Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 12. Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Akhir pekan, kesibukan terlihat di kediaman keluarga Cahyono. Mereka sedang membersihkan rumah untuk menyambut saudara-saudara jauh. Seperti kebiasaan, para kerabat pasti akan menginap di sana. Eko—kakak Elina pun datang bersama Aliya—istrinya.


 


Namun, terlihat di depan televisi, Elina malah duduk melipat kaki. Dia tidak menghiraukan hiruk-pikuk di rumah itu. Dengan santainya, gadis itu memakan keripik singkong sambil menonton TV.


 


"Elin! Bantu, dong! Kamu gak malu sama Mbak Aliya yang beresin kamarmu?" Eko mulai kesal kepada Elina.


 


"Aku gak minta kamarku dibersihin, kok," ucap Elina. Dia kelihatan cuek dan masih memandangi TV.


 


"Kamu ini! Semua ini demi kamu, 'kan? Kenapa kamu malah santai gitu?" sungut Eko. Dia sungguh tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran sang adik. Benar-benar tidak tahu malu.


 


"Siapa suruh kalian serepot itu? Cuma nikah saja, kok, kayak mau kedatangan presiden."


 


"Kamu ini memang ..."


 


Eko tak sempat meneruskan ucapannya karena Aliya sudah datang. Wanita itu membelai lembut dada sang suami.


 


"Sudahlah, Mas. Elina bentar lagi nikah, jangan sampai kelelahan! Nanti waktu serangan dia pingsan duluan. ‘Kan gak asyik." Aliya melirik ke arah Elina.


 


Orang yang dilirik juga melirik Aliya. Dia merasa tidak suka dengan ucapan sang kakak ipar.


 


"Benar juga." Gelegar tawa keluar dari mulut Eko.


 


"Ih, apaan. Dasar dua insan absurd!" gumam Elena.


 

__ADS_1


Eko akhirnya meninggalkan tempat itu, lalu keluar rumah. Tinggal Elina dan Aliya di sana.


 


"El, dua hari lagi kamu 'kan nikah. Udah nyiapain untuk malam pertama, belum?" tanya Aliya.


 


Wanita itu menjatuhkan tubuhnya di sebelah Elina. Sang adik pun menggeser duduknya karena dia sedang sebal sama istri kakaknya itu.


 


"Untuk apa malam pertama disiapin? Paling juga kayak gitu."


 


"Kayak gitu bagaimana? Emang kamu tahu?” Kamu harus mempersiapkannya baik-baik, biar malam pertama berkesan," jelas Aliya.


 


"Kamu harus luluran dulu. Pakai lulur yang wangi, mandi pakai berbagai minyak dan sabun. Rawat itu si miss, biar nanti Evan betah dan gak mau ke luar kamar sampai 2 hari 2 malam. Kayak masmu."


 


Aliya tersenyum centil, alisnya pun naik turun seperti naik motor pada jalanan rusak. Dia teringat kembali akan malam pertamanya dulu hingga makan pun di kamar.


 


 


"Halah, sebentar lagi juga jadi calon. Kalau sudah tahu rasanya, pasti kamu ketagihan." Lagi-lagi tawa Aliya tak tertahankan. Dia sangat senang bisa menggoda Elina.


 


Kedua wanita itu masih asik bercakap tentang malam pertama ketika Eko telah berada di rumah tetangganya. Di sana pria itu sedang melihat-lihat koleksi ikan yang baru di beli Evan.


 


"Arwana batik, wow ... pasti mahal, ya?" kagum Eko. Dia memandangi ikan yang tengah meliuk di dalam akuarium.


 


"Untuk yang namanya hobi, gak ada yang namanya mahal, Mas. Harga akan terbalaskan dengan kepuasan saat melihatnya."


 


"Itu kalau kamu. Aku juga hobi, tapi gak akan ngeluarin uang yang ekstra hanya buat ikan. Istriku pasti akan ceramah sepanjang hari kalau tahu aku beli ikan sedikit mahal."

__ADS_1


 


Penjelasan Eko membuat Evan meringis seraya menggaruk tengkuk. Ya, memanglah begitu, Eko tidak bisa terlalu menghambur uang seperti Evan karena dia hanya supervisor di pabrik mie instan. Bisa menjalani rumah tangga yang rukun dan harmonis saja dia sudah bersyukur.


 


"Memang, harga gak akan membohongi kualitas. Cantik banget."


 


Setelah mata Eko puas mengikuti pergerakan ikan, dia duduk di sofa tak jauh dari sana. Pria itu hampir saja melupakan niat utamnya untuk bertemu dengan Evan gara-gara ikan itu.


 


"Ev, gimana kamu bisa berani melamar Elina?" tanya Eko.


 


"Ya, saat aku dengar dia putus, aku tekatkan saja buat melamar dia," jelas Evan. Dia memang tidak ingin melewatkan sebuah kesempatan. Kalau tidak begitu, dia merasa tidak ada kesempatan lagi.


 


"Kamu gak takut jika ditolak? Dia, 'kan, sangat benci kamu."


 


Evan masih tak mengerti kenapa Evan senekat itu. Walaupun, dia tahu bahwa pria itu memang menyukai adiknya sejak kecil.


 


"Aku tahu Elina itu nurut sama ibu. Sedangkan, ibu menyukaiku."


 


Evan tersenyum bangga pada kecerdasannya sendiri. Dia sudah memikirkan semua itu matang-matang. Jadi, tidak ada alasan untuk ragu.


 


"Kamu bisa saja memanfaatkan situasi. Baguslah kalau begitu. Aku gak usah repot-repot jaga dia lagi." Eko menepuk pundak David, yang berarti dia telah melemparkan tanggung jawab kepada pria itu.


 


"Aku pasti akan selalu menjaganya dan membahagiakan dia. Mas Eko tenang saja." Evan sangat serius mengatakannya.


 


Evan akan berusaha meluluhkan hati Elina dan membuat gadis itu jatuh cinta padanya. Rencana demi rencana sudah dia susun. Dirinya sangat yakin, tidak lama lagi sang putri kecil akan segera jatuh cinta padanya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2