
Gelap sudah berganti terang. Lampu dalam ruangan telah dinyalakan. Hal itu menandakan bahwa flim telah selesai. Namun, Elina masih duduk di tempat, menunggu pergerakan dari buruannya.
Target yang tak menyadari keberadaannya telah bergerak. Elina pun segera bangkit untuk mengikuti mereka. Sedangkan, Alex dan Bunga membiarkan apa yang wanita itu lakukan. Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan.
"Apa kamu merencanakan ini semua?" tanya Bunga berbisik pada Alex ketika mengikuti Elina.
Alex menganggukan kepala, senyum pun berkembang di balik masker walau Bunga tidak tahu. Dia begitu sangat puas melihat Elina yang sekarang. Wanita itu terlihat tegar dengan keadaannya. Hal itu menandakan bahwa cintanya kepada David telah pudar berganti kebencian.
Dari kejauhan Elina mengamati David yang tengah masuk ke dalam sebuah toko baju. Dia tidak ingin mencuri perhatian sehingga pria tersebut mengetahui keberadaannya. Sekarang, dirinya fokus dengan apa saja yang diambil oleh wanita yang bersama sang kekasih.
Wow, baju mahal. Gak heran kalau dia minta uang banyak sama aku. Ternyata buat oprasi ibu yang satu ini, batin Elina.
Wajah kekecewaan sungguh terlihat dengan seringai di sana. Namun, dirinya tidak ingin terburu mengambil kesimpulan itu. Dia akan menunggu hingga semua itu terbukti.
"Elin. Sampai kapan kamu mau ngikutuin dia?" tanya Bunga berbisik.
Kini kaki bunga sudah merasa pegal karena pengintaian selama hampir satu jam itu. Dia berharap Elina segera mengambil tindakan agar mereka dapat pergi dari sini.
"Kamu boleh pergi jauh dari sini dan duduk sesukamu," ucap Elina. Nada bicaranya sungguh tidak enak didengar.
Bunga pun mumutar bola mata mendengar ucapan Elina. Akan tetapi, dia memaklumi hal tersebut. Ini juga salahnya bertanya di waktu yang tidak tepat.
__ADS_1
"Aku capek. Aku pergi dulu," pamitnya kepada Alex. Dia berencana akan pergi ke tempat parkir untuk menunggu kabar selanjutnya.
Alex hanya menganggukan kepala, mengijinkan Bunga untuk pergi. Peran wanita tersebut telah usai. Kini, dirinya masih menemani Elina memperhatikan David.
Tak lama kemudian, David menuju kasir. Saat-saat yang ditunggu Elina telah tiba. Perhitungan total belanjaan dimulai. Dirinya tahu, pasti tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk membayar semua belanjaan itu.
Mata Elina terbuka lebar ketika David membuka dompet, lalu menyodorkan sebuah kartu kepada kasir. Tentu saja hal tersebut membuktikan dugaannya. Dia segera ke luar dari persembunyian, lalu segera menghampiri kedua orang tersebut.
"Katanya gak punya uang. Buat bayar itu semua bisa. Dasar!" gerutu Elina.
Deru nafas Elina memburu. Emosinya pun telah mencapai puncak. Dia segera menarik lengan David supaya tubuh pria itu membalik. Tangannya terhempas kuat ke arah pipi David.
"Elina!" pekik David. Dia sangat terkejut akan kehadiran wanita tersebut. Dirinya menarik tubuh Elina supaya menjauh dari wanita itu. "Kamu kenapa?"
"Bren9sek!" maki Elina. Satu kata mengungkapkan semua isi hati Elina.
"Biar aku jelaskan dulu. Dia saudaraku yang baru aja datang dari luar kota dan aku hanya nemenin dia belanja, kok."
Elina menarik sebelah ujung bibirnya. Tentu saja dirinya tidak percaya perkataan David. Semua telah dia lihat dengan mata kepala sendiri.
"Sayang, siapa dia?" tanya wanita yang bersama David. Dia tiba-tiba datang, lalu merangkul lengan sang pria. Matanya memicing, mengekspresikan rasa tidak suka.
__ADS_1
David gelagapan ketika kata "Sayang" ke luar dari mulut wanita itu. Dia takut jika Elina mendengarnya dan marah akan hal itu. Namun, itu tak terjadi, wanita itu hanya terlihat menarik ujung sebelah bibirnya.
David begitu berat menelan salivanya karena ekspresi wajah Elina. Dia juga bingung untuk menjelaskan semuanya kepada wanita di sampingnya. Dia tak tahu harus berkata apa karena ada dua orang yang bersatus kekasih di sana.
Dengan menyadari hal tersebut, Elina merasa bahwa David tidak mau melepaskan wanita itu. Satu hal lagi yang membuatnya sakit, pria itu membayar semua belanjaan sang wanita. Sedangakan ketika bersamanya, dia membayar sendiri.
Satu kenyataan yang sangat pahit bagi Elina. Dia merasa dimanfaatkan selama ini. Padahal, dirinya begitu tulus mencintai David.
"Ya udah. Selamat bersenang-senang. Aku gak akan ganggu kalian ketika nonton seperti tadi, kok."
Ucapan Elina membuat David semakin membeku. Dia menyadari bahwa wanita tersebut telah mengikutinya sejak di dalam bioskop.
Jadi, dia melihatku. Kenapa aku gak lihat dia? David sungguh merasa bodoh.
Elina pun segera pergi, tak ingin melanjutkan semuanya. Tidak ada gunanya juga jika ribut hanya untuk pria seperti itu. Dadanya pun sudah sesak, tak ingin melihat sepasang orang yang tak tahu diri.
Asetku, batinnya menyesal. Dia merasa terlalu ceroboh.
David menatap kepergian Elina. Tak ada sedikit niat pun untuk mengejar sang kekasih. Pria itu lebih mementingkan untuk menenangkan wanita di sampingnya yang terus saja meminta penjelasan.
Bersambung.
__ADS_1