
"Dia aja kayak gitu. Masih mau mengekangku!"
Elina mejatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Dia pulang lebih awal dari yang telah direncanakan. Padahal, sebelumnya wanita itu ingin pergi jalan-jalan hingga malam. Namun, setelah melihat kejadian itu, suasana hati menjadi buruk, lalu dia metuskan untuk pulang.
Tak disangka ternyata pria itu juga bermain di belakangnya. Dia melihat Evan sedang duduk bersama seorang wanita. Dari penglihatan Elina, mereka begitu dekat. Keduanya saling berbincang bahkan tertawa bersama.
"Dasar laki-laki. Baiklah kalau begitu. Aku gak akan sungkan lagi."
Elina segera bangkit, lalu berjalan menuju kamar mandi. Dia membasuh tubuhnya setelah hampir seharian berkeliling. Efek segar membuat pikirannya sedikit tenang.
Dia segera keluar kamar mandi dengan berbalut handuk. Tanpa diduga, Evan telah berada di dalam kamar, duduk di atas sofa dengan menatap ke arahnya. Pria itu seperti menunggu dirinya keluar dari kamar mandi.
Terus dilihati, membuat Elina menjadi salah tingkah dan juga takut. Tatapan Evan sungguh seperti siap menerkam mangsa. Dari ujung kaki hingga ujung rambut, tak luput dari pindaian.
Elina berjalan cepat menuju lemari pakaian, mengambil pakaian apa saja yang dia temukan. Kemudian, dirinya masuk kembali ke dalam kamar mandi untuk memakai baju.
Selama ini memang Elina hanya pernah sekali keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk, yaitu ketika di hotel. Ingatan kejadian setelah mandi di sana membuatnya sedikit trauma.
__ADS_1
Elina takut jika Evan lagi-lagi dengan tiba-tiba memeluknya. Oleh sebab itu, dia tidak pernah lagi berganti baju di hadapan pria itu. Dia akan selalu membawa serta baju ganti ketika hendak mandi.
"Sial! Kenapa baju ini," gerutu Elina. Dia merasa kesal pada diri sendiri karena telah salah mengambil baju. "Bodohnya aku, bisa salah ambil baju begini."
Tentu saja, kini yang ditangannya adalah selembar baju tidur transparan. Baju yang sama, dia kenakan di hotel saat itu.
"Kenapa aku bisa lupa membuangnya? Bagaimana ini?"
Elina begitu risau. Jika harus keluar, lalu mengambil baju yang lain, itu tidak mungkin. Hal tersebut bisa menyenangkan mata Evan lagi. Akhirnya, setelah lama berpikir, dia dengan berat hati memakai baju itu.
"Aduh, bagaimana ini. Gak mungkin juga aku di dalam sini terus," gumam Elina. Dia sangat bingung sekali saat ini.
Evan hanya menarik kedua ujung bibirnya. Pria itu tahu bahwa sang istri sedang galau di dalam sana, enggan untuk keluar karena memakai baju itu. Dia juga sudah membayangkan tubuh Elina yang berada di balik baju sedikit tembus pandang itu.
Evan tahu apa yang dikenakan Elina saat ini karena hafal betul dengan baju yang satu itu. Saat wanita itu mengambil dari dalam lemari, dirinya sudah tersenyum senang. Akhirnya, dia kembali akan melihat lekuk tubuh sang istri, walaupun hanya siluet saja.
"Kenapa gak keluar-keluar?" tanya Evan sedikit berteriak.
__ADS_1
"Gak mau. Ada, Mas Evan, di situ," jawab Elina sedikit berteriak pula. Dia melihat senyum seringai dari wajah pria itu, membuat perasaan semakin tidak enak. Pintu pun ditutupnya kembali.
Apa dia tahu apa yang aku pakai, ya? Kenapa dia bisa senyum seperti itu? Tambah ngeri aja, nih.
"Emangnya, kenapa kalau ada aku? Bukannya kamu udah pakai baju? Ayo, cepat keluar!"
Lama juga menunggu Elina keluar. Hampir setengah jam wanita itu di dalam kamar mandi. Namun, Evan masih setia menunggu dengan meperhatikan terus pintu ruangan itu.
"Kamu ngapain sih, di sana? Pingsan?" tanya Evan lagi. Dia merasa sudah cukup lama Elina tidak menampakkan diri bahkan suaranya pun tak terdengar.
Di dalam sana, Elina masih bingung, mondar-mandir. Kadang dia juga duduk di atas closet ketika lelah berdiri. Andai saja kakinya mengeluarkan cat seperti stempel, mungkin lantai kamar mandi sudah dipenuhi dengan jejak kaki wanita itu.
Tanpa terasa, perut Elina pun sudah berteriak. Dia sudah tak tahan karena begitu lapar. Dengan menarik nafas panjang, dirinya membuka pintu kamar mandi. Kaki mulusnya mulai melangkah keluar.
Pada saat itu pula, mata Evan terbuka lebar. Senyum pun ikut mengembang. Dia menanti seluruh tubuh wanita itu keluar dari kamar mandi. Sungguh saat mendebarkan yang sangat dinanti pria itu. Tanpa dia pinta, sang istri mengenakan baju dinas.
Bersambung.
__ADS_1