
"Elin, bangun!"
Teriakan dan gedoran pintu seketika membuat mata Elina terbuka sayu. Bagaikan diberi lem, matanya enggan terbuka. Kesadarannya pun belum seutuhnya kembali.
Semalam, Elina tak kunjung tertidur. Dirinya masih saja membayangkan kebersamaan dengan sang kekasih. Tak terhingga pula berapa kali dia menyentuh bibir seraya tersenyum. Sungguh pengalaman pertama yang sangat menyenangkan.
Elina menggosok perlahan matanya supaya lem itu lekas menghilang. Beberapa kali dia mengerjap, lalu meraih ponsel di atas meja samping ranjang. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.30 .
"Aduh, dah siang. Bisa telat aku!"
Bagai dikejar anjing, wanita itu segera ke luar kamar. Diyah yang masih berdiri di depan pintu, begitu saja dilewati dengan mendorong pelan tubuh sang ibu untuk memeberikannya jalan. Dia pun segera masuk ke dalam kamar mandi.
Tak membutuhkan waktu yang lama, hanya 5 menit, Elina sudah ke luar dari kamar mandi. Dia bergegas masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Blouse tanpa kerah pun dipilihnya karena tidak perlu susah payah untuk mengancingkan.
Saat memoles wajahnya di depan cermin, Elina baru menyadari sesuatu. Dia memiringkan kepala untuk memperjelas apa yang dilihat. Tanda merah tercetak jelas di leher.
"Aduh, gimana, nih, ngilanginnya? Udah mepet lagi," keluh Elina.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian dia kembali mengobrak-abrik isi lemari. Wanita itu mencari baju yang sekiranya dapat menutupi tanda tersebut.
Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya dia menemukan yang dicari. Ya, baju tersebut adalah sweater, jadi tidak cocok untuk musim panas seperti saat ini. Namun, mau bagaimana lagi. Daripada malu, lebih baik nekat saja.
Waktu pun tak mau menunggu Elina, gara-gara memilih baju. Dia sarapan sekedarnya, lalu segera berpamitan kepada Diyah dan Verry.
Seperti biasanya, Elina akan menuntun, lalu mengenakan helm di jalan depan rumahnya. Setelah semua dirasa tidak ada yang terlupakan, dia pun melajukan motor menuju tempat kerja.
***
"Heh, kamu sakit?" tanya bunga tiba-tiba saat melihat Elina masuk ruangan.
"Ti-tidak." Namun, dia tak berhasil. Hanya kata itu yang mampu terucap.
Elina kembali berjalan menuju kursi kerjanya. Dia menaruh tas ke atas meja, lalu dengan perasaan malu menoleh ke arah Bunga. Dirinya sadar betul bahwa mata sang sahabat telah mengikutinya sejak tadi. Wanita itu pun mencoba tersenyum walau bibirnya terasa kaku.
Ya, Elina malu karena tanda merah itu. Walaupun Bunga belum tahu tentang hal tersebut, tetapi entah kenapa perasaan itu muncul. Jantung pun berdetak kencang, berusaha bersiap-siap menerima apa yang dikatakan sahabatnya jika tahu.
__ADS_1
"Terus, kenapa pakai ini?" Bunga menggoyangkan ujung lengan sweater yang dikenakan Elina.
"Pengen aja. Udah lama gak kepakai, sayang, 'kan?" Elina hanya dapat memberi alasan seadanya.
Tentu saja alasan tersebut tak dapat menyenangkan hati Bunga. Dia pun memberi sebuah pernyataan bahwa saat ini musim panas. Sebab itu, tentu saja sangat tidak cocok mengenakan pakaian tersebut.
"Terserah aku, dong," ucap Elina. Dia tak tahu harus memberi alasan apa lagi.
Dengan ucapan Elina tersebut, Bunga pun tak ingin mencari tahu lebih. Terserah sang sahabat saja dengan apa yang dilakukannya. Dia tak ingin mengambil pusing. Kemudian, mereka segera bekerja dan sibuk dengan tugas masing-masing.
Matahari kini sudah dalam separuh perjalanan. Hal tersebut membuat panasnya benar-benar terasa. Apalagi, ia bebas memancarkan sinarnya tanpa ada awan yang menghadang.
Elina begitu tampak gelisah. Beberapa kali dia melonggarkan kerah sweater. Cuaca hari ini sangat membuatnya tidak nyaman. Ingin sekali melepas pakain terluar tersebut, tetapi itu tidak mungkin.
Tiba-tiba ada tangan yang menyibakkan kerah sweater Elina. Dia pun segera menoleh dengan mata membulat sempurna.
"Ternyata ini yang kamu sembunyiin dariku," ucap Bunga dengan seringai di wajahnya.
__ADS_1
Bersambung.