
Kecemas tiba-tiba muncul di wajah Elina. Dirinya merasa tak pantas lagi untuk bersama Evan. Dia mendongakkan kepala, menatap wajah sang suami yang tengah memejamkan mata.
Merasakan adanya pergerakan, Evan membuka mata. Dia menundukkan kepala untuk menatap wajah Elina. Dirinya sedikit bingung dengan apa yang diperlihatkan oleh wajah wanita itu.
"Kenapa?" tanya Evan lembut.
"Mas Evan, aku ...." Elina ragu untuk mengatakannya. Dia menundukkan kepala, memikirkan kembali apa yang ingin diucapkan.
Evan meraih dagu Elina, mendongakkan wajah wanita itu supaya menatap ke arahnya. Dia mengangkat kedua alis dengan maksud supaya Elina melanjutkan perkataannya. Namun, wanita itu masih diam.
"Ayo, katakanlah!"
"Maaf." Hanya itu yang mampu Elina katakan. Dirinya sangat malu untuk membuka lagi ingatan ketika di hotel. Dia takut jika Evan marah dan tidak terima.
"Untuk apa?" tanya Evan. Dia sesungguhnya tak pernah menyimpan kebencian kepada Elina. Semua yang dilakukan wanita itu sudah dilupakan.
"Saat di hotel bersama dia waktu itu sebenarnya ...."
Evan segera meletakkan jari telunjuk di bibir Elina. Pria itu tak ingin sang istri melanjutkan ucapannya. Semua itu hanya akan mengingatkan kembali dirinya pada sosok yang sangat dia benci. Dirinya menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti apa yang akan dikatakan wanita itu.
Keduanya saling menatap. Dua pasang bola mata bertemu, menggambarkan sebuah cinta yang mengikis jarak. Sampai akhirnya dua bibir menyatu, menyalurkan rasa sayang.
Terdengar gaduh sekali. Benturan antar gigi pun tak terelakan. Dua insan yang tak berpengalaman saling meringis ketika gigi salah satu dari mereka tak sengaja mencepit bibir yang lain. Namun, semua itu tak mengurangi rasa di dalam hati.
__ADS_1
"Hei! Kalian ngapain?" tanya Bunga berteriak.
Kedua insan yang sedang dibuai asmara pun segera melepaskan penyatuan mereka. Sungguh tak ada yang menyadari ketika pintu dibuka. Satu fokus mereka, perasaan yang memuncak di dalam sana.
Elina dan Evan membenarkan posisi duduk. Keadaan pun seketika menjadi canggung. Elina menundukkan kepala, sedangkan Evan segera ke luar dari kamar untuk melarikan diri.
"Untung aku yang datang. Coba, gimana kalau tadi ada perawat yang masuk?" Bunga terus saja mengomel seraya berjalan menuju nakas. Dia meletakkan sebuah kantong plastik di sana.
Elina hanya diam, tidak menanggapi omelan Bunga. Kepergok begitu sudah sangat malu, bagaimana mau membela diri.
"El, gimana tadi bisa terjadi?" tanya Bunga ketika telah duduk di brankar Elina. Dia sangat penasaran kenapa sahabatnya bisa berc1uman dengan Evan.
Elina mengangkat kedua bahu. Dirinya juga tidak tahu. Hal itu terjadi begitu saja tanpa ada yang meminta maupun menyuruh.
Lagi-lagi Elina tak mengeluarkan suaranya. Hanya seulas senyum yang dia tampilkan di wajahnya. Bibirnya pun dilipat ke dalam sedikit.
"Jangan bilang kalau kamu sebenarnya suka sama dia."
Bunga tak berkedip hanya untuk menunggu pernyataan Elina. Namun, yang ditunggu tetap diam membisu.
"El, kok diam terus sih. Ngomong, dong." Bunga merasa kesal karena Elina terus saja diam.
"Kamu, 'kan, bisa lihat sendiri tadi? Masak aku harus jawab pertanyaanmu itu."
__ADS_1
Alih-alih menjawab, kini justru Elina yang kesal. Bagaimana tidak, baru saja kepergok kini malah Bunga menjejalinga dengan pertanyaan seperti itu. Pastilah bertambah malunya.
Kali ini Elina sungguh tak dapat mengungkapkan kata cinta. Baginya cukup dengan apa yang dilakukan untuk mengekspresikan cinta itu.
"Ih, kok, malah sewot sih."
Mulai terjadilah perang kata di antara ke dua wanita tersebut. Begitulah sahabat karib, mereka akan bertengkar, tetapi tidak ada yang membenci. Pertengkaran mereka berhenti ketika Evan masuk kembali bersama Verry dan Diyah.
Diyah segera menghampiri sang anak dan memberondong berbagai pertanyaan. Elina pun sedikit kesal karena acara mandinya tertunda. Padahal, gatal sudah merambah ke seluruh bagian tubuh. Ibunya juga tahu kalau dia belum mandi sebab sang ibu baru membawakan baju.
"Tanyanya nanti aja, Bu. Bantu aku mandi dulu," ucap Elina.
"Oh iya, kamu belum mandi. Makanya, ada bau agak asam-asam gitu." Diyah menutup hidung walau sesungguhnya apa yang dia ucapkan tidak benar.
"Ibu, apaan sih? Buruan bantuin mandi!" Elina merengek bagai anak kecil.
"Bunga, Ayah, ayo ke luar dulu!" perintah Diyah. Dia menggiring kedua orang itu ke luar pintu.
Evan pun heran, kenapa dirinya tidak disuruh ke luar juga. Dia pun berinisiatif sendiri untuk pergi. Namun, ketika sampai di depan pintu, Diyah mendorongnya agar tetap di dalam.
"Kamu yang bantu mandiin Elina," bisik Diyah. Dia segera menutup pintu rapat-rapat.
Evan terpaku mendengar bisikan sang ibu. Bagaimana dirinya bisa membantu Elina mandi. Sungguh tak pernah terpikirkan olehnya.
__ADS_1
Bersambung.