
Dunia seakan jatuh menimpa Elina ketika rahasianya terbongkar oleh Bunga. Lingkarang hitam tiba-tiba berputar di depannya, membuat tekanan darah terasa menjadi nol seketika. Dingin sudah merasuk dari kaki hingga ujung rambut. Tangan pun sudah basah karena air yang keluar dari pori-pori.
Hanya seorang Bunga saja sudah membuatnya malu setengah mati. Ingin rasanya meringkuk dalam kegelapan. Menelan rasa malu sendiri di sana, tak ingin keluar lagi. Namun, dia tetap harus menghadapi ini.
Elina segera menjauhkan tubuh sehingga tangan Bunga terlepas dari lehernya. Dia membenarkan kerah, menutupi tanda merah itu kembali. Tak satu kata pun keluar dari bibir manis wanita itu, walau hanya sekedar pembelaan. Dirinya tidak tahu harus melakukan pembelaan apa lagi.
"Elin, kamu ... itu ...?" Bunga tidak dapat meneruskan pertanyaannya. Dia berharap bahwa Evanlah yang telah membuatnya.
Tentu saja, siapa lagi? Tanda merah merupakan tanda kepemilikan yang disematkan seseorang ketika mereka sedang dimabuk asmara di atas ranjang. Pria mana lagi yang dapat menyematkan itu di atas kulit mulus Elina kalau bukan suaminya.
Hal itu sungguh membiat Bunga terheran. Pasalnya, sebelum mereka terpisah oleh akhir pekan, Elina masih bercerita tentang keburukan Evan. Mana mungkin dalam 1 hari pria tersebut mampu memecahkan batu di hati sang istri.
"Tidak, tidak!" sahut Elina cepat seraya menggelengkan kepala.
Elina tidak ingin Bunga salah menafsirkan tanda merah tersebut. Dia tahu, pikiran sang sahabat pasti menjerumus masuk terlalu dalam. Namun, belum tentu pula sahabatnya berpikir ke arah sana.
__ADS_1
"Tidak? Maksud kamu?"
Elina menjadi gelagapan karena pertanyaan tersebut. Udara sekitar pun terasa semakin panas. Susah payah dia menelan salivanya.
Setelelah berpikir sesaat, akhirnya Elina menceritakan semua yang dilakukannya dengan David kemarin. Tidak ada satu pun yang dia tutupi. Dirinya percaya bahwa Bunga tak akan menyebarkan tentang rahasia pribadinya.
Bunga hanya menggelengkan kepala ketika mendengar cerita dari sang sahabat. Ya, dia tahu kalau Elina sangat mencintai David. Tentu saja pria tersebut yang membuatnya.
"Kamu pasti udah berpikiran jauh tentang ini, 'kan?" tanya Elina. Dia mengerlingkan mata, menggoda sang sahabat yang telah berpikir yang bukan-bukan.
"Eh, gak, kok," elak Bunga. "Siapa juga yang berpikir seperti itu? Aku cuma berpikir kalau itu yang buat Mas Evan," jelasnya.
Bunga masih saja berbicara ketika Elina mengingat sesuatu. Dia bahkan mengabaikan apa yang dikatakan oleh sang sahabat. Nama Evan telah mengingatkannya pada kejadian tadi malam.
Evan biasanya akan selalu berada di balkon rumah untuk memata-matai. Namun, semalam dia tak tampak di sana. Bahkan hingga pagi hari, pria tersebut tidak menyapa Elina sebelum berangkat bekerja.
__ADS_1
Ah, biarin aja. Ngapain juga aku mikirin itu. Gak penting, batin Elina.
"Eh, kok bengong." Bunga menggoyangkan tubuh Elina.
Semua lamuanan yang tengah melintas, seketika buyar, rontok karena goyangan Bunga. Wanita tersebut mengerjapkan mata, mengembalikan kesadarannya. Dia tersenyum canggung ke arah sang sahabat.
"Aku dari tadi nyerocos gak kamu dengerin!" protes Bunga. Dia merasa telah diabaikan Elina.
"Maaf," ucap Elina penuh penyesalan, "tadi kamu bilang apa?" Dia bertanya seperti tanpa dosa.
"Ah, sudahlah. Udah capek aku ngomong. Udah berbusa lagi. Malas aku ulangi lagi." Bunga membenarkan posisi duduknya, lurus menatap meja kerjanya.
"Ayolah, jangan ngambek gitu, dong."
"Udah, ah. Kerja! Nanti bos marah."
__ADS_1
Elina mengalah untuk saat ini. Dia tak lagi memaksa Bunga. Dirinya mulai fokus lagi pada pekerjaannya. Namun, bayangan tentang tadi pagi pun terlintas lagi dibenak wanita tersebut. Dia segera menggelengkan kepala untuk mengusir semua itu.
Bersambung.