Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 21. Ngangkang


__ADS_3

Masa cuti telah berakhir, Elina senang bisa berangkat kerja kembali. Tiga hari di rumah Evan membuatnya sangat bosan. Kalau tidak memandang sang ibu, mungkin dia sudah pergi dari sana sejak awal.


Celana jeans dan kemeja melekat di tubuh Elina. Dirinya sudah bersiap untuk berangkat bekerja. Wanita itu berjalan menuju keluar gerbang rumah. Dia hendak pergi ke rumah ibunya untuk mengambil motor.


"Mau ke mana?" tanya Evan. Dia berdiri di ambang pintu rumah.


"Mau ambil motor, lah. 'Kan mau kerja," jawab Elina.


"Sini!" Evan melambaikan tangan. "Aku antar aja. Ngapain juga naik motor sendiri!"


"Ngapain juga kamu antar. Aku bisa berangkat sendiri. Lagian, pulangnya aku mau nge-mall sama Bunga," jelas Elina, " udah, ah. Nanti telat, lagi."


Elina segera berjalan menuju rumah sang ibu. Matanya segera mencari-cari keberadaan kunci motor di meja ruang tamu, tempat di mana biasa menaruh kunci itu. Akan tetapi, dirinya tak dapat menemukan.


"Ibu." Elina berjalan menuju dapur, menghampiri sang ibu.


"Kenapa, Elin?" Diyah seketika menghentikan kegiatannya, lalu menoleh ke arah sang anak. Dia pun merasa heran akan kehadiran sang anak sepagi itu.


"Di mana kunci motornya?" tanya Elina merengek.


"Buat apa?"


Bukan jawaban yang dia dapatkan, justru pertanyaan balik. Hal itu membuat Elina kesal dengan sang ibu.


"Berangkat kerjalah. Masak mau kondangan."

__ADS_1


"Kali aja." Diyah bergegas meninggalkan dapur untuk menuju kamar Elina. Dia segera mengambil kunci motor yang tergantung di belakang pintu.


"Nih!" Dia memberikan kunci itu kepada Elina. "Kamu gak diantar nak Evan?"


"Gak," jawab Elina singkat, "udah, ya, Bu. Elin berangkat dulu. Udah siang ini, nanti telat lagi." Dia meraih tangan sang Ibu lalu mencium punggung tangannya.


Elina menancap gas supaya cepat sampai di tempat kerja. Berkali-kali dia melihat jam pada layar ponsel setelah memarkirkan motor, takut jika terlambat masuk.


"Elin!" Bunga merentangkan tangan ketika melihat sahabatnya masuk ke dalam ruangan kantor. "Aku kangen banget sama kamu." Dia memeluk erat tubuh sang sahabat.


"Aku juga kangen."


Mereka berpelukan seraya melompat-lompat, seperti anak kecil. Padahal, hanya empat hari saja tidak bertemu, mereka merasa seperti sudah setahun saja. Memang dua sahabat sejati.


"Eh, tunggu sebentar!" Bunga melepas pelukannya. "Coba, jalan!" perintahnya.


Bunga ingin melihat apakah ada perubahan cara berjalan Elina seperti pengantin baru yang lain. Namun, ternyata tidak ada perubahan sama sekali. Sahabatnya berjalan dengan normal.


"Bukannya kalau habis nikah, itu jalannya kayak gini." Bunga berjalan agak mengangkang, memparktikkan bagaimana menurutnya jalan seorang yang habis menikah.


Elina tertawa terbahak melihat Bunga. Dia merasa sang sahabat sangat konyol dengan berjalan seperti itu. Tanpa terasa air mata keluar dari sudut matanya.


"Malah ketawa." Bunga memasang wajah masam.


"Kamu aneh-aneh aja. Sudahlah!" Elina duduk di tempatnya. "Oh, ya. Nanti sore kita jalan, yuk!" lanjutnya seraya menoleh ke arah sang sahabat.

__ADS_1


"Akhir bulan, aku lagi bokek," tolak Bunga.


"Aku traktir, deh. Kamu mau minta apa, aku yang bayarin." Elina menaik-turunkan alis.


"Wah! Lagi kaya, nih. Oh, ya. Nyonya David, pasti kaya, dong. Udah dikasih jatah sama dia?"


Elina segera membuka tas untuk mencari dompetnya. Kemudian, dia mengambil sebuah kartu berwarna emas dari dalam dompet itu. Ditunjukkannya kepada Bunga.


Bunga segera merenggut kartu di tangan Elina. "Berapa isinya?"


"Entahlah. Belum aku cek." Elina mengangkat kedua bahu. "Makanya, nanti kamu kuajak jalan-jalan. Sekalian menikmati uang dari suamiku." Elina terkikik.


Mereka menghentikan percakapan itu ketika jam masuk kerja dimulai. Elina juga sangat sibuk hari itu. Pekerjaan yang ditinggal beberapa hari, sedikit menumpuk. Dia harus bekerja ekstra untuk hari itu.


Namun, dalam kesibukannya itu, Elina tidak lupa untuk mengintip ponselnya. Wanita itu memastikan, apakah ada pesan dari David. Akan tetapi, tidak ada satu pun pesan dari pria itu. Hanya beberapa pesan dari Evan yang dia abaikan.


Karena kesibukan itu, Elina merasa waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, sudah waktunya pulang kerja. Namun, pekerjaan wanita itu masih beberapa yang belum selesai.


"Tunggu sebentar, Say. Tinggal dikit lagi. Naggung, nih," ucap Elina. Dia melihat sang sahabat yang sudah bersiap.


"Gak bakalan aku tinggal, kok. Tenang aja."


"Ya, iyalah. Yang bayarin aku."


Tak lama kemudian, Elina telah menyelesaikan perkerjaannya. Mereka berdua segera menuju tempat parkir untuk mengambil motor masing-masing. Sekarang, tujuan kedua orang tersebut adalah pusat perbelanjaan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2