Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 6. Seblak Pedas


__ADS_3

"Nih, pesenan kamu." David mengulurkan sebuah kantung plastik kepada Elina.


Elina segera menerima bungkusan itu lalu mengintip ke dalammya. "Makasih, Ayang Beb. Kamu emang pacar yang pengertian."


Mereka segera menuju kursi di depan rumah lalu duduk berdampingan. Elina meletakkan bungkusan itu ke atas meja sebelum membukanya. Terciumlah bau menyengat cabai hingga menusuk hidung. David pun sampai terbatuk kerananya.


"Kamu, jangan keseringan makan pedas. Nanti rahimmu kering," ucap David seraya menutup hidung.


"Eh, kata siapa?" Elina segera menoleh ke arah David. Dia sebenarnya pernah mendengar tentang itu. Namun, menurutnya hal itu hanyalah mitos belaka. Nyatanya, ada salah satu teman kerja yang juga pecinta pedas, tetapi sekarang orang itu sudah memiliki momongan.


Pedas memang bukanlah penyebab dari sulitnya hamil. Belum ada penelitaian terkait hal itu. Jadi, terlambatnya seseorang untuk mendapatkan momongan yang pasti berkaitqn dengan tingkat kesuburan orang itu sendiri.


"Gak percaya, tanya saja sama ibumu. Apa kamu mau nanti kita gak punya anak?"


"Ya, gak, dong. Aku 'kan mau punya anak dari kamu."


"Makanya, dengerin omonganku!"


"Siap, Bos." Elina menampakkan nyengir kuda lalu segera beralih menatap makanan di hadapannya.

__ADS_1


Dirinya tidak ingin berdebat dengan pria itu. Nanti malah akan meinmbulkan pertekaran di antara mereka. Maka dari itu, dia memilih menikmati makanan itu sendiri.


Ya, David hanya membeli satu porsi saja karena pria itu tidak suka dengan makanan kesukaan setiap wanita tersebut. Melihat bentuk makananannya saja sudah merasa aneh. Jadi, diri nya tidak pernah mencicipi makanan itu sama sekali.


"Apa enaknya sih, seblak? Kamu ampe lahap begitu makannya." David mengernyitkan dahi. Dia heran melihat Elina makan.


"Salah sendiri gak mau coba. Nih, rasaain sendiri." Elina menyodorkan sesendok seblak ke arah David.


"Gak, ah. Itu punya kamu. Kalau aku mau, tadi pasti aku beli sendiri," elak David. Dia memundurkan kepalanya.


"Ya, udah." Elina memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Dia pun kembali menyantap makanan itu dengan sesekali mengobrol.


"Ayah sama ibumu, kapan sih, pulangnya? Apa masih lama?" tanya David.


"Ya, paling lama sih, pulang jam setengah sebelas. Acara syukuran biasanya selesai jam segitu. Memang kenapa?"


"Gak apa-apa. Aku cuma takut kalau kamu di rumah sendiri," ucap David penuh kekhawatiran.


"Makanya, aku minta temenin kamu."

__ADS_1


David pergi ke rumah Elina memang atas permintaan wanita itu. Dia mengatakan pada pria itu jika di rumah sepi. Orang tuanya sedang pergi ke acara syukuran rumah baru salah satu kerabat. Dirinya tidak ikut karena di suruh menjaga warung. Lumayanlah kalau ada pembeli.


"Tapi, gak mungkin juga kan sampai malam begitu. Nanti malah digerebek sama tetangga-tetanggamu."


"Gak, kok. Mereka udah pada tahu." Elina mencoba meyakinkan David seraya mulutnya meniup bibir yang kepanasan.


"Pedes banget, ya?" tanya David. Dia dari tadi melihat Elina yang kepedasan.


"Hu um, tapi gak apa-apa, kok. Enak seblaknya."


"Masak, sih." David menatap bibir merah Elina karena kepedasan dengan lekat. "Biar aku bantu hilangin pedesnya," lanjutnya seraya meraih dagu sang kekasih.


Elina tersentak mendapat perlakuan seperti itu. Matanya segera melihat ke sekeliling untuk memastikan keamanan posisi mereka. Dia kembali menatap wajah pria di hadapannya setelah merasa aman. Tanaman hias yang lumayan besar dan rimbun Tidak mungkin orang-orang melihat ke arah mereka dengan jelas.


Jatung Elina berdegup tak karuan. Dia merasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Kali ini, wanita itu membiarkan hal itu akan terjadi padanya. Sebenarnya, dia juga ingin merasakan ciuman seperti pasangan remaja yang lain.


Perlahan namun pasti, wajah mereka semakin medekat. Kini, nafas David sudah menerpa wajah wanita itu. Tinggal beberapa senti lagi bibir mereka dapat bertemu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2