
Hampa, sepi, tak ada yang menginginkan itu. Seperti Elina saat ini, tak ingin dihinggapi rasa tersebut. Namun, entah atas sebuah alasan apa yang menyebabkan dirinya merasakan hal tersebut. Kekosongan pikiran terus saja merajai hingga menarik perhatian Bunga.
"Kenapa makanannya diaduk-aduk doang?"
"Eh, gak apa-apa, kok," jawab Elina. Tak ketinggalan dengan nyengir kudanya.
"Ayo, dong, makan. Nanti keburu masuk, loh," ucap Bunga. Dia kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Elina menganggukkan kepala. Kini, dia memasukkan sedikit nasi ke dalam mulut secara perlahan. Namun, tiba-tiba wanita tersebut menoleh ke arah Bunga.
"Aku heran, kenapa Mas Evan gak pernah gangguin aku lagi, ya? Bahkan dia gak pernah kelihatan."
Elina sudah tidak dapat menyimpan lagi rasa penasarannya. Walaupun dia tahu bahwa Bunga tak dapat menjawab rasa penasaran itu, setidaknya hal tersebut tidak berputar-putar dalam pikiran.
"Malah bagus, dong. Bukannya itu yang selalu kamu mau," ucap Bunga tanpa melihat ke arah Elina.
"Iya juga, sih." Elina kembali menatap ke depan, memikirkan ucapan Bunga yang memang ada benarnya.
"Apa jangan-jangan kamu kangen gak di gangguin dia lagi," celetuk Bunga. Dia melirik ke arah Elina dengan senyum tipis di bibirnya.
Elina tidak langsung menimpali ucapan Bunga. Dirinya justru berpikir beberapa detik akan kata-kata yang di dengarnya baru saja. Setelah menyadari sebuah kesalahan, dia segera menoleh ke arah sang sahabat lagi.
"Kangen!" pekik Elina, "gak bakalan!"
"Halah, akui aja." Kini senyum Bunga menjadi sebuah seringai. Dia menyadari satu hal yang pasti pada wanita itu. Memang, Elina sepertinya sedang rindu sama Evan.
__ADS_1
"Udahlah, jangan bahas itu lagi!"
Satu kalimat terakhir Elina semakin meyakinkan Bunga. Orang akan menolak membahas tentang kebenaran hati yang disanggah oleh pikiran.
Mereka pun diam, tak ada lagi pembahasan. Namun, pada saat itu, Bunga tampak serius lagi dengan ponselnya. Beberapa kali dia mengetik dan membaca pesan balasan.
"Eh, El. Bukannya film "Inikah Cinta" akan tayang perdana di bioskop minggu depan. Pemain utamanya artis favoritnu, loh," ucap Bunga setelah selesai dengan kesibukannya.
Elina segera menghentikan kegiatannya. Dia merasa sedikit tersentak. "Oh, iya. Hampir lupa aku."
"Kamu enak, bisa nonton sama David. Lah, aku."
"Seperti gak bisa nonton sama David."
"Lah, emangnya kenapa?" tanya Bunga penasaran.
Bunga membulatkan matanya, tak percaya. Namun, dia segera berusaha menetralkan kembali perasaannya. Dirinya pun ikut berdoa untuk kesembuhan ibu dari David.
"Gimana kalau kamu pergi sama aku?" Bunga memberikan usul.
"Bukannya kamu pergi sama pacarmu sendiri. Aku jadi obat nyamuk dong nanti."
"Pacar?" Bunga bingung akan pernyataan Elina karena dia tidak memiliki pacar sampai saat ini. Bagaimana bisa sahabatnya berkata demikian.
"O ya, pacar. Kamu, 'kan, punya pacar baru?"
__ADS_1
Bunga pun semakin bingung. Dirinya merasa tidak pernah mengatakan pada Elina bahwa punya pacar baru. Bagaimana sang sahabat dapat menyimpulkan seperti itu. Dia pun segera mengelak pertanyaan itu.
"Terus, tiap hari aku lihat kamu sibuk dengan hp, ngapain lagi kalau gak lagi chat-an sama pacarmu?"
Bunga terlihat sedikit gelisah. Namun, beberapa saat kemudia dia tersenyum terang.
"Kamu ikut aja. Aku gak akan buat kamu jadi obat nyamuk. Biarin aja dia yang jadi obat nyamuk kita."
Elina pun meledek Bunga karena menyembunyikan pacarnya. Namun, untuk ikut nonton bareng, dia tidak merasa yakin. Bagaimana bisa malah pacar sahabatnya yang ajadi obat nyamuk.
Bunga pun meyakinkan sang sahabat agar bersedia ikut. Dengan usaha yang penuh, akhinya dia berhasil merayu Elina. Dalam hati, dirinya tersenyum senang akan keberhasilan itu.
***
Sang surya telah berada di peraduan, bersiap mengucapkan selamat tinggal untuk hari ini dan kembali lagi di esok yang cerah. Elina pun segera menutup buku kerjanya. Dia membereskan semua barang yang berserakan di meja, lalu segera pulang.
Entah ada magnet apa, setiap kali Elina melintas di depan rumah Evan, pasti akan menoleh ke arah sana. Kini dia lebih lama menatap rumah tersebut. Bahkan, dirinya hingga berusaha mengintip dari balik pagar.
Sepi, itulah keadaan rumah tersebut. Evan memang tak pernah terlihat eksis di sana. Namun, dirinya tahu bahwa pria itu masih tinggal di tempat tersebut. Dia hanya melihat Angga yang beberapa kali ke luar untuk membeli sesuatu di toko ibunya.
Elina selalu pergi ketika Angga datang. Dirinya merasa tak enak hati terhadap sang mertua. Namun, pria tersebut masih baik dan biasa saja kepada anggota keluarganya yang lain, seperti tidak terjadi apa-apa.
Ah, apaan, sih. Elin, jangan begitu. Ngapain juga ngintip rumah pria resek dan menyebalkan itu.
Elina segera memasukkan motor ke halaman rumahnya. Dia bergegas masuk ke dalam rumah. Namun, selepas menghilangnya wanita itu dari balik pintu, ada seseorang yang tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Tunggu tanggal mainnya."
Bersambung.