Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 70. Perasaan Aneh


__ADS_3

Gelap perlahan tergerus oleh terang yang perlahan nyilaukan mata. Pupil pun menyesuaikan diri dengan ke adaan sekitar. Beberapa kali kerjapan, akhirnya dapat memberikan penglihatan yang sempurnya.


Kini Elina melihat sekitar, semua serba putih. Dia pun seketika teringan dengan apa yang terjadi semalam. Dua orang preman menghampiri dirinya, lalu berakhir di rumah sakit. Seperti kejadian saat itu.


"Apakah kejadian kemarin cuma mimpi?" tanya Elina pada diri sendiri.


Dia mencoba mengingat baik-baik apa yang telah terjadi. Elina merasa bahwa telah bermimpi tentang David yang sedang bermain api. Akan tetapi, apa yang dirasakannya sangat nyata. Sakit hati, sesak dan juga amarah yang membara masih terasa hingga saat ini.


"Tidak, itu bukan mimpi. Pria bren9sek itu benar-benar hanya memanfaatkanku."


Elina meringis ketika merasakan sakit di kepala. Dia segera mengedarkan pandangan, menyusuri ke seluruh tubuh. Hampir seluruh bagian tubuh bagian kanannya ditutup dengan perban. Ini juga merupakan satu bukti bahwa dia di sini sekarang tidak sama dengan saat itu.


Elina segera meraba bagian bawah tubuhnya. Tidak terasa apa-apa, itu berarti kedua preman itu tidak melakukan apa pun padanya.


Ketika Elina tengah terbenam dalam spekulasinya, pintu kamar terbuka. Dia segera menatap pintu untuk menunggu siapa yang datang. Ternyata Evan yang ke masuk dari balik pintu.


"Kamu udah bangun?" tanya Evan. Dia berjalan menuju nakas untuk meletakkan beberapa buah di sana.


Elina terus saja mengikuti ke mana Evan berjalan dengan matanya. Entah mengapa perasaannya menjadi senang seketika. Jatung pun berdegup kencang hanya karrna kedatangan pria itu.


Perasaan apa ini? Oh, jantung. Kenapa detakanmu tak terkendali? Apa diam-diam suka sama dia, ya?


Elina menggeleng cepat. Wanita menyangkal dengan apa yang tengah terjadi padanya. Namun, ada sesuatu yang aneh, perasan ingin merasakan hangat peluk Evan. Dia pun berusaha untuk duduk.

__ADS_1


"Eh, jangan bergerak dulu. Nanti lukamu gak sembuh-sembuh, loh." Evan segera mendekati Elina.


Elina tak mendengarkan apa yang dikatakan Evan. Dia masih saja berusaha untuk duduk. Akhirnya, pria itu pun membantu dirinya duduk.


Elina segera memeluk Evan setelah berhasil menegakkan tubuh. Dia tak peduli dengan tangan yang penuh perban. Wanita itu hanya ingin memenuhi keinginannya saja.


"Apa kamu benar-benar gagar otak?" Evan heran dengan tingkah Elina. Dirinya pun tak membalas pelukan wanita tersebut.


"Gak," jawab Elina singkat.


"Kok, tiba-tiba peluk aku gini. Bukannya semalam kamu marah sama aku? Terus, gara-gara jatuh kamu jadi lupa, ya? Syukurlah kalau begitu," cerocos Evan tanpa bisa disela.


Elina pun seketika menampilkan wajah bebek. Bibirnya sudah maju sekian mili. Dia tidak senang dengan ucapan Evan.


"Iyalah. Kamu 'kan jadi lupa sama marahmu padaku."


"Terserah."


Elina tak mau berdebat lagi. Dia dengan cepat melempar wajahnya ke arah lain, yang menandakan bahwa sedang merajuk. Namun, dirinya tersenyum di dalam hati. Perdebatan seperti inilah yang dia rindukan selama beberapa minggu terakhir.


"Udah, jangan marah lagi. Nanti kamu tambah cantik, loh," rayu Evan. Dia merengkuh tubuh sang istri masuk ke dalam pelukannya.


"Marah, kok, cantik," protes Elina. Akan tetapi, kali ini dirinya tidak menolak perlakuan Evan.

__ADS_1


Evan diam saja, menikmati hangatnya pelukan Elina yang lama dia rindukan. Hatinya sangat senang sehingga membuat degup yang sangat berantakan. Pasti wanita itu menyadari karena kini kepalanya tepat di sana.


Keheningan terjadi beberapa saat. Degup jantung bersautan, menciptakan sebuah irama. Kedua orang itu pun menikmati irama cinta yang mengalun di antara mereka. Namun, deheman berhasil mencuri perhatian Elina.


"Sebelum pingsan, aku dengar kamu mengatakan sesuatu, El. Apa itu? Aku mau dengar lagi," ucap Evan seraya tersenyum tipis.


Ingatan Elina seketika mundur beberapa jam yang lalu ketika dua preman mendekatinya. Dia ingat jelas apa yang dia ucapkan. Seketika dia merasa malu, tetapi tak ingin menunjukkannya pada Evan.


"Aku, 'kan, gagar otak? Mana ingat," elak Elina. "Emangnya Mas Evan tahu dari mana? Bukannya Mas gak ada di sana saat itu?"


"Apa sih, yang gak aku tahu," ucap Evan bangga.


Elina pun mendecih mendengar ucapan Evan. Dia merasa pria itu terlalu sombong. Dirinya pun mempunyai spekulasi bahwa ada yang memberi tahu sang pria. Dia mendesak agar sang suami mengatakannya.


"Kedua preman itu?" Elina tersentak atas penyataan Evan. Dia merasa sangat mustahil jika mereka yang mengatakannya. Bahkan, sampai mengatar dirinya ke rumah sakit.


Evan hanya menganggukkan kepala. Dirinya tahu kalau kini Elina sedang bingung. Akhirnya, dia menceritakan semua apa yang terjadi pada sang istri.


Elina pun akhirnya mengerti. Ternyata, saat kejadian yang pertama waktu itu, kedua preman tersebut bisa saja kehilangan nyawa di tangan Evan. Namun, keduanya dilepaskan begitu saja. Mereka hanya diancam akan berpindah dunia, jika mengganggu dirinya lagi.


Jadi, ketika kejadian semalam, kedua preman itu berinisitif untuk membawa Elina ke rumah sakit. Mereka menganggap sebagai pembalasan budi. Wanita itu percaya karena dirinya merasa baik-baik saja. Sekarang, dia bersyukur masih ada Evan di sampingnya.


Untung aja waktu itu aku gak mau. Tapi, apakah mas Evan benar-benar mau menerima aku lagi? Dia, 'kan, tahunya aku udah dibobol sama David waktu itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2