Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 41. Usaha yang Gagal


__ADS_3

"O."


Reaksi Elina sungguh membuat Evan kecewa. Dia pun tak melanjutkan ucapannya. Dengan sedikit lesu, pria itu mengambil makanan yang ada di hadapannya.


Hanya sedikit yang mampu Evan masukkan ke dalam mulut. Dia sudah tidak berselera makan sejak Elina tidak memberikan respon yang baik. Pria itu bangkit dari duduknya, lalu melangkah untuk meninggalkan meja makan.


Elina hanya melirik ke arah Evan. Dia merasa heran dengan pria tersebut. Beberapa saat yang lalu dirinya merasa bahwa sang suami sangat bersemangat, tetapi sekarang justru kebalikannya. Namun, dia tak mau ambil pusing untuk memikirkannya, lalu kembali pada kegiatan semula.


Evan berjalan dengan langkah lemah. Tangannya menyambar saklar sebelum dia menaiki tangga. Cahaya lampu pun segera mengalahkan nyala lilin, lalu membuat apa yang berada di atas meja makan tampak jelas.


"Nah," ucap Elina seraya tersenyum senang, "kalau gini dari tadi 'kan enak makannya. Duri ikan juga kelihatan."


"Aneh-aneh aja, pakai matiin lampu segala. Dia pikir aku akan terkesan." Elina mengheduskan nafas kasar. "Aku gak akan terkesan olehmu. Dasar pria bermuka dua, baik di depan, bermain di belakang."


"Aku hanya akan menikmati fasilitasmu sambil nunggu David lulus. Terus aku nikah sama dia." Elina begitu girang ketika membayangkan hal itu. Sungguh masa depan yang sempurna bersama orang yang sangat dicintai. Hanya hal itu terus yang meilntas di benaknya.


"Oh, ya." Seketika Elina ingat sesuatu. "Mumpung gak ada dia, aku mau chat ayangku, ah."


Elina meraih ponsel di samping gelas minumnya. Dia pun mengirim pesan yang menanyakan kabar sang pujaan hati. Namun, senyum seketika sirna ketika melihat pesan itu hanya centang satu. Elina menghembuskan nafas panjang.

__ADS_1


"Centang satu lagi." Bibir Elina maju karena kecewa.


"Hp-nya bikin gemes, deh. Pengen cepat-cepat kirim uang biar dia cepat beli Hp baru. Tapi, saldoku gak cukup. Saldo kartu emas masih banyak, gak mungkin juga aku kirim pakai itu."


Elina meletakkan ponselnya kembali, lalu melanjutkan makannya. Berulang kali layar benda pipih itu dia pandangi, berharap menyala karena sebuah pesan masuk. Namun, harapannya tak kunjung terkabul, benda tersebut tak kujung bersinar.


Sedangkan kini, Evan telah berada di atas ranjang. Pandangannya kosong, tak tahu harus bagaimana. Hampir dua bulan bersama wanita itu, dirinya merasa tidak ada perkembangan sama sekali.


Walaupun penyelidikan sudah mendapatkan hasil, tetapi dalam situasi seperi ini, Evan tak mampu membuktikan hal itu. Dia juga takut mengatakan kepada Elina tentang seperti apa sebenarnya David. Jika salah bicara, malah akan membuat orang yang sangat disayangi semakin menjauh.


"Apa aku ajak dia jalan keluar aja."


"Tapi, gimana caranya? Makan malam romantis di rumah aja gagal, apalagi ajak jalan dia."


Ya, selama menikah, Evan memang tak pernah jalan-jalan ke luar bersama Elina. Dulu, awal mula mereka menikah, setiap kali diajak, wanita itu selalu memiliki beribu alasan. Entah capek, mau pergi bareng temen, ataupun hanya alasan malas. Jadi, setelah itu dia tak pernah lagi mengajak sang istri jalan hingga sekarang.


Evan sungguh pusing memikirkan hal itu. Namun, dia tak boleh membiarkan seperti ini terus. Jika hal ini berangsur-angsur, maka dia yang akan merasa lelah. Pikiran dan tenaga hanya akan terkuras sia-sia.


...****************...

__ADS_1


Dua hari berlalu, wajah senang tampak pada seluruh karyawan PT Santo Garment. Hasil kerja keras mereka selama sebulan, telah dibayarkan. Banyak orang juga yang berlomba-lomba mentransfer uang. Entah untuk anak-istri, orang tua, saudara, bahkan cicilan-cicilan mereka.


Tak berbeda jauh dengan Elina. Dia segera mengakses Mobile Banking untuk menepati janjinya. Beberapa uang telah dikirimnya ke nomor rekening tujuan, yaitu rekening David.


"Gimana, Sayang, udah masuk, belum?"


Pesan Elina yang dikirim setelah transaksi berhasil. Tak berapa lama kemudian, balasan pun sampai.


"Udah, Sayang. Makasih banget. Kamu emang pacarku yang paling baik, deh."


"Sama-sama, Sayang." Emotikon mencium dengan bentuk hati di depan bibir, disematkan pada pesan itu.


"Sana, gih, beli hp baru. Aku gak mau chat aku hanya centang satu kayak kemarin. Pikiranku pasti akan ke mana-mana."


"Oke, Sayang. Aku langsung berangkat beli setelah pulang kuliah."


Elina merasa lega karena sebentar lagi David punya ponsel baru. Dia tak akan merasa kehilangan pria tersebut karena pesan yang dikirim pasti akan segera dibalas setelah benda itu didapat. Ya, kalau David juga tidak sedang sibuk. Namun, setidaknya pesan itu akan centang dua. Hal tersebut menandakan sang kekasih baik-baik saja karena pesannya telah terkirim.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2