
Elina sedikit tersentak. “Tapi ....” Ucapan Elina terhenti karena Evan meletakkan jari telunjuk pria itu di depan bibir sang gadis.
Akhirnya Elina mencoba gaun itu. Ternyata sangat pas di tubuh sang putri kecil. Dia pun tampak anggun saat memakainya.
Kini giliran Evan untuk mencoba pakaian. Jas berwarna emas, mencoba menyelaraskan dengan warna gaun Elina. Dirinya meminta saran kepada sang gadis tentang jas yang dikenakannya.
“Gak bagus! Kuningnya terlalu tua. Gak cocok dengan gaunku.” Elina mengibaskan tangan, meminta Evan untuk menggantinya.
Evan pun masuk ke kamar ganti, mencoba baju yang lain. Kini dia keluar dengan jas hitam dof dengan kerah mengkilat, terlihat sangat elegan.
"Kenapa hitam?" tanya Elina seketika saat melihat Evan.
"'Kan, kelihatan maco." Evan mengangkat kedua lengannya, bertujuan memperlihatkan otot yang terbalut jas.
"Ganti-ganti-ganti." Elina mengibaskan tangan.
Evan kembali memasuki kamar ganti dengan langkah gontai. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan Elina. Kenapa suruh ganti lagi?
Untuk kesekian kalinya Evan mencoba baju, lalu ditolak Elina. Kini pria itu keluar mengebakan kemeja putih dengan rompi di dalamnya. Kemeja pastel beserta dasi kupu-kupu senada melengkapi.
Elina tidak bisa berkedip menatap Evan, sungguh sangat tampan. Aura ketampanan pria itu terlihat bersinar. Sangat menggetarkan hati. Baru pertama kali dia melihat pria di hadapannya itu begitu tampan.
__ADS_1
"Gimana?" tanya Evan. Kedua tanganya dimasukan ke dalam saku celana.
"Ehm," dehem Elina. Dia mencoba menghilangkan kecanggungannya karena ketahuan mengagumi pria itu. "Baiklah, itu saja."
Dengan setujunya Elina akan jas Evan, fitting baju pun selesai. Evan menhembuskan nafas lega. Dirinya sungguh lelah karena harus bolak balik ganti baju.
Elina menyembunyikan senyumnya melihat Evan yang kelelahan. Hatinya merasa sedikit puas bisa mengerjai pria itu.
...****************...
Di sebuah jawellery ternama di kota itu, menampilkan berbagai bentuk perhiasan yang menawan. Elina bingung memperhatikan cincin mana yang akan dia pilih. Tentu saja dia akan memilih perhiasan yang paling bagus dan mahal.
"Bagaimana dengan ini?" tanya Elena. Dia begitu antusias. Perhiasan di hadapannya sangat menggoda.
"Tunggu sebentar! Teman Anda sedang mencarikan pesananku." Evan menghentikan pelayan untuk mengambilkan cincin yang ditunjuk Elina.
Sebelumnya, dia telah memesan satu set perhiasan, lalu berjanji akan mengambilnya sekarang. Jadi, dia cukup menunggu pelayan toko untuk mengambilkannya.
Tidak berapa lama kemudian, seorang pelayan datang membawa sebuah kotak berwarna merah. Dibukanya kotak itu di hadapan mereka. Terpampang satu set perhiasan bertahtakan berlian dengan kualitas F-VVS1.
Kalung sederhana dengan liontin berbentuk lingkaran, berlian utama 1 karat dan dikelilingi beberapa berlian 1 poin. Ada sepasang cincin di sana, yang satu polos dan yang satunya lagi dihiasi berlian setengah karat. Berlian 1 poin berjajar di sepanjang ring cincin.
__ADS_1
Antingnya masing-masing juga setengah karat. Sedangkan gelangnya terdiri dari empat lingkarang berlian 1 poin mengelilingi berlian setengah karat. Lingkaran itu dihubungkan oleh rantai emas. Walaupun simpel, tetapi tetap memberi kesan mewah.
"Ini, indah banget. Sangat berkilau," gumam Elina tanpa sadar.
Walaupun hanya berlian dengan total 5 karat, tetapi itu sudah sangat mewah untuk Evan yang seorang asisten CEO. Semua itu dilakukan hanya demi orang yang sangat dia cintai.
"Kamu suka?" tanya Evan.
Mendengar suara Evan, Elina kembali pada sikap semula. Wajahnya pun dibuat senetral mungkin. Hanya anggukan kepala yang digunakannya untuk menjawab pertanyaan Evan.
"Baik, Mbak. Bungkus cepat! Aku mau selesaikan pembayaran." Evan mengangguk kepada pelayan.
Evan bersyukur karena Elina menyukai perhiasan yang dipilihnya. Kini dirinya merasa lega, tidak perlu bingung memilih perhiasa.
"Ayo, sekarang kita makan dulu! Aku udah lapar," ajak Evan. Dia menenteng tote bag yang berisan perhiasan tadi. Mereka berjalan meninggalkan jawellery tersebut.
"Silahkan masuk, Putri Kecilku," ucap Evan setelah membuka pintu. Senyum mengembang di wajahnya.
Namun, Elina tidak menanggapi ucapan Evan. Dirinya masuk ke dalam mobil dengan wajah datar. Sesungguhnya dia lelah dan ingin pulang, tetapi lapar juga. Jadi, dia ikut ke mana pria itu akan membawanya.
Bersambung.
__ADS_1