
Elina sedikit bingung, kenapa David menanyakan hal itu. Bukankah mereka kini tengah membicarakan uang untuk operasi? Apa hubungannya dengan kartu tersebut?
Ya, kartu itu memang masih di tangan Elina. Sang suami menolak ketika wanita itu mengembalikannya. Semalam, dia malah mendapat pemberitahuan jika sejumlah uang telah masuk ke dalam rekening tersebut.
Elina tak tahu apa alasan Evan yang masih saja memberinya uang. Namun, dia enggan untuk bertanya dan tidak mau menggunakan kartu tersebut. Wanita itu berpikir, jika menggunakan kartu tersebut, maka sang suami pasti akan berpikir bahwa dirinya masih mau kembali.
"Masih, sih. Kenapa?" tanya Elina. Dia melirik ke arah David, seperti mengatakan bahwa pasti pria itu tahu dirinya tak mau mengutik kartu tersebut.
David memahami maksud dari lirikan Elina. Jadi, kini dia berusaha merayu Elina agar kekasihnya itu mau mengambil uang dari sana. Namun, Elina masih saja menolaknya.
"Please, El! Demi ibu," ucap David. Matanya sarat akan ketulusan dalam permohonan tersebut.
Elina menarik nafas panjang, lalu membuangnya perlahan. Wanita itu sadar betul akan pentingnya uang itu bagi David. Dia tak boleh membesarkan egonya karena ada nyawa yang harus dipertaruhkan.
Akhirnya, Elina mengalah. Semua itu karena demi kesembuhan ibu David. Dia segera mengirim sejumlah uang ke nomor rekening sang kekasih. 10 juta merupakan nominal kecil untuk kartu pemberian Evan.
***
__ADS_1
Hari-hari berlalu, sudah satu bulan lebih sejak kejadian di hotel saat itu. Ketenangan kini telah Elina dapatkan. Ke mana pun dia pergi, tak pernah ada bayang-bayang Evan lagi. Sejak kejadian waktu itu, memang pria tersebut tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi di depan Elina.
"Elin berangkat dulu," pamit Elina kepada kedua orang tuannya.
Seperti biasa, dia menuntun motor hingga ke jalan depan rumah. Elina berhenti sejenak untuk mengenakan helm. Pada saat itu, tanpa disadari, dia menengok ke arah pintu gerbang rumah di depannya. Untuk beberapa saat terdiam, seperti sedang menunggu sesuatu.
Namun, setelah kesadarannya kembali, Elina segera menggelengkan kepala. Dia merasa sangat bodoh dengan menoleh ke arah sana. Akan tetapi, entah mengapa hati kecilnya sedikit merasa kecewa karena pintu gerbang itu tak bergerak sedikit pun.
Elina segera menghidupkan mesin motornya, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
***
Elina masih saja memainkan makanan di dalam piring. Entah mengapa beberapa hari ini wanita itu begitu malas makan. Padahal, tak ada sedikit pun masalah di antara dirinya dan David. Entah, dia tak tahu pasti apa penyebabnya.
Elina menghembuskan nafas panjang setelah beberapa saat pikirannya dalam kekosongan. Wanita itu melihat Bunga yang duduk di sampingnya. Dia mengernyitkan dahi.
Ngapain sih, Bunga. Sibuk banget akhir-akhir ini. Apa dia punya pacar baru, ya? Begitulah spekulasi yang ada dalam benak Elina.
__ADS_1
Setiap kali Elina melihat Bunga, wanita tersebut selalu tampak serius menatap dan mengetik sesuatu di ponsel. Entah, Elina tak tahu apa yang tengah dilakukan sahabatnya. Setiap kali dirinya bertanya, pasti tidak mendapat jawaban yang memuaskan.
Ngintip, ah. Elina mencondongkan badan ke arah wanita di sebelahnya. Dia mencoba melirik pada layar ponsel wanita tersebut. Namun, sang sahabat menggunakan mode layar gelap, sehingga dirinya tak dapat mengintip.
"Ngapain ngintip-ngintip?" tanya bunga yang menyadari aksi Elina.
"Eh, gak, kok." Elina nyengir kuda karena telah ketahuan oleh sang sahabat. "Cuma penasaran, doang. Kamu sih, gak mau kasih tahu aku."
Bunga segera menyimpan ponsel ke dalam tas. "Biarin. Ini urusan negara. Kamu gak akan paham."
"Apaan urusan negara," gumam Elina. Dia merasa tak senang akan ucapan Bunga. Akan tetapi, dirinya tidak membenci sang sahabat.
Bunga pun mengabaikan gumaman Elina. Dia segera memakan apa yang ada di hadapannya. Di tengah makannya, wanita tersebut sempat melirik ke arah Elina.
"Kamu kenapa lagi?" tanya Bunga. Dia melihat Elina terus saja membulak-balikkan makanan.
Bersambung.
__ADS_1