
"Itu masalahmu sama suamimu. Ibu gak akan ikut campur kalau masih sebatas itu. Ibu harap kalian dapat menyelesaikannya sendiri."
Ucapan Diyah membuat Elina tak percaya. Bagaimana bisa orang tua membiarkan anaknya tersakiti? Rencana dan harapannya pun menjadi sia-sia.
"Tapi, Bu. Mas Evan telah selingkuh. Aku lihat sendiri, Bu. Apa Ibu terima kalau anaknya dikhianati?"
"Entahlah, aku gak yakin kalau dia selingkuh." Diyah mengangkat kedua bahunya. "Tadi Evan juga bilang kalau kamu jalan sama David. Apa benar?"
Diyah menatap Elina penuh selidik. Dia ingin mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
"Kenapa ibu malah membalikkan pembahasan dan nuduh aku?" tanya Elina. Dia tak terima akan pertanyaan sang ibu. Dirinya merasa dipojokkan oleh wanita itu.
"Aku gak nuduh kamu, Elin. Aku cuma tanya. Tinggal jawab benar atau tidak, 'kan beres."
Sebagai seorang ibu, Diyah ingin anaknya menjadi orang yang baik-baik. Dia tidak ingin Elina terjerumus dalam jurang kemaksiatan. Walaupun sang anak tidak melakukan hal apa pun dengan David, tetapi berhubungan dengan pria lain setelah menikah adalah sesuatu yang salah kaprah.
Namun, pemikiran Elina tidak sepeti yang diucapkan sang ibu. Menurutnya, pertanyaan ibu bukanlah pertanyaan biasa. Sekarang dirinya merasa terintimidasi akan pertanyaan itu.
"Jadi, Ibu lebih percaya sama Mas Evan timbang aku?"
"Kenapa kamu malah tanya seperti itu? Jawab aja pertanyaan ibu, Elin." Diyah menatap Elina tajam, memaksa sang anak untuk jujur.
__ADS_1
Diyah sudah semakin kesal dengan sang anak. Dia merasa apa yang dikatakan Evan memanglah benar. Nyatanya, Elina tidak langsung menjawab, wanita itu malah membalikkan dengan pertanyaan pula.
Sungguh, hati seorang ibu terasa hancur. Jerih payah dirinya mendidik seorang anak dengan kasih sayang dan kehati-hatian, kini dirasanya percuma. Semua ajaran baik seperti tak ada gunanya karena Elina telah melanggar norma agama.
Seorang yang telah menikah, dilarang pergi berdua dengan orang lain yang berlawan jenis, apalagi mantan. Di sana pasti akan timbul sebuah letupan kecil yang akan berubah menjadi ledakan.
"Apa Ibu akan membiarkan Mas Evan jalan sama wanita lain, tapi kalau aku, Ibu akan marah, hah?"
Elina kecewa akan sikap sang ibu. Bukannya membela anak sendiri, dia merasa bahwa ibunya malah berpihak kepada Evan. Hal itu juga sering terjadi di masa lampau.
Tanpa terasa butiran bening lolos dari mata Elina. Dia merasa sakit hati karena merasa telah dianak tirikan oleh ibu sendiri. Dadanya sesak penuh gemuruh.
Wanita itu begitu menekankan pada kalimat terakhirnya. Dia sangat sungguh-sungguh mengatakan hal itu kepada anaknya sendiri. Diyah berharap, Elina mau mendengarkan ucapannya. Jika benar sang anak kembali berhubungan dengan mantan kekasih, mereka bisa segera saling menjauh.
Elina berdiri, lalu segera pergi meninggalkan kamar. Dia tidak ingin melanjutkan perdebatan dengan sang ibu. Dirinya tahu pasti akan kalah jika melanjutkan perdebatan itu.
Elina takut jika Diyah murka, kemudian keluarlah kata-kata kurang baik. Apa yang dikatakan sang ibu pasti akan terjadi. Itulah yang ditakutinya karena dia tahu ucapan ibu adalah doa.
"Entahlah, Elin," gumam Diyah. Dia menundukkan kepala seraya menghembuskan nafas panjang.
"Ibu," panggil Verry lembut. Pria itu masuk ke dalam kamar Elina, lalu duduk di samping sang istri.
__ADS_1
Diyah mendongakkan kepala, menatap pria yang selalu menengkan hatinya.
"Apa ibu salah, Yah?" tanya Diyah. Dia menyenderkan kepala di lengan sang suami.
"Ibu gak salah, kok. Tapi, seharusnya ibu bisa lebih halus sedikit saat ngomong dengan Elina."
"Ibu emosi, Yah. Ibu gak nyangka kalau Elin bisa kayak gitu."
Verry pun sebenarnya sependapat dengan sang istri. Dia tidak terima kalau Elina mempermainkan sebuah pernikahan. Namun, menurutnya bukti belumlah ada. Jadi, dirinya harus tetap tenang hingga ada bukti yang nyata.
"Sabar dulu, Bu. Elina itu anak kandung kita, dia pasti sangat sakit hati karena, Ibu, udah belain Evan tadi."
"Apa aku kelihatan begitu belain Evan, Yah?"
Verry hanya menganggukkan kepala, mengiyakan pertanyaan Diyah. Namun, dirinya menyadari, hal itu pasti tak dapat terelakan. Kedekatan sejak bayi membuat Diyah mengganggap Evan sebagai anak sendiri.
Memang Diyah yang mengasuh Evan sejak bayi. Semua itu karena ibu pria tersebut telah tiada ketika melahirkan sosok manis nan hebat.
Ketiadaan seorang ibu, membuat Evan menganggap bahwa Diyah adalah pengganti sosok tersebut. Wanita itu adalah tempat segalanya, berkasih sayang, bermanja, bahkan mencurahkan isi hati. Maka dari itu, Diyah tahu betul bagaimana seorang Evan.
Bersambung.
__ADS_1