
Mentari pagi menampakkan diri di ufuk timur. Sinarnya menerobos masuk hingga menyilaukan mata Elina. Perlahan wanita itu membuka mata untuk menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar.
Elina merasakan perutnya terasa berat, seperti ada sesuatu yang menimpa. Wanita itu segera melihat ke arah bawah, betapa terkejutnya ketika melihat sebuah tangan melingkar di sana.
Bodohnya aku, kenapa semalam tidur duluan, batin Elina. Dia menghembuskan nafas kesal.
Elina menoleh ke samping, didapati Evan yang masih tertidur pulas. Dia pun segera mendorong tubuh pria tampan itu. "Siapa suruh Mas Evan tidur di sini?"
Evan pun segera terjaga. Dia mengerjap mata beberapa kali sebelum akhir tersadar penuh. Pria itu melihat wajah wanita di sebelahnya yang sudah memerah. Dia tidak tahu itu karena marah atau malu. Namun, dirinya merasa sang istri menjadi semakin cantik ketika seperti itu.
"Sana tidur di sofa!" Elina menunjuk pada sofa di depan ranjang.
"Jangan tidur di sini! Aku masih ngantuk, mau tidur lagi," keluh Elina. "Ganggu tidurku saja!" gumamnya.
Namun, Evan tak kunjung beranjak dari tempatnya. Dia masih asik menatap wajah cantik sang istri. Tangannya terulur, mencoba memeluk tubuh wanita itu.
"Eh! Mau ngapain?" Elina memundurkan badannya, menghindar dari pelukan Evan.
__ADS_1
"Peluk kamulah, mau ngapain lagi?" Evan tersenyum lebar.
"Jangan peluk-peluk!" Elina menyilangkan tangan di depan dada.
"Napa? 'Kan kita udah sah jadi suami istri. Ya, bebas, dong, mau ngapain aja." Evan menggeser tubuhnya supaya lebih dekat dengan Elina.
"Aku gak mau! Aku gak mau kamu peluk."
"Kenapa gak mau? Padahal, kalau sama si itu aja kamu mau dipeluk."
Evan mengingat kembali saat mantan pacar Elina datang ke rumah sang istri. Ketika itu dirinya tengah duduk santai di depan rumah mengamati mereka berdua. Betapa sakit hatinya melihat wanita yang disukai dipeluk oleh orang lain. Ya, walaupun status mereka saat itu berpacaran.
"Aku putus dengan dia, juga gara-gara kamu!" Elina mengingatkan kembali kepada Evan kejadian sebulan yang lalu.
Saat itu, David mengajak Elina pergi jalan-jalan malam di sebuah taman. Di sana memang selalu ramai muda-mudi untuk menghabiskan waktu di malam minggu. Tentu saja Elina menyetujuinya karena tidak setiap malam minggu dia diajak jalan oleh sang kekasih.
Elina dan David berputar-putar mengelilingi taman. Mereka mengambil beberapa foto di spot yang telah disiapkan oleh pengelola. Akhirnya, sepasang kekasih itu lelah, lalu memutuskan untuk beristirahat di tempat yang sepi. David tidak mau keromantisan mereka terganggu, jadi dia mengajak sang pacar menyingkir dari keramaian.
__ADS_1
"Ini bagus, aku mau posting, ah." Elina menunjukkan sebuah foto kepada David, di mana foto itu memperlihatkan mereka membuat tanda hati dengan menggabungkan tangan. Dibelakangnya terdapat latar bunga yang membentuk hati pula sehingga membuat kesan yang romantis.
"Iya." David mengangguk lalu memasukkan sebutir kacang yang telah mereka beli sebelumnya ke dalam mulut.
David menatap wajah Elina yang penuh kebahagiaan. Dia pun tersenyum karena ikut merasakan kebahagiaan itu. Jarang sekali moment seperti ini mereka lakukan.
"Sayang, aku cantik gak sih di foto ini?" Elina masih sanksi untuk memposting foto tersebut. Kebiasaan seorang wanita, dia takut kalau terlihat jelek.
"Cantik. Kamu akan selalu cantik di mataku. Jadi, jangan pedulikan omongan orang lain. Oke!"
Perkataan David menyejukkan hati Elina. Wanita itu menjadi terbang melayang terbuai oleh kata-kata manis sang kekasih. Ingin rasanya terus dalam situasi seperti itu.
"Ah, Sayangku. Kamu so sweet banget." Elina menggoyangkan tubuh dengan menampilkan wajah imut. Kepala wanita itu menyandar pada lengan pria itu, sedangkan tangannya mendekap ponsel.
David menarik dagu Elina supaya wanita itu menatap wajahnya. "Elin, kamu bagai malaikat dalam hidupku. Aku gak akan melepaskanmu."
"David, ah," ucap Elina lemah. Hembusan nafas lembut keluar dari mulutnya. Dia telah terhipnotis oleh mata sayu pria di hadapannya.
__ADS_1
Bersambung.