
Kemarau sungguh panjang tahun ini, menggugurkan hampir semua daun jati. Hanya menyisakan tangkai dengan pucuk daun yang belum mengembang.
Seperti itu juga cinta Evan terhadap Elina, mungkin juga hanya seujung kuku. Namun, pria itu tidak ingin memadamkan semuanya. Walau bagaimanapun, wanita tersebut adalah cinta pertama dan akan menjadi cinta terakhir baginya.
Itulah yang selalu dipegang teguh oleh Evan. Bagaimanapun Elina telah menyakiti hati pria itu, cintanya tak akan pernah padam. Baranya akan selalu terlihat merah.
Hanya pekerjaan yang mampu sedikit menghilangkan rasa sakit itu. Dia tak ingin lagi memikirkan tentang asmara. Biarlah Elina seorang yang telah membuatnya berantakan seperti saat ini.
Ketukan pintu terdengar di ruang kerja Evan. Dia pun menyuruh masuk orang yang telah memecahkan konsentrasi kerjanya. Pandangannya lurus ke depan, menunggu sosok yang akan masuk.
"Selamat siang, Pak." Senyum lembut segera terbit di wajah wanita itu.
Dialah Viona , wanita yang jatuh hati pada Evan. Wanita yang selalu berharap bahwa sang atasan akan menceraikan istrinya.
__ADS_1
Viona berjalan menuju depan Evan, lalu berhenti di belakang kursi yang berada di depan meja. Dia berdiri beberapa saat hingga akhirnya sang atasan mempersilahkannnya duduk.
"Anda semakin kurus saja, Pak," ucap Viona. "Apakah istri Anda masih menyakiti Anda?"
Evan diam saja, tidak ingin menjawab pertanyaan Viona. Suram seketika menyelimuti hatinya. Beberapa saat yang lalu, dirinya sudah sedikit melupakan masalah dengan sang istri. Akan tetapi, kini malah diingatkan kembali.
"Sampai kapan Anda akan seperti ini? Turuti saja kemauannya, Pak, agar Anda juga tidak tersiksa seperti ini terus."
Evan menundukkan kepala, lintasan kejadian 2 minggu yang lalu kembali merasuk ke dalam pikirannya. Memang, kejadian itu merupakan hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Dengan mata kepala sendiri menyaksikan tanda merah di leher sang istri.
"Biar aku urusi sendiri urusanku. Sekarang, katakan! Kamu datang ke sini ingin menyampaikan apa?"
Ya, walaupun Evan membenarkan perkataan Viona, tetapi dia tak mau mengakuinya. Jika itu dia katakan, sama halnya memberi kesempatan kepada wanita tersebut. Itulah yang tak ingin dirinya lakukan.
__ADS_1
Viona menghela nafas panjang. Dia pun mengatakan tujuan kedatangannya.
"Oh, ya, Viona. Jangan pernah kamu urusi lagi urusanku. Maaf, aku juga gak akan pernah jatuh cinta sama kamu," ucap Evan tegas ketika Viona hendak pergi.
Viona diam membeku, tak menyangka dengan apa yang dikatakan Evan. Dengan kepala tertunduk dan suara lemah, dia pun berkata, "Baiklah. Maaf, jika selama ini telah mengganggumu."
Viona segera pergi setelah mengatakan hal tersebut. Dia merasa sangat sakit hati. Dirinya mengira bahwa usaha yang dilakukan selama ini akan berhasil. Akan tetapi, semua yang dibayangkannya hilang seketika. Dia pun berjalan keluar dengan tenaga yang tersisa.
Beberapa saat setelah Viona menutup pintu, sebuah pemberitahuan pesan masuk, terdengar. Evan segera meraih benda pipih di samping tangannya. Sejenak alisnya menaut, merasa tak mengemal nomor yang telah mengirim pesan tersebut. Namun, pria itu tetap membacanya karena ada nama Elina di sana.
"Benarkah? Berarti dia ..." gumam Evan terhenti, berganti dengan senyum cerah.
Evan segera membalas pesan tersebut. Dia begitu penasaran dengan kebenaran isi pesan apa yang telah dibacanya. Pria itu juga ingin tahu, siapa sebenatnya orang yang telah mengirim pesan itu. Mengapa dia tahu tentang hal tersebut? Juga apa tujuan orang itu dengan memberi tahukan kepadanya?
__ADS_1
Bersambung.