Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 18. Sepiring Berdua


__ADS_3

Elina duduk di tepi tempat tidur. Dia memainkan ponsel di tangannya, membuka-tutup aplikasi pesan berulang kali. Wanita itu masih menunggu pesan dari sang mantan kekasih yang tak kunjung membalas hingga malam tiba.


Terdengar suara pintu kamar di buka, Elina segera mengalihkan layar ponsel itu dengan memutar sebuah lagu. Dia tidak tahu harus bagaimana, aplikasi terdekat hanya itu. Jadi, wanita itu langsung menyambarnya saja.


"El, makan malam udah siap. Ayo, makan!" Evan berjalan menghampiri Elina. Namun, wanita itu diam saja, pura-pura tak mendengar.


"Kamu masih marah?" tanya Evan.


Elina tak sedikit pun mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan pria itu. Bahkan, menggerakkan kepala untuk menoleh pun tidak. Dia sangat marah karena kedian tadi.


Evan akhirnya lelah karena Elina terus saja diam. Dia meninggalkan wanita itu sendiri untuk makan malam.


Elina kembali pada kegiatannya tadi. Dia membuka pesan atas nama David, ternyata masih centang dua abu-abu. Pria itu juga tak ada tanda-tanda sedang online.


"Apa aku chat dia aja, ya?" gumam Elina. Namun, dirinya masih ragu, apakah harus mengirim pesan atau tidak. Wanita itu tidak ingin sakit hati apabila pesannya tidak kunjung dibalas.


"Tunggu sebentar lagi aja. Mungkin, sekarang dia lagi sibuk."


Elina merebahkan tubuhnya dia atas ranjang. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka kembali. Wanita itu segera menoleh ke arah pintu. Tampak Evan sedang membawa nampan berisikan makanan dan minuman.


Buat apa dia bawa makanan ke sini? batin Elina. Matanya terus mengikuti langkah Evan.


"Ayo, duduk!" perintah Evan. Kini pria itu telah berdiri di samping ranjang.


"Buat apa? Aku mau tiduran aja."

__ADS_1


"Gak baik makan sambil tiduran. Cepat duduk!"


"Siapa bilang aku mau makan?" Elina membalikkan tubuh, membelakangi Evan. Dia benar-benar tidak menyangka jika pria itu akan membawa makanan untuknya.


Huh! Mau menyuapku, ya? Tidak akan bisa!


"Sudah susah payah aku masakin kamu. Ayo, cepat bangun, makan! Jangan marah gitu terus dong, Sayang!" Evan memelas, meminta Elina supaya tidak marah lagi.


Melihat Elina yang masih diam, Evan lalu meletakkan nampan itu di atas nakas. Dia meraih lengan sang istri. Kemudian, dengan segenap tenaga, pria itu mengangkat tubuh sang istri.


"Ngapain?" tanya Elina panik. Dia takut jika Evan meminta jatah sebagai suami dengan paksa.


"Duduk yang baik." Evan menyandarkan Elina pada kepala ranjang. "Kamu harus makan biar gak sakit."


Evan duduk di sisi ranjang, berhadapan dengan Elina. Dia mengambil kembali nampan itu lalu diletakkan ke atas pangkuannya. Pria itu mengambil sesendok nasi dengan lauk capcay goreng. Diarahkannya cendok itu ke mulut Sang istri.


Elina merasa mual mendengar semua ucapan Evan. Dengan enggan, dia lantas membuka mulut supaya pria itu menghentikan ocehannya.


Benar saja, Evan segera berhenti berbicara. Senyum berkembang di wajah pria itu. Dia lalu memasukkan makanan ke dalam mulut sang istri.


Elina mengunyah makanan itu beberapa kali. Dia merasakan sebuah kelezatan dalam masakan itu. Masakan sang ibu pun dikalahkan oleh makanan itu.


"Beneran ini yang masak kamu?" Elina menatap tajam ke arah Evan.


"Kenapa? Gak enak?" tanya Evan cemas. Setahu dia, Elina sangat menyukai sayuran. Maka dari itu, dirinya memasak capcay untuk sang istri.

__ADS_1


"Hm, lumayan," kilah Elina. Dia tidak mau mengakui bahwa masakan itu benar-benar enak. "Kenapa nasinya banyak banget. Aku mana habis."


"Aku, 'kan, gak tau porsi makanmu? Kalau gak habis juga gak apa-apa." Evan kembali menambahkan sayur ke atas nasi. Dengan penuh ketelatenan, pria itu menyuapi sang istri.


Saking keenakan, tanpa diduga Elina telah menghabiskan banyak nasi. Kini perutnya sudah terasa penuh, tak mampu menampung makanan lagi.


"Udah." Elina menggelengkan kepala ketika Evan hendak menyuapinya lagi. "Aku sudah kenyang."


"Beneran?" tanya Evan. Dia mencoba mayakinkan bahwa wanita itu benar-benar kenyang. Pria itu sangat senang karena Elina makan begitu banyak.


"Iya." Elina menganggukkan kepala. "Tuh, 'kan, nasinya sisa?"


"Gak apa-apa. Biar aku makan sisanya."


"Eh, kok, dimakan?" Elina mengernyitkan dahi, heran dengan ucapa Evan.


"Emang kenapa? Aku gak Boleh makan? Udah lapar, nih, dari tadi belum makan."


"Tapi, gak sisaku juga. Kamu, 'kan, bisa ambil lagi yang baru? Kamu gak jijik makan itu?"


"Kenapa juga jijik?"


Evan segera memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Dia terlihat sangat menikmati makannya.


"Terserah!" Elina mengabaikan Evan lalu segera memainkan ponselnya kembali.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2