Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 50. Tersulut Emosi


__ADS_3

Beberapa pesan yang menanyakan kondisi Elina dikirim oleh David. Terlihat sekali jika sang kekasih khawatir terhadapnya.


Berarti, bukan David yang nyelametin aku, batin Elina setelah membaca pesan dari sang pacar.


Berarti benar dia. Elina melirik Evan yang sedang menatap layar ponsel.


Beberapa saat kemudian, sebuah panggilan dari David masuk ke dalam ponsel Elina. Tanpa ragu, wanita tersebut mengangkat panggilan itu. Dia tak lagi peduli walaupun ada Evan di sana.


"Halo, Sayang. Gimana keadaanmu sekarang?" tanya pria di seberang sana.


"Aku baik. Gak usah khawatir."


"Syukurlah." Hembusan nafas David terdengar jelas di telinga Elina. Sebuah kekhawatiran terasa lepas, berganti dengan kelegaan.


Beberapa percakapan tentang apa yang di alami Elina terdengar oleh Evan. Sesekali juga tawa sang istri terdengar bahagia ketika bercakap lewat telepon.


Hal tersebut membuat telinga Evan panas. Kini dia tak dapat menahan emosi lagi. Pria itu berdiri dari duduknya, lalu segera menghampiri sang istri.

__ADS_1


"Berhenti ngobrolnya!" titah Evan. Wajahnya memancarkan emosi yang kuat.


Mendengar suara yang begitu tegas, Elina segera menghentikan pembicaraannya. Wanita itu menoleh ke arah Evan. Seketika itu pula, dia menelan salivanya yang sangat berat di tenggorokan.


"Kenapa?" tanya Elina. Dia merasa tidak suka dengan perintah Evan. Menurut wanita tersebut, pria itu tak punya hak untuk memerintahnya.


"Kamu udah kelewat batas, El. Aku suamimu, beraninya begitu di depanku!"


Nafas Evan memburu, berkejaran dengan sesak di dalam dada. Kali ini, dia tidak akan memberi kesempatan lagi bagi Elina untuk mejalin kasih dengan David. Cukup sampai di sini, mau suka atau tidak, dirinya tak peduli.


"Terserah aku. Salah sendiri nikahi aku. Aku juga gak minta, 'kan?" Elina memutar balikkan keadaan. Dia juga tidak mau sembunyi lagi, semua orang sudah mengetahui hal yang sebenarnya.


Satu kata membuat emosi Evan semakin melambung. Tak disangka Elina akan mengatakan hal itu. Sebuah perceraian yang tak pernah diinginkannya.


Mata Evan merah padam. Ingin sekali rasanya melampiaskan kemarahan. Namun, dirinya bukanlah pria yang seenaknya memukul wanita. Dia paling anti dengan hal tersebut.


Pria itu mencoba menarik nafas dalam, menenangkan hati, menjernihkan pikiran. Jika emosi dilawan emosi, maka perdebatan tak akan pernah berakhir.

__ADS_1


"El, kumohon, hargailah aku sebagai suamimu. Aku gak mau cerai sama kamu. Bagiku, menikah hanyalah sekali seumur hidup, El."


Kini, suara Evan terdengar lebih rendah. Dia mencoba meminta pengertian dari sang istri. Dengan begitu, dirinya berharap Elina tak lagi meminta cerai.


Namun, karena sudah disulut, Elina tak mudah di tenangkan kembali. Wanita itu justru mengangkat sebelah ujung bibirnya. Dia merasa geli dengan ucapan Evan.


"Mas Evan minta dihargai? Lalu, apakah Mas menghargaiku?"


"Maksud kamu?" Evan sungguh tak mengerti dengan ucapan Elina. Dia merasa tak pernah melecehkan sang istri.


"Oh, ternyata udah lupa dengan perdebatan kemarin, ya?" Lagi-lagi bibir sebelah Elina tersungging, ternyata Evan dengan mudah melupakan kesalahannya sendiri.


Evan pun segera ingat dengan tuduhan Elina kemarin. Betapa tidak, hal itulah membuat dia merasa malu di hadapan kedua mertuanya.


"Udah aku bilang kemarin, 'kan, El? Dia itu hanya teman kantor yang gak sengaja ketemu," jelas Evan lagi, "kalau kamu gak percaya, aku mau gimana lagi? Apa aku suruh dia ke sini buat ngejelasin?"


Evan mengacak-acak rambut, merasa frustasi. Memang sangat sulit untuk membuat percaya orang yang sudah membenci dirinya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2