
Cinta selalu membenarkan apa pun, bahkan yang salah sekali pun akan benar di mata yang sedang mabuk oleh cinta. Tanpa tanggung-tanggung mereka akan rela berkorban demi mendapatkan cinta. Nyawa pun rela diserahkan.
Mungkin, seperti itulah cinta Elina kepada David. Tak peduli lelah setelah bekerja, dirinya tetap mau menemui sang kekasih. Kini dia menuju ke sebuah pusat perbelanjaan. Mereka sudah mengadakan janji untuk bertemu di restoran ayam goreng ternama.
Setibanya di sana, Elina segera memasuki pusat perbelanjaan itu, lalu mencari keberadaan sang kekasih. David sudah menunggu di salah satu meja dalam restoran yang telah disepakati. Akan tetapi, wanita tersebut melihat sebuah pemandangan yang berbeda.
David begitu gampak sedih sekarang. Wajahnya senantiasa menunduk, seperti sedang banyak pikiran. Elina pun seketika khawatir, dengan berjalan cepat dirinya menghampiri sang kekasih.
"Kenapa, Sayang?" Elina duduk di samping David, lalu membelai lembut lengan pria tersebut.
"Ibuku sakit kanker payudara, El. Dia masuk rumah sakit dan harus operasi. Sedangkan untuk biaya operasi masih kurang sedikit," ucap David lirih.
Seketika hati Elina turut merasa sedih. Sepengetahuannya dari David, dia sedikit paham tentang keluarga sang kekasih seperti apa. Walau sang ayah adalah supervisor di sebuah perusahaan mebel, tetapi untuk membiayai kuliah sang anak saja udah pas-pasan. Sementara itu, biaya operasi pasti mahal.
"Apa gak punya asuransi kesehatan?"
"Punya, tapi mereka gak bisa cover operasi ibu. Gak tahu kenapa? Ayah udah berupaya, tapi mereka tetap aja nolak," jelas David.
"Aku bahkan udah jual hp yang baru aku beli kemarin. Untung aja hp ini bisa baik lagi." David menunjukkan ponsel pemberia Elina yang lama.
__ADS_1
"Oh, begitu, ya." Elina menganggukkan kepala.
Dia udah jual hp barunya. Padahal aku belum pernah lihat. Kasihan banget kamu, Vid, batin Elina. Hatinya merasa sangat tersentuh.
"Baiklah. Aku bisa bantu kamu. Berapa kurangnya?"
"Gak usah, El. Masak aku ngrepotin kamu terus," tolak David.
"Gak apa-apa, gak usah sungkan. Ibu kamu, 'kan, nantinya juga ibuku? Aku juga senang kalau ibumu sembuh." Elina tersenyum, mencoba meyakinkan kekasihnya.
David masih saja diam, belum juga memberi tanggapan akan ucapan Elina. Dia seperti sedang berpikir seraya memejamkan mata.
"Kenapa mikirin ngembaliin uangnya. Yang penting, 'kan, ibumu sembuh?" Elina tersenyum sangat manis. Dia mencoba menghibur sang kekasih supaya tidak terlalu sedih dan memikirkan kekurangan biaya operasi.
David hanya menganggukkan kepala pelan. Dia menatap Elina, lalu ikut tersenyum.
"Berapa uang yang kamu butuhkan?"
"Cuma 10 juta, Sayang," ucap David singkat. Namun, mampu membuat mata Elina membulat sempurna.
__ADS_1
Bagaimana tidak. Yang ada dalam pikirannya tentang sedikit itu cuma 1 atau 2 juta, tetapi ternyata 10 juta. Dia tidak punya uang sebanyak itu. Apalagi hampir 2 bulan yang lalu uangnya telah diberikan kepada David buat beli ponsel.
"Kenapa, Sayang?" tanya David setelah melihat ekspresi Elina. "Kamu gak bisa?"
"Bu-bukan gak bisa. Ta-tapi kalau sekarang aku belum punya."
David seketika menundukkan kepala. Raut wajah sedihnya muncul kembali.
"Tapi, jangan sedih dulu, Sayang. Dua minggu lagi aku gajian. Nanti aku pinjamin uang ke Bunga. Gimana?" tanya Elina atas usulnya.
Mendengar ucapan Elina, David masih saja menampilkan wajah muramnya.
"Kelamaan, Sayang. Dokter menyarankan agar operasi dilakukan minggu depan. Jadi, aku harus dapat uang sebelum hari itu."
Tiba-tiba David mengangkat wajahnya. Dia memandang wajah Elina dengan sedikit senyum.
"Apa kamu masih pegang kartu dari suamimu?"
Bersambung.
__ADS_1