Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 17. Datang kembali


__ADS_3

Mobil berhenti di depan rumah Evan. Elina segera melompat turun lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya. Dia tidak mempedulikan sang suami yang tengah menurunkan barang-barang mereka.


Elina menjatuhkan bokong di ranjang dalam kamarnya. Jari-jari lentik dengan lincah menari di atas benda pipih. Kadang senyum terukir ketika membaca balasan pesan dari sang sahabat—Bunga.


Namun, tiba-tiba raut wajah wanita itu berubah. Matanya melebar ketika melihat sebuah pemberitahuan yang muncul di layar atas ponsel. Dia tak percaya, bagaikan mimipi. Sebuah pesan dengan nama 'Ayangku', tampak di sana.


Elina segera membuka pesan itu. Senang bercampur haru kini dia rasakan. Tanpa terasa air mata mengalir di pipi mulusnya.


"Hi, El. Gimana kabarmu? Maaf, waktu itu aku kebawa emosi sesaat." Isi pesan tersebut.


Tanpa disuruh lagi, jari Elina dengan lincah mengetik sesuatu untuk membalas pesan tersebut. Senyum cerah terus terukir di wajah wanita itu.


"Baik. Gak usah minta maaf. Aku senang banget kamu udah hubungi aku. Kamu, bagaimana kabarnya?" tanya Elina.


Waktu terasa lama ketika Elina menunggu balasan dari David. Dia memandangi layang ponselnya tanpa berkedip. Tidak ingin melewatkan pesan itu sedetik pun.


Namun, kekecewaan kembali menghampirinya. Sudah hampir lima menit, wanita itu tak kunjung mendapat balasan dari David. Dia menghembus nafas kekecewaan lalu merebahkan tubuhnya.


"Elin!" Diyah tiba-tiba masuk ke dalam kamar Elina. "Kenapa kamu di sini, gak di rumah suamimu?"


Elina memiringkan tubuhnya, membelakangi sang ibu. Wanita itu sangat malas menanggapi ibunya. Dia tahu, pasti nanti akan diusir dari kamar itu. Dia sedang tak ingin menemui Evan saat ini karena dirinya masih menunggu David membalas pesannya tadi.


"Aku capek, Bu. Aku mau istirahat di rumah biar gak ada yang ganggu," keluh Elina.


"Capek, ya?" Diyah tersenyum senang. Dia berjalan menghampiri sang anak. "Berapa ronde semalam?"

__ADS_1


"Ih, Ibu apaan, sih?" Elina memasang wajah bebek, tidak suka akan pertanyaan sang ibu.


"Ya udah, kalau malu. Ibu tahu, pasti Evan sangat hebat sampai buat kamu capek." Cekikik terdengar dari arah Diyah.


Elina memutar bola mata. Dia semakin jengah dengan sang ibu. Kenapa bisa sang ibu bertanya seperti itu padanya?


"Terserah, Ibu, aja."


"Ya udah. Kamu istirahat aja, kumpulin tenaga lagi buat nanti malam." Diyah meninggalkan Elina sendiri di dalam kamar.


Sementara itu, Evan telah selesai menaruh barang-barang di dalam kamarnya. Pria itu dengan langkah lebar menuruni tangga. Kakinya menuju rumah yang berada di seberang jalan.


Ya, kini Evan hendak ke rumah Elina. Dia ingin mengajak wanita itu pulang. Dirinya masih ingin memeluk sang pujaan hati hingga puas.


"Nak Evan," panggil Diyah lembut.


"Tuh, di dalam kamar. Katanya capek." Diyah tersenyum dengan tangan menutupinya.


"Oh," ujar Evan singkat. Dia tidak paham ada maksud lain dari ucapan sang ibu. Pria itu malah duduk di kursi ruang tamu.


"Loh, kok, malah duduk di situ. Sana, datangi dia!"


Diyah menarik tangan Evan supaya berdiri, kemudian mendorong tubuh pria itu agar masuk ke dalam kamar sang anak.


"Eh, tapi, Bu." Langkah Evan terasa berat. Dia merasa canggung untuk masuk ke kamar Elina.

__ADS_1


Namun, tanpa berkata apa pun, Diyah terus saja mendorong tubuh Evan. Pria itu tak bisa berbuat apa-apa. Dia akhirnya mengikuti dorongan sang ibu.


Diyah segera meninggalkan Evan ketika pria itu memasuki kamar Elina yang tak terkunci. Dia tidak ingin mengganggu pasangan suami istri baru itu.


Evan yang baru memasuki kamar Elina, melihat wanita itu sedang memainkan ponsel. Perlahan dia mendekati sang istri lalu duduk di sisi ranjang.


Merasa ada pergerakan di bekangnya, Elina segera menoleh. Dengan gerakan secepat kilat, dia menelungkupkan ponsel ke atas bantal ketika tahu orang itu adalah Evan. Jatung wanita itu bedegup sangat kencang, takut jika pria itu melihat sesuatu di layar ponselnya.


"Ngapain masuk kamarku?" tanya Elina. Wajahnya terlihat sangat masam.


"Kamarmu juga kamarku, 'kan, sekarang? Jadi, aku bebas buat masuk." Evan menautkan kedua alisnya.


"Terserah, deh!" Elina kembali memunggungi Evan. Matanya tertutup, pura-pura tidur.


"Sekarang kita pulang!" Evan membalikkan kembali tubuh Elina supaya menghadap ke arahnya.


"Pulang? Ini rumahku."


Elina hendak kembali ke posisinya tadi, tetapi Evan lebih dulu menahannya. Tanpa basa-basi, pria itu mengangkat tubuh sang istri. Dia membawa wanita itu pulang ke rumahnya.


"Turunin aku!" Elina memberontak, tangannya memukuli dada bidang Evan. Dia merasa malu jika harus dibopong seperti itu.


Verry dan Diyah hanya menahan tawa melihat kelakuan kedua pengantin baru itu. Mereka menjadi terkenang masa-masa pengantin baru, dulu.


Elina menutup wajah karena malu. Sungguh, Evan tidak menggubrisnya sama sekali. Tatapannya terlihat datar menghadap ke depan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2