
Embun pagi pun menghiasi bak permata di pagi hari. Kilaunya terpancar tatkala mentari menerpa. Kicauan burung pun mulai bersahutan, menyanyikan lagu merdu, membuat siapa saja terbuai oleh alunannya.
Namun, berdeda dengan Elina. Tidur indahnya terusik ketika dia merasakan sentuhan hangat tepat di atas dada. Menggelitik seluruh tubuh hingga hembusan nafas lembut lolos dari mulutnya.
Perlahan Elina membuka mata, mengembalikan kesadaran dunia nyata. Saat semuanya sudah kembali, dia segera mengintip di balik selimut apa yang sejak tadi mengusiknya. Wanita itu sangat terkejut ketika mendapati tangan Evan yang telah menelusup hingga kepuncak dadanya.
Elina segera menarik tangan itu, lalu membalikkan badan. Sebuah tamparan disematkannya ke pipi Evan yang masih terlelap. Tampak cap lima jari di sana ketika tangannya diangkat.
Tangan Evan tiba-tiba mencengkeram leher Elina. Akan tetapi, cengkeraman itu segera terlepas ketika kesadaran pria tersebut sudah kembali sepenuhnya. Matanya menatap sayu, menyiratkan sebuah penyesalan.
"Maafin aku, Sayang," ucap Evan lirih. Dengan setulus hati dia meminta maaf.
Sikap siaganya, membuat Evan selalu waspada dalam keadaan apa pun. Dia akan segera menyerang ketika sesuatu mengancam. Seperti halnya tadi, tiba-tiba dirinya menerima pukulan, tentu saja dia terkejut, lalu reflek melakukan hal tersebut.
Rasa syok masih menyelimuti Elina. Dia tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu dari Evan. Kata maaf dari pria itu pun tak di dengarnya.
Elina segera berlari menuju kamar mandi, lalu duduk di atas closet. Dia menutupi wajah dengan kedua telapak tangan, derai air mata pun mulai lolos dari kelopak matanya. Perbuatan kasar yang dilakukan Evan adalah yang pertama kali dia rasakan selama hidup dua puluh tahun ini.
__ADS_1
Orang tua Elina saja tidak pernah berlaku kasar padanya, bahkan kakaknya sendiri. Sedangkan, ini adalah orang lain, denfan tega mencekik lehernya. Sungguh sangat mengerikan.
Perasaan sedih dan benci menyelimuti Elina. Menatap pria itu pun enggan dilakukannya, hingga di meja makan, dia hanya menatap lurus kedepan dengan wajah kosong.
Suasana sarapan terasa tak enak, Angga pun merasakannya. Elina hanya diam dengan kemarahan dan kebenciannya. Sedangkan, Evan seringnya menundukkan kepala, sedih.
Gerak-gerik pasangan itu senantiasa Angga perhatikan. Namun, pria paruh baya itu tidak ingin ikut campur ke dalam urusan rumah tangga Evan. Dia yakin bahwa sang anak mampu menyelesaikannya sendiri.
Elina lebih dulu meninggalkan meja makan. Sarapannya hanya tersentuh sedikit karena nafsu makan yang hilang. Wanita itu segera pergi untuk bekerja.
...****************...
Elina memarkirkan motor di area parkir, lalu berjalan masuk menuju ruang kerja. Langkahnya sedikit diseret karena suasana hati yang buruk. Hal itu menarik perhatian bunga.
"Kenapa kamu?" Bunga memandang Elina, heran. Dia melihat wajah sang sahabat sama kusutnya ketika putus dengan David. Penasaran pun menghinggapi benaknya dengan apa yang terjadi pada wanita tersebut.
"Dia ...."
__ADS_1
Elina tidak melanjutkan ucapannya, berganti dengan suara isakan yang menyayat hati sang sahabat.
"Lah, malah nangis dia," gumam Bunga.
Bunga mendekati sang sahabat. Direngkuhnya pundak wanita itu, lalu dia peluk. Walaupun belum tahu permasalahan yang dialami, tetapi namanya sahabat akan selalu iba jika salah satu dari mereka bersedih.
Elina segera memeluk sang sahabat. Dia merasa bersyukur memiliki teman seperti Bunga. Wanita itulah satu-satunya orang yang mengerti perasaannya.
Setelah merasa sedikit tenang, Elina mulai menceritakan apa yang telah dialami menurut versinya.
"Ternyata dia kasar juga, ya. Cuma kena tampar dikit udah mau cekek aja." Bunga mulai kesal terhadap Evan. Mau bagaimanapun juga, menurutnya wanita tidak pantas diperlakukan seperti itu.
"Kamu udah bilang sama keluargamu?"
Elina menggelengkan kepala. "Belum. Mana ada yang percaya. Mereka hanya percaya sama dia aja. Padahal, aku, 'kan, yang anaknya?"
Elina menundukkan kepala. Dia menyadari bahwa dirinya seperti tidak pernah dianggap oleh keluarga. Mereka hanya membenarkan apa yang dikatakan Evan selama ini. Seperti halnya saat kejadian pemukulan David waktu itu.
__ADS_1
Bersambung.