Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 52. Ayo, Pulang!


__ADS_3

"Udah, ah. Jangan bahas itu lagi. Bosan tau." Elina memanyunkan bibirnya. Dia merajuk kepada David.


"Baiklah, Sayang." David menarik bahu Elina masuk ke dalam rangkulannya, lalu mengusap lembut lengan sang kekasih. Mereka berdua memandang lurus ke depan, menatap indahnya kelap-kelip lampu kota.


Elina mendongakkan kepala, menatap wajah David di remangnya cahaya. Kedua matanya berpusat pada bibir sang kekasih yang tampak eksotis dalam keadaan seperti itu. Ingin rasanya dia merasakan bibir basah pria itu.


Sial, kenapa aku pengen banget, ya? Elina bertanya dalam hatinya sendiri.


Semua gara-gara Mas Evan. Dia selalu menyentuh bagian sensitifku saat tidur. Untung kalau sama dia, aku bisa nahan. Tapi, sekarang aku jadi pengen baget, nih, keluh Elina masih dalam hati.


Namun, dirinya menyadari sekarang berada di tempat umum, tak mungkin untuk melakukan hal tersebut. Elina kembali menyusupkan kepalanya di dada David.


Pria itu pun menyadari keinginan Elina. Dengan menarik kedua ujung bibir, dia merasa sangat senang. Mungkin, sebentar lagi dirinya akan mampu merasakan bibir manis sang kekasih yang telah lama diidamkan.


***


Jalanan sudah terlihat lengang, hanya ada beberapa kendaraan yang lewat. Banyak toko yang sudah tutup, tetapi masih ada beberapa yang buka. Pinggiran jalan dihiasi beberapa pedagang kaki lima. Ada penjual nasi goreng, roti bakar, bahkan wadang ronde. Dengan lampu kecil di sisi gerobak, memperlihatkan suasana malam yang indah.

__ADS_1


Elina melajukan motornya melewati itu semua. Dengan hati gembira setelah bertemu sang kekasih, dia mendendangkan lagu cinta.


Sesungguhnya, wanita enggan untuk berpisah malam itu karena beberapa minggu mereka tidak bertemu. Rasa rindu yang teramat membuatnya tak cukup hanya bertemu hanya 4 jam, bahkan seharian pun tak cukup.


Kini, motor Elina hendak memasuki gang kompleknya yang begitu lengang dan sepi. Dia melihat dua preman yang waktu itu menyerangnya. Dua sosok tinggi besar yang sangat mengerikan.


Mana mungkin Mas Evan mampu mengalahkan mereka. Dua lawan satu.


Elina tersenyum miring, membayangkan saat mereka bertarung. Dia merasa sungguh tidak seimbang.


Bohong aja kelihatan. Nyatanya, dia aja gak luka sama sekali. Masih bilang bertarung melawan mereka.


Namun, sebuah keanehan terjadi. Saat Elina melirik sesaat ke arah kedua pria itu, tampak senyum di wajah mereka. Dia pun mengernyitkan dahi.


Tak ingin menghiraukan kedua preman tersebut, Elina terus melajukan motornya. Sampailah dia di depan rumah kedua orang tuanya. Ketika dia berhenti sejenak untuk memasukkan motor, tiba-tiba pergelangan tangannya digenggam oleh seseorang.


"El, ayo, kita pulang," pinta orang itu mengiba.

__ADS_1


"Ngapain, orang aku udah gak anggap, Mas Evan, suami, kok. Aku mau tunggu, Mas, ceraiin aku."


Kata-kata Elina sungguh membuat Evan sedih. Dia menyesali karena telah berdebat dengan sang istri saat itu. Andai bisa menahan emosi, setidaknya setiap malam dirinya masih bisa memeluk tubuh wanita tersebut.


"Aku gak bakal ceraiin kamu, El. Kamu adalah istri pertama dan untuk selamanya bagiku."


"Terserah, aku mau ke dalam. Aku capek!"


Elina segera mengibaskan tangan Evan supaya terlepas. Akan tetapi, pria itu tak melepaskan genggamannya.


"Lepaskan aku! Aku capek, mau tidur."


"Ayo, kita tidur."


"Gak, aku gak mau sama Mas Evan!" tolak Elina. Dia menarik tangannya hingga genggaman Evan terlepas, lalu segera melajukan motor masuk ke dalam rumah.


Evan hanya dapat menatap sang istri dalam kesedihan hingga wanita itu hilang di balik pintu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2