
Malam begitu damai dengan suara air hujan yang menghujam bumi. Jangkrik pun bersorak-sorai, memperdengarkan kebahagiaannya. Evan pun berharap kebahagiaan itu juga menghampirinya. Dengan penuh kecemasan, dia menunggu Elina selesai mandi.
Pintu kamar mandi di buka, tampak Elina yang sudah cantik dengan rambut basah yang dibiarkan terurai. Rambut sepungunggunya bergoyang ketika dia berjalan, membuat wanita itu kelihatan semakin cantik.
Seperti biasa, Elina segera berjalan keluar kamar tanpa mengajak Evan. Dia menuruni tangga, tetapi saat tepat di tengah, tatapannya tertuju pada ruang remang-remang yang hanya bercahayakan lilin. Kakinya pun berhenti melangkah.
"Kenapa meja makan gelap?" tanya Elina pada pria yang ikut berhenti di belakangnya. Dia tahu Evan telah mengikuti dirinya saat keluar kamar tadi.
"Gak apa-apa," jawab Evan singkat. Senyumnya tampak berkembang.
"Kalau gak apa-apa, kenapa pakai lilin?" Elina menunjuk pada lilin-lilin yang menyala di atas meja.
Evan menggeleng pelan seraya menghembuskan nafas panjang. Dia tidak mengerti apakah Elina tidak tahu apa maksud dan tujuan lilin itu atau apakah memang cuma pura-pura bodoh. Setiap wanita pasti akan segera tahu bahwa semua itu didesain untuk makan malam romantis.
"Biar terang." Evan menjawab tanpa ambil pusing. Dia tidak ingin menjelaskan maksud dan tujuannya.
"Kalau mau terang, 'kan, bisa nyalain lampu? Kenapa pakai lilin segala." Elina masih saja tidak mengerti.
__ADS_1
"Apa lampunya rusak? Kalau emang rusak juga bisa diganti, 'kan? Masak cowok gak bisa ganti lampu."
"Sudahlah, ayo kita turun!" sela Evan akan cerocosan Elina yang tak berujung. Dia segera meraih tangan Elina yang tentu saja di tepis oleh wanita itu seketika.
Elina berjalan di belakang Evan, lalu segera duduk setelah berada di sisi meja makan. Dia meraih nasi, lalu ditaruhnya ke atas piring. Wanita itu tidak mempedulikan tatanan meja yang sudah di atur sedemikan rupa sehingga terlihat elegan.
Evan sekali lagi menghembuskan nafas panjang. Dia tidak tahu harus bagaimana mentampaikan maksud dan tujuannya. Jika dikatakan secara gamblang, pria itu merasa akan hilang kesan romantisnya.
Evan hanya menginginkan bahwa Elina akan terkesan sendiri. Namun, sayang seribu sayang, wanita itu sangat cuek dengan situasi sekarang. Dia baru sadar bahwa sang istri begitu terlalu polos.
Makanya, gampang banget di bodohi pria itu. Memang cewek lugu.
Setelah kejadian kemarin saja Evan bersusah payah untuk membuju istrinya. Dia harus menahan kesabaran ekstra ketika tidak dianggap setelah melakukan kebaikan untuk sang istri. Itu pun sampai sekarang masih juga belum sepenuhnya memulihkan hati Elina. Namun, setidaknya wanita tersebut tidak semarah saat itu.
"Mana papa?" tanya Elina. Dia baru tersadar ketidak hadiran Angga setelah beberapa kali suapan ke dalam mulutnya.
"Papa di kamar. Papa memang memberikan waktu makan malam ini untuk kita berdua," jelas Evan.
__ADS_1
"O." Hanya itu yang keluar dari mulut Elina setelah mendengar penjelasan dari Evan.
"Untuk itu, aku buat makan malam kita seperti ini," lanjut Evan. Dia berharap dengan berkata demikian, Elina akan menyadari maksud makan malam itu.
Elina hanya menganggukkan kepala. Sebenarnya dia setengah dengar-setengah tidak apa yang diucapkan Evan. Wanita itu tak peduli dengan hal tersebut. Dia lanjut makan dan menikmati makanan spesial buatan sang suami.
Evan sedikit kecewa karena Elina sama sekali tidak memberikan respon apa pun. Masakan yang sudah dia masak dengan susah payah, tak mendapat pujian. Dirinya hanya menyaksikan sang istri yang tengah menikmati makanan itu karena masih dalam kegundahan.
"Kenapa diam aja? Gak lapar?" tanya Elina hanya melirik ke arah Evan. "Malah lihatin aku mulu," gerutunya. Dia tidak suka jika dilihatin terus. Makan pun terasa tidak nyaman.
Tangan Evan terulur, menghentikan aksi sang istri yang masih asik memasukkan makanan ke dalam mulut. Dia sudah mengambil keputusan untuk mengatakannya. Jika dibiarkan terus, Elina tak akan menyadari hingga selesai makan nanti.
"Elin," panggilnya lembut. "Kamu gak nyadar, ya?"
"Hem." Elina seketika menghentikan pergerakan bibirnya, lalu menoleh ke arah Evan. Dia menelan sisa makanan yang ada di dalam mulut sebelum bertanya, "Apa?"
"Makan malam ini aku buat spesial. Aku ingin makan malam romantis sama kamu malam ini," jelas Evan.
__ADS_1
Bersambung.