
Bab sebelumnya telah diedit. Dimohon untuk membacanya lebih dahulu agar nyambung dengan cerita di bab ini.
Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. 🙏
...♡♡♡♡♡...
Mata Evan merah, semerah tanda di leher Elina. Amarahnya memuncak. Dia mengedarkan mata, mencari keberadaan yang telah membawa sang istri ke sana.
Kalimat yang beberapa jam lalu dia ucapkan untuk dirinya sendiri pun sudah dilupakan. Kalimat yang menyatakan tidak akan mengganggu kehidupan Elina, semua lenyap seketika terbakar emosi.
Ternyata, memang lebih mudah berucap daripada merealisasikan ucapan itu sendiri. Untuk itu, banyak orang yang hanya bisa berbicara dengan nol tindakan. Hanya bisa menasehati tanpa bisa melakukannya sendiri.
"Apa kamu mencariku?" tanya seseorang yang tiba-tiba berdiri di bibir pintu.
Evan segera menoleh ke arah sumber suara. Ternyata, orang yang dia cari telah menampakkan batang hidungnya. Dia tak perlu repot-repot mencari lagi.
__ADS_1
"Hei, apa yang kamu lakukan pada Elina?" tanya Evan. Suaranya menggelegar hingga ke luar kamar. Dia pun segera berjalan mendekati David.
"Aku hanya memberi kenikmatan yang dia inginkan dariku." David menujuk Elina dengan dagu. Dia begitu santai menjawab pertanyaan Evan. Senyum pun gampak di wajahnya.
Hati Evan pun semakin panas. Bisa-bisanya pria itu berbicara dengan nada santai setelah melakukan hal yang tak pantas Elina. Dia segera mengepalkan tangan, lalu diarahkan ke pipi kiri David.
Satu bogeman telak diterima oleh David yang membuat pria itu sedikit meringis. Darah segar merembas dari sela-sela bibirnya. Namun, dia tetap diam, tidak melakukan perlawanan.
Kedua ujung bibir David terangkat. Dia tahu bahwa Elina akan membuat sebuah aksi pembelaan untuknya. Kini, dirinya melihat wanita itu dengan tergesa menghampiri mereka.
Elina segera mendorong Evan membuat cengkraman tangan pria itu terlepas. Tangannya terangkat, lalu beradu dengan pipi sang suami sangat keras. Kebas pun tak dihiraukan karena rasa marah telah menyelimuti hatinya.
Beberapa petugas berkumpul untuk menyaksikan keributan yang terjadi. Akan tetapi, tak ada apa pun yang bisa mereka lakukan. Orang-orang tersebut hanya menyaksikan dan membuat argumen diantara mereka sendiri.
Elina pun yang masih hanya mengenakan handuk tak mempedulikan kehadiran beberapa orang di luar sana. Dia hanya fokus pada pertikaian kedua pria di hadapannya.
__ADS_1
"Elina, aku mohon, sadar, El. Kamu itu masih istriku," ucap Evan penuh iba. Dia mencoba mengingatkan status mereka berdua kepada sang istri.
"Aku sudah berkali-kali bilang sama Mas Evan, buat ceraiin aku. Aku udah bosan kamu selalu pakai kata itu. Aku gak suka kamu, Mas!" bentak Elina.
Evan segera meraih tangan Elina. Matanya menatap sang istri dengan sayu. Dia mencoba memberitahu dengan tatapan itu bahwa dirinya tak rela kehilangan wanita tersebut.
"Kumohon, jangan katakan itu terus, El. Aku gak akan pernah ceraiin kamu sampai kapan pun."
Tiba-tiba tubuh Evan terdorong ke belakang. Genggaman tangan pria itu pun terlepas seiring mundurnya tubuh. Di hadapannya dia melihat tubuh sang istri yang perlahan di peluk pria lain dari belakang.
"Sudahlah. Elina aja gak mau sama kamu. Mendingan kamu pergi aja!" usir David dengan nada mengolok.
Sesungguhnya, Evan ingin sekali menghajar pria tersebut. Namun, dia tak bisa melakukannya karena Elina menatap dirinya tajam, terlebih lagi pria tersebut juga berdiri di belakang sang istri. Dirinya pun menarik nafas lanjang, lalu menghembusakannya perlahan untuk sedikit meredakan emosi.
"Baiklah. Tapi, aku pasti akan buat perhitungan!" Evan mengarahkan telunjuknya kepada David. Matanya memancarkan kebencian yang teramat dalam.
__ADS_1
Evan pun melangkah ke luar kamar. Dia tak ingin menjadi bahan ejekan oleh David dan Elina di hadapan banyak orang di luar sana. Dirinya juga tidak ingin martabatnya tercemar gara-gara hal tersebut.
Bersambung.