
Sebuah pemandangan yang sangat menyenangkan bagi Alex. Dia tersenyum puas melihat semua kejadian itu. Akhirnya, terbongkar sudah keburukan David selama ini. Dia berharap, kedepannya akan menjadi lebih baik.
Alex segera berlari untuk mengejar Elina. Sesampainya di tempat parkir, pria itu segera manarik lengan sang wanita supaya berhenti. Namun, wanita itu berusaha melepaskan diri karena dikira adalah David.
Air mata sudah tumpah ruah membasahi pipi sejak dia mulai berjalan meninggalkan David. Elina sudah tak dapat menahannya lagi. Kenyataan pahit sudah menusuk hatinya, menjadikan hati itu hancur berkeping-keping.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Elina tanpa menoleh.
Namun, pria itu tidak menjawab pertanyaan Elina. Dia justru menarik tubuh Elina dengan kuat sehingga masuk ke dalam dekapannya.
Elina memejamkan mata ketika jatuh ke dalam pelukan. Dirinya tak ingin memandang pria tersebut. Akan tetapi, ketika ingin berontak, Elina sadar akan sesuatu. Aroma tubuh orang itu, bukan aroma David. Dia sangat akrab dengan wanginya, seperti wangi tubuh Evan.
"Ini!" Elina segera membuka mata. Namun, yang dia dapati adalah hoodie yang dikenakan Alex. Ya, dirinya ingat betul itu.
Kenapa wangi Alex seperti dia? tanya Elina dalam batin.
Walaupun Elina tahu bahwa Alex adalah pacar Bunga, tetapi dia tidak ingin melepaskan pelukan itu. Dirinya telah terhanyut oleh wangi tubuh pria tersebut. Aroma maskulin membuatnya sedikit lebih tenang.
Elina menyandarkan kepala di dada bidang Alex. Begitu tenang dan santai, walaupun suara isakan masih terdengar beberapa kali. Namun, kini dirinya sudah lebih baik.
__ADS_1
"Udah, nangisnya?"
Suara berat mengejutkan Elina. Bukan karena karena pertanyaan itu, tetapi dia sangat paham betul dengan suara tersebut. Wanita itu pun segera melepaskan pelukannya. Dia menatap tajam sang pria seraya menghapus air mata yang tersisa.
Tahu apa maksud dari tatapan Elina, Alex pun segera membuka topi hoodie, lalu maskernya. Wanita itu semakin terkejut setelah tampak jelas wajah sang pria. Ya, ternyata pria itu adalah Evan—suaminya.
"Kamu!" Elina menunjuk ke arah Evan dengan emosi yang meningkat. "Kamu yang rencanain ini semua, hah?"
Evan menganggukkan kepala mantap. Dia mengakui bahwa membawa Elina nonton ke sana adalah rencananya. Dia ingin menunjukkan kebusukan David kepada wanita tersebut, dan ternyata berhasil.
"Semua demi kebaikanmu, El," jelas Evan. "Sekarang kamu udah tahu gimana sifat pria itu, 'kan?"
"Sungguh, aku gak butuh itu. Kenapa kamu selalu aja ikut campur urusanku? Kamu sama aja kayak dia, ngelakuin apa aja buat kepentinganmu sendiri!"
"El, bagai ...?" Bunga tidak melanjutkan pertanyaannya karena Elina begitu saja berlalu pergi. Dia pun segera menghampiri Evan untuk bertanya apa yang terjadi.
Di sana Bunga menemukan Evan telah membuka penyamarannya. Kini, dirinya sedikit mengerti dengan situasi yang sedang terjadi. Penyamaran pria itu telah diketahui oleh Elena.
"Mas Evan, gimana ini?" tanya Bunga bingung. "Kamu gak kejar dia?"
__ADS_1
"Biarkan dia menenangkan diri dulu. Besok aku akan ke rumahnya."
...***...
Jalanan malam sungguh tampak kosong. Berbanding terbalik dengan pikiran Elina. Kejadian yang baru saja dia alami terus saja berputar-putar dalam pikiran. Dirinya sungguh tidak mempercayai semua ini. Pria yang selama ini begitu dipercaya, ternyata telah menikamnya dari belakang.
Sakit, namun tak berdarah. Itulah yang dirasakan Elina. Entah, obat apa yang mampu mengobati luka itu. Semakin dipikir, maka akan semakin sakit dirasa.
Oh, Tuhan. Apakah ini adalah sebuah karma-Mu? Kalau memang benar, maka aku kan menerima ini semua dengan lapang dada.
Elina kembali meneteskan air mata. Tanpa sadar, dia telah memacu motornya dalam kecepatan tinggi. Walaupun telah memasuki gang kompleknya, tidak sedikit pun dia mengurangi kecepatan.
Ketika melewati polisi tidur, Elina goyah, tak dapat mempertahankan keseimbangannya. Tubrukan keras antara wanita itu dengan aspal pun tak terelakan. Bahkan, tubuhnya terseret beberapa meter, lalu terhenti ketika membentur trotoar.
Dalam samar, Elina melihat dua orang mendekat ke arahnya. Mereka adalah preman waktu itu. Dirinya paham betul dengan perawakan kedua orang tersebut.
"Mas Evan, tolong aku! Aku gak mau dinodai oleh mereka," ceracau Elina diambang kesadarannya.
"Aku berjanji jika Mas Evan menolongku, akan kuturuti semua permintaanmu."
__ADS_1
Itulah kalimat terakhir sebelum Elina masuk dalam kegelapan. Kesadarannya benar-benar telah hilang.
Bersambung.