Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 11. Rencana Evan


__ADS_3

"Huft." Evan menjatuhkan beban tubuhnya ke atas sofa di ruang orang nomor satu di perusahaannya. Dia merasa lelah setelah seharian penuh kemarin berputar-putar. Apa lagi, Elina waktu itu membuat ulah.


"Kenapa kamu? Datang-datang kayak orang kecapekan. Apa udah malam pertama?" Chandra—bos sekaligus teman kuliah David menatap pria itu heran.


"Enak aja. Kalau udah dibobol, nanti malam pertamanya gak spesial, dong," elak David.


"Nasi goreng kali, spesial. Lalu, kamu kenapa?"


"Capek banget kemarin habis fitting baju. Mana harus berkali-kali cobain baju lagi," keluh Evan.


Itulah ulah Elina. Wanita itu mengatakan bahwa baju yang dicoba Evan tidak baguslah, tidak kerenlah, bahkan dibilang kampungan. Jadi, pria itu harus bolak-balik kamar ganti untuk mencoba baju.


Evan tidak mau menolak karena saat ini kebahgiaan Elina adalah yang utama. Dia akan melakukan apa pun untuk wanita yang akan dinikahi. Itulah cara dia untuk mendapatkan hati sang pujaan hati. Namun, pada akhirnya, baju pertamalah yang menjadi pilihan wanita itu.


"Wah, repot juga, ya, kalau mau nikah. Jadi pikir-pikir, nih." Chandra mengetuk dagu dengan jari telunjuknya.


"Kalau kamu mau nikah, tapi gak mau rewel. Tuh, nikah sama Bu tika," usul Evan. Dia menaik turunkan alisnya.


“Si janda ganjen itu? Bisa-bisa nanti saat aku masukin, kulitnya ikut masuk keluar semua.”


 


Mereka tertawa bersama. Pikiran dua orang dewasa itu sungguh sangat absurd. Seperti pria dewasa pada umumnya.


 


“Tuan membicarakan aku?” Tiba-tiba wanita paruh baya itu sudah ada di dalam ruangan. Dengan gaya malu-malu, wanita itu berdiri di hadapan dua pria gagah itu.


 


“Eh! Kapan kamu masuk?” tanya Chandra tercengang. Dia tidak menyadari jika sang sekretaris sudah berdiri di hadapannya. Seperti hantu saja yang tiba-tiba muncul tanpa diundang.


 


“Baru saja, Tuan. Saat Tuan tertawa tadi,” jelas Tika. Wanita itu masih sempat mengerlingkan mata.


 


Melihat apa yang dilakukan wanita paruh baya di hadapannya, Evan seketika bergidik ngeri. Dia takut jika tiba-tiba diterkam oleh wanita itu.


 

__ADS_1


“Kenapa tidak ketuk pintu dulu?” Chandra melayangkan tatapan mata tidak suka kepada wanita itu.


 


“Maaf, Tuan. Tadi saya sudah ketuk pintu. Mungkin, Tuan tidak mendengarnya,” jelas Tika.


 


“Ya sudah, lain kali walaupun sudah ketuk pintu, kamu tidak boleh masuk sebelum aku suruh,” perintah Chandra.


 


“Baik, Tuan,” ucap Tika dengan senyum menggoda.


 


Kedua pria yang berada di ruangan itu seketika membuang muka. Mereka merasa mual melihat kelakuan wanita ganjen itu. Sungguh seperti tidak mengenal usia.


 


“Cepat, katakan! Ada apa? Jangan menggoda lagi!” Suara Chandra sangat tegas, seperti pemimpin perusahaan pada umumnya.


 


 


Tika membacakan semua agenda dengan serius. Tidak menggoda seperti tadi. Dia juga tahu kapan saatnya bercanda dan kapan saatnya serius. Semua jadwal sang CEO dibacakannya.


 


“Baiklah, Tuan. Jika jadwal tidak ada perubahan, saya akan menyampaikan kepada mereka. Saya undur diri dulu.” Tika membalikkan badan, lalu segera meninggalkan ruangan itu.


 


Kedua pria saling memandang. Kedua pasang mata itu seperti saling bercakap. Sedetik kemudian, mereka tertawa bersama.


 


"Memang sekretaris yang aneh," ucap Chandra saat tawanya berhenti.


 

__ADS_1


“Kenapa, sih, kamu mempertahankan wanita genit itu?” tanya Evan. Dia tidak mengerti apa yang dipikirkan sahabatnya sehingga mempertahankan wanita seperti itu sebagai sekretarisnya.


 


“Walaupun dia genit, tapi kinerjanya sangat bagus. Kamu juga bisa lihat sendiri, ‘kan?”


Evan hanya menganggukkan kepala, menanggapi ucapan Chandra. “Lagi pula, dia itu warisan peninggalan papa,” lanjutnya.


 


“Benar juga. Memang antik peninggalan papamu.” Tawa menggelegar dari mulut Evan. Chandra pun tak mau ketinggalan.


 


“Oh, ya. Gimana persiapan nikahmu? Udah selesai semua?” tanya Chandra setelah tawa mereka reda.


 


“Sepertinya udah,” jawab Evan singkat.


 


“Baguslah." Chandra menganggukan kepala. "Mau minta cuti berapa hari buat bobol apem?” tanya Chandra.


 


“Gak lama, ngikut cutinya Elina aja.”


"Kalau kantor sih, biasanya tiga hari. Tapi, apa kamu cukup buat honeymoon?"


"Gak ada honeymoon," jawab Evan mantap.


Dia yakin bahwa setelah menikah, pasti tidak ada acara bulan madu. Elina pasti akan menolak juga untuk satu hal itu. Walaupun sesungguhnya, Evan belum menanyakan tentang hal tersebut kepada calon istrinya.


 


“Kenapa gak ada? Sayang banget. Kalau begitu, mungkin dia juga akan nolak kamu saat malam pertama, lagi." Chandra menyipitkan kedua matanya. Dia merasa curiga dengan calon istri Evan.


Bagaimana tidak. Selama mendengar cerita Evan, wanita itu bahkan tidak mau dipegang tangannya. Apa lagi nanti saat malam pertama, Elina pasti juga tidak mau disentuh oleh suaminya. Chandra juga menyimpulkan bahwa Elina seorang wanita yang keras kepala.


 

__ADS_1


"Tidak! Itu tidak akan terjadi. Aku punya satu cara untuk menanganinya." Senyum seringai tampak di wajah Evan.


Bersambung.


__ADS_2