Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 22. Restoran Jepang


__ADS_3

Setelah sampai di tempat tujuan, hal pertama yang Elina lakukan adalah mengecek isi kartu pemberian Evan. Wanita itu bersama sahabatnya memasuki ruang ATM. Bunga juga penasaran, berapa banyak uang yang diberikan Evan.


"Wow," pekik Bunga, "segitu uang bulanan buat kamu?


Layar ATM menunjukkan anggka lima puluh juta. Elina pun membelalakkan mata melihat nominal itu. Tak pernah terpikir akan mempunyai uang begitu banyaknya.


Maklumlah, sebagai karyawan biasa, gajinya hanya sebatas UMR. Lebih sedikit mungkin karena bonus kerja. Itu pun akan segera habis di akhir bulan karena digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.


"Entahlah. Dia cuma bilang kalau nanti tiap bulannya akan kirim uang ke sini. Aku di suruh pakai uang ini aja sekarang," jelas Elina.


"Kalau aku jadi kamu, mending di rumah aja."


"Gak, ah. Nanti aku bosen. lagian, gak ketemu kamu, dong, nanti."


"Tenang aja. Kamu bisa ngajak aku jalan buat habisin uang suamimu, kok." Bunga nyengir kuda.


"Maunya kamu." Elina melirik ke arah Bunga. "Ayo, kita belanja sekarang."


Mereka berdua berjalan memasuki pusat perbelanjaan. Berbagai macam toko kedua wanita itu masuki. Tidak ada yang menyia-nyiakan kesempatan itu. Apa saja yang diinginkan, segera dibeli tanpa ragu.


Tidak terasa, kini sudah penuh tangan kedua orang tersebut. Mereka kelelahan setelah berputar-putar beberapa jam di sana. Cacing di dalam perut pun sedah mulai protes.

__ADS_1


"Ayo, makan dulu. Udah laper, nih." Bunga mengelus-elus perutnya.


Elina menyetujui usul sang sahabat. Kedua wanita itu segera mencari tempat untuk makan. Sebuah tempat makan cukup populer di pusat perbelanjaan itu yang mereka berdua masuki. Dengan harga yang tentunya cukup menguras kantong.


Tempat makan itu mengusung tema restoran Jepang. Berbagai jenis makanan yang berasal dari Negara Tirai Bambu tersedia di sana. Shabu-shabu, Sushi dan beberapa makanan lainnya di pesan. Tak tanggung-tanggung, satu meja hampir penuh dengan makanan.


"Kamu yakin, ini bisa abis?" tanya Bunga. Dia tak menyangka jika sang sahabat membeli begitu banyak makanan.


"Kalau gak habis, ya, dibungkus aja," jawab Elina enteng.


Karena ini pertama kalinya Elina menjejakkan kaki di tempat makan seperti itu. Dia ingin mencicipi semua masakan yang ada di sana. Mumpung juga ada yang memberi dirinya uang banyak.


"Udahlah. Ayo, makan! Udah laper, nih." Elina mulai memegang sumpit. Dia memilih makanan mana yang ingin dicicipi terlebih dahulu.


Elina mengarahkan sumpit ke arah potongan daging tipis-tipis. Namun, setelah diangkat, daging itu merosot turun ke bawah. Beberapa kali dia melakukan itu, tetapi hasilnya sama. Dia tak bisa mengambilnya dengan sumpit.


"Kamu malu-maluin aja." Bunga menggelengkan kepala. "Begini aja gak bisa, ngapain juga tadi ngajak makan di sini," lanjutnya seraya memperlihatkan bagaimana cara mengambil irisan daging itu.


"Aku belum pernah makan beginian. Pengen tahu rasanya kayak apa." Elina menaruh sumpit ke atas meja. "Makan yang lain aja." Matanya memindai makanan yang ada di atas meja.


"Yang lain juga pakai sumpit, tau," protes Bunga.

__ADS_1


"Gak juga. Lihat ini." Elina mengambil sebuah sushi dengan tangan lalu dimasukkan ke dalam mulut.


Bunga segera menoleh ke kanan-kiri, takut ada yang memperhatikan mereka. Untung saja tak ada yang tahu. Wanita itu bernafas lega.


"Kamu itu, malu-maluin aja."


"Biarin, aku juga bayar, kok," ucap Elina tanpa beban.


"Sini, aku ajari. Lihat aku!"


Bunga mulai mengajari Elina bagaimana menggunakan sumpit. Mulai cara memegangnya hingga mengambil makanan. Tak menunggu waktu lama, Elina sudah mulai bisa menggunakan sumpit. Namun, belum mahir betul.


"Yei, aku bisa." Elina girang, suaranya membuat beberapa orang menoleh ke wanita itu. Dia pun nyengir kuda ketika menyadari hal tersebut. Dirinya menundukkan kepala, menyembunyikan wajah karena malu.


"Tahu malu juga kamu," ucap Bunga. Dia juga menahan malu akibat ulah sang sahabat.


Kini, Elina bisa menikmati makanan itu dengan perlahan. Di sela-sela makannya, dia melihat sesosok yang begitu dikenal sedang berjalan dengan orang yang berlainan jenis ke1amin.


Elina heran, apa yang lakukan orang itu, berdua lagi. Tidak ingin membuang waktu hanya dengan argumennya sendiri yang tidak pasti, wanita itu segera memanggil orang tersebut.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2