Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 56. Menerobos


__ADS_3

Pikiran Evan sangat kalut kali ini. Berbagai hal melintas di sana. Tak ingin memikirkannya, tetapi semua itu begitu saja melintas di atas kepala.


Kata-kata Chandra terngiang terus di telinga, membuatnya sulit untuk berkonsentrasi. Hampir saja dirinya terjatuh karena menyenggol sebuah truk yang berjalan pelan di tanjakan. Untung saja keahlian menunggangi kuda besi Evan bisa dibilang sangat baik. Dia pun dapat mengontrol stang motor kembali.


Coba bayangkan, jika Evan adalah amatiran, maka pria itu akan jatuh. Ya, kalau saja jatuhnya ke tepi, tetapi bagaimana jika masuk ke kolong truk. Dia pasti hanya akan tinggal nama saja sekarang.


"Aku lihat dia masuk ke dalam hotel."


Kalimat itulah yang membuat Evan seketika menancap gas motor. Pikirannya sudah aneh-aneh, membayangkan apa yang dilakukan mereka berdua di dalam sana. Pasti Pria tak tahu diri itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.


"Enak aja, aku sebagai suaminya aja belum pernah merasakan. Dia malah seenaknya ajak ngamar," gerutu Evan.


Hanya dalam 1 jam 15 menit, Evan telah sampai di hotel yang dimaksud. Bisa dibayangkan secepat apa dia memacu motornya. Pasti semua yang ada di hadapannya, dia terjang tanpa ampun.


Setelah memarkirkan motornya, pria itu menuju meja penerima tamu dengan langkah tergesa. Matanya menyapu kamar hotel berukuran tiga kali tiga meter yang berjajar rapi.

__ADS_1


Ya, itu hanya hotel biasa hanya beratapkan esbes tanpa AC. Mungkin hanya ada kipas angin di dalamnya. Cuma ada kamar-kamar di sana tanpa lobi atau apa seperti hotel berbintang. Maklumlah, David yang menyewa hotel itu dengan uangnya sendiri.


"Apa ada tamu atas nama David?" tanya Evan. Dia menatap sang penerima tamu dengan tatapan tajam.


"Maaf, kami tidak boleh membocorkan nama tamu di sini," ucap sang penerima tamu dengan sopan. Dia begitu mematuhi tata tertib di hotel tersebut.


Menurut pemilik hotel, siapa saja yang menginap di sana adalah sebuah privasi. Maka dari itu, hotel tersebut akan benar-benar menjaganya. Tak akan memberi tahu pada pihak yang tidak berkepentingan.


Evan semakin geram akan ucapan orang itu. Dia semakin menajamkan matanya hingga sampai menusuk jantung sang penerima tamu.


Orang itu jadi salah tingkah. Menatap mata Evan pun enggan dia lakukan. Namun, dirinya masih bersikukuh diam, tak ingin memberi tahukannya.


"Ma-maaf, nama David ada banyak, Pak," ucap sang penerima tamu, tergagap. Dia masih saja enggan mengatakannya.


"Kalau kamu gak mau kasih tahu, baiklah, akan aku dobrak satu per satu pintu semua pintu kamar di hotel ini!" ancam Evan.

__ADS_1


Sang penerima tamu semakin bingung. Dia juga melihat keseriusan dalam ucapan pria di hapannya.


Tak ingin mengambil resiko lebih, akhirnya orang itu pun segera mencari daftar tamu yang datang. Dia segera memberitahu Evan di mana kamar orang yang dicari setelah menemukannya. Untung saja saat itu hanya ada satu nama David yang menginap di sana.


Evan pun berjalan dengan langkah lebar menuju kamar yang telah disebutkan. Tanpa mengetuk pintu, pria itu langsung saja menendang pintu kamar tersebut.


"Aa!" teriakan nyaring terdengar dari mulut wanita penghuni kamar.


Pantas saja wanita tersebut berteriak karena kini dirinya hanya berbalut handuk kecil. Tangan kanan memegang ujung handuk bagian atas, supaya tidak melorot. Sedangkan, yang kiri memegang bagian bawah seraya menutupi paha mulusnya.


"Mas Evan, kamu ngapain? Gak sopan banget!" teriak Elina saat melihat pria yang telah menerobos kamarnya.


Evan tidak seketika menjawab. Dia hanya menatap Elina tajam. Ledakan amarah sungguh sangat terlihat di matanya.


Perlahan kaki Evan melangkah memasuki kamar lalu mendekat ke arah Elina. Dia menajamkan mata ketika melihat hal aneh di leher sang istri. Nafas panjang pun diambil seiring semakin jelasnya sebuah tanda di sana.

__ADS_1


"Di mana pria itu?"


Bersambung.


__ADS_2