
Sinar senja baru saja menghilang, bergantikan kemerlip bintang yang bertaburan di langit. Walaupun belum tampak kehadiran sang ratu malam, tetapi langit sudah tampak indah.
Elina juga baru saja meninggalkan rumahnya. Dia ingin bertemu Bunga karena malam ini mereka akan menonton film bersama. Dirinya pun melajukan motornya ke tempat yang di minta sang sahabat.
"Kenapa juga nontonnya di tempat jauh begini. Di pusat perbelanjaan deket sini, 'kan, juga ada?" Elina ngedumal sendiri, merasa keberatan dengan usulan Bunga.
Namun, mau bagai mana lagi, dari pada dirinya nonton sendiri, lebih baik menyetujui ajakan Bunga. Lagi pula, kali ini sahabatnyalah yang akan membayar tiket bioskop. Entah, ada angin apa sehingga sang sahabat mau mebayar tiket untuknya.
Ketika dalam perjalanan, Elina merasa seperti ada yang mengikuti motornya dari belakang. Dia melihat dari kaca spion, tetapi orang tersebut tidak tampak jelas. Keadaan malam sedikit mengaburkan penglihatannya.
Elina merasa ketakutan. Dia menancap gas agar cepat sampai pada tempat tujuan. Nafas lega pun dihembuskan ketika sudah sampai dengan keadaan selamat. Wanita tersebut segera menemui Bunga di depan gedung bioskop.
"Itu pacar Bunga," gumam Elina.
Elina melihat pria dengan hoodie dan masker. Kepala pria itu pun ditutup, serta tak ketinggalan kaca mata hitam. Sungguh aneh menurutnya. Dia pun segera menghampiri mereka tanpa mempedulikan penampilan aneh pria itu.
"Kenalkan, ini Alex." Bunga menunjuk pria tersebut, lalu beralih ke Elina. "Alex, ini Elina. Sahabat aku."
__ADS_1
"Hi, salam kenal." Elina tersenyum ke arah Alex. Dia memberikan tangan untuk dijabat.
Alex pun menerima tangan Elina seraya menganggukkan kepala. Dia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya untuk menyapa balik wanita itu.
Pada saat itu pula, Elina tertegun. Dia merasa ada hal aneh yang menjalar ketika kulit tangan mereka bertemu. Jantungnya pun berdetak kencang ketika itu pula.
Kenapa aku ini? Ayo, dong, Elina. Dia itu pacar sahabatmu sendiri. Lagian aku juga udah punya David, ceracau Elina dalam hati.
Elina segera menarik tangannya, lalu menundukkan kepala, menyembunyikan perasaan itu yang mungkin terlihat di wajahnya. Entah, dia sendiri heran dengan apa yang terjadi. Namun, sesaat dia mengingat sesuatu ketika malam bersama Evan.
"Kamu kenapa geleng-geleng kepala?" tanya Bunga yang melihat tingkah aneh sahabatnya.
"Gak apa-apa, kok." Elina tersenyum canggung. "Cuma heran, dia kok pakai kayak gitu."
Bunga pun segera menjelaskan bahwa pria itu sedang sedikit tidak enak badan. Dia ingin menjaga diri dan juga orang di sekitarnya supaya tidak tertular. Elina pun mengangguk, paham karena dia sebenarnya juga tidak peduli.
"Sudah beli tiketnya, 'kan?"
__ADS_1
"Oh, udah. Ayo, kita masuk." Bunga menunjukkan 3 buah tiket di tangan.
Elina berjalan lebih dulu, sedangkan Bunga dan pria tersebut saling melirik sebelum melangkahkan kaki. Namun, tanpa disadari mereka semua, sang pria menarik kedua ujung bibirnya di balik masker.
Elina berhenti, menunggu Bunga untuk menanyakan tempat duduk yang akan mereka tempati. Pria itu masuk ke barisan kursi lebih dulu karena juga tahu kursi mana mereka harus duduk. Deretan sedikit di belakanglah yang mereka pilih.
"Ayo, El. Ikuti aja dia." Bunga mendorong Elina.
Tanpa mengatakan apa pun, Elina begitu saja mengikuti arahan Bunga. Dia berjalan di belakang pria tersebut. Dirinya pun duduk begitu saja ketika sampai. Namun, wanita itu baru menyadari bahwa dirinya berada di tengah antara sang sahabat dan pacarnya.
Elina meminta Bunga untuk bertukar posisi. Namun, sahabatnya menolak.
"Biarkan dia di sampingmu. Kalau dia di sampingku, nanti malah kamu jadi obat nyamuk. Mau?" tanya Bunga.
Akhirnya Elina pasrah. Lagi pula, diri juga tidak mau menjadi obat nyamuk. Dia pun kembali duduk tenang menghadap ke depan untuk menunggu film dimulai.
Bersambung.
__ADS_1