
Bunga seketika memeluk tubuh Elina. Dia mencoba menenangkan sang sahabat. Dirinya segera menoleh ke arah Alex yang ternyata juga telah menatap ke arahnya. Pria itu pun mengangguk, seperti menjawab pertanyaan yang tak terucap.
Elina terus saja menangis hingga film hampir selesai. Dirinya menegapkan kepala kembali, lalu menarik nafas untuk mempersiapkan mentalnya.
__ADS_1
Aku gak boleh nangisin dia lagi. Gak ada gunanya, batin Elina dengan senyum getir di bibir.
Oke, aku akan lihat sampai mana kamu dengan dia. Aku juga akan membuktikan perkiraanku walau sakit.
Alex memberikan sapu tangan kepada Elina. Dia tahu betul apa yang dibutuhkan wanita tersebut. Benar sekali, sapu tangan itu segera digunakan untuk menghapus air mata di pipi.
Lagi-lagi Elina tersentak ketika mencium harum pada sapu tangan itu. Wangi yang sangat akrab dengannya. Aroma yang hanya tercium ketika berdekatan. Dia segera menoleh ke arah Alex.
"Ini?" Elina menunjukkan sapu tangan itu kepada Alex. Dia ingin tahu tentang wangi sapu tangan tersebut. Sebenarnya wanita itu juga penasaran dengan aroma parfum sang pria. Namun, mana mungkin dengan terang-terangan dia mendekatkan hidung ke arah pria itu.
Alex hanya mengangkat kedua bahunya. Dia tak mengerti dengan pertanyaan Elina. Lagi pula, dirinya juga tak mungkin menjawab pertanyaan itu.
Elena pun menggelengkan kepala, menyudahi kekonyolan pikirannya. Dia kembali fokus pada pria yang telah menyakiti hatinya.
Bersambung.
__ADS_1