Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 27. Masih Ting-Ting


__ADS_3

"Tapi, aku memang sayang sama kamu, bahkan hanya kamu yang aku sayang," ucap Elina tulus. Mata wanita itu hingga berkaca-kaca.


Wajar saja David tidak mempercayainya karena hanya dalam waktu satu bulan saja Elina sudah menikah. Pria itu merasa cinta sang kekasih dengan mudahnya luntur.


"Beneran?" tanya David. "Apa buktinya?" Dia masih belum juga percaya.


"Kalau kamu mau, aku bisa cerai sama dia, lalu kita nikah," jawab Elina serius. Dia akan melakukan apa pun, asalkan bisa bersama David. Walaupun, wanita itu harus menentang kedua orang tuanya, pasti akan dilakukan.


"Kamu mau cerai sama dia? Berarti kamu janda. Tapi, maaf. Aku gak mau nikah sama janda, El." David menatap lurus ke depan. Dia sungguh sangat kecewa. Walau bagaimanapun juga, dirinya tidak rela jika harus menikah dengan janda, yang berarti sudah pernah dipakai orang lain.


"Kenapa, Sayang? Kamu gak suka nikah dengan wanita berstatus janda?"


"Gak gitu, El. Aku cuma gak mau nikah sama wanita bekas orang lain," jelas David.


"Oh, seperti itu." Elina menarik sebelah bibirnya. "Tapi, gimana kalau janda itu masih kembang?"


David mengernyitkan dahi, tak mengerti dengan apa yang dikatakan Elina. Maksudnya janda kembang? Mana ada. Lagi pula, suami mana yang tidak mau menyentuh istrinya. Apalagi, wanita seperti Elina.


"Maksud kamu?" tanya David. Dia ingin Elina memperjelas ucapannya.


"Iya, aku ...." Elina menghentikan ucapannya karena pelayan datang dengan pesanan mereka di nampan.

__ADS_1


Semua pesanan sudah lengkap di meja. Pelayan itu segera pergi meninggalkan mereka. David kembali menatap wajah Elina. Dia mengabaikan semua makanan yang sudah terhidang di atas meja.


"Aku apa?" tanya David. Dia menatap wajah cantik di hadapannya. Pria itu sudah tidak sabar dengan penjelasan Elina.


"Ya, aku masih ting-ting." Elina menatap mata David dalam. Dia mencoba meyakinkan pria tersebut bahwa perkataannya itu benar.


"Kamu masih ...?"


"Ya. Kamu gak percaya?" Elina menatap David lekat.


"Entahlah. Wanita yang udah nikah, tentu saja ...." David menghembuskan nafas sekali hentakan. Bibirnya pun terangkat sebelah tanpa sepengetahuan Elina. Dia tidak melanjutkan ucapannya.


Mendengar perkataan David, tentu saja Elina semakin sedih. Dia tidak tahu bagaimana cara untuk membuktikannya kepada sang kekasih. Situasi ini begitu sulit baginya.


Air mata menetes melalui celah kelopak mata Elina. Dia sudah kehabisan cara untuk membujuk sang kekasih.


"Jangan menangis, dong, Sayang." David mengusap air mata di pipi Elina. Wajahnya terlihat menyesal karena telah membuat wanita itu menangis.


"Oke, aku percaya, kok, sama kamu. Aku tahu kamu jujur sama aku, gak pernah bohong." David tersenyum manis untuk menghibur sang pujaan hati.


"Beneran?" tanya Elina seraya mengusap air matanya dengan punggung tangan.

__ADS_1


David mengangguk pelan. "Pakai tisu, dong. Kamu, ih," ucapnya seraya menyodorkan selembar tisu ke arah Elina.


"Makasih, Sayang." Elina memeluk David erat sembari mengusap air mata dengan tisu pemberian pria itu. "Lalu, kapan kita nikah? Aku akan cerai segera," ujarnya setelah melepas pelukannya.


"Jangan buru-buru dulu, Yank. Lagian aku juga masih kuliah. Tunggu hingga kuliahku selesai, lalu aku dapat kerja. Baru aku bisa cari modal."


"Buat nikah?" tanya Elina dengan senyum mengembang.


"Gak, buat jualan batagor," ucap David yang membuat wajah wanita itu masam, "ya-iya, dong buat nikah." Dia mengacak-acak rambut sang kekasih.


"Oh, oke. Aku bertahan dulu sama dia, ya? Lagian, lumayan juga dapat uang bulanan," ucap Elina penuh kebahagiaan.


"Emangnya berapa uang bulananmu dari dia?" tanya David. Dia begitu penasaran dengan uang bulanan yang diberikan pria itu. Menurut cerita Elina, pria tersebut kaya.


"Belum tahu. Tapi, bulan ini aku dikasih lima puluh juta. Entah bulan depan." Elina mengangkat kedua bahunya.


David terkejut mendengar nominal yang diucapkan Elina. Dia tidak menyangka bahwa pria yang menikahi kekasihnya itu benar-benar kaya. Namun, dia heran, kenapa wanita itu masih ingin berpisah dengan suaminya.


Bersambung.


Catatan Author:

__ADS_1


Standar kekayaan seseorang itu berbeda. Bagi kalangan Elina, nominal uang seperti itu sudah termasuk banyak. Jadi, Evan yang memebiran uang tersebut sudah mereka bilang kaya.


__ADS_2