Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 23. Aneh


__ADS_3

Sebelum lanjut baca bab ini, saya mohon untuk membaca ulang dari bab 3. Author telah merubah beberapa cerita, mengurangi maupun menambahkan pada tanggal 26 Nov 2022.


Mohon maaf atas ketidak nyamanannya. Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.


Selamat membaca `,)


...♡♡♡♡♡♡♡♡♡...


"Hei, Dav!" teriaknya.


Pria yang disebut namanya, segera menoleh ke arah Elina. Warna wajah pria itu seketika berubah. Sebelum menghampiri wanita itu, dia terlebih dahulu berbicara dengan orang yang bersamanya.


"Eh, h-hai, Sayang," ucap David ketika sudah sampai di samping Elina.


Bunga yang mendengar apa yang dikatakan David, hanya bisa membuka mulut sedikit. Dia merasa pendengarannya salah atau entahlah. Dirinya tak paham dengan situasi sekarang.


"Siapa dia?" tanya Elina dengan wajah curiga.


"Dia teman kuliahku. Kami mau buat tugas bareng," jelas David.


"Oh." Elina mengangguk, paham. Wanita itu tidak bertanya lebih lanjut karena begitu percaya pada sang kekasih. Dia tahu bahwa David adalah tipe orang yang setia dan jujur. Selama dua tahun pacaran, pria itu selalu memanjakan dan baik kepada dirinya.

__ADS_1


Di saat Elina sakit, David selalu datang dengan makanan yang dia inginkan. Pria itu juga senantiasa royal terhadap dirinya. Ya, walaupun hanya untuk makanan pinggir jalan, tetapi itu sudah cukup baginya. Itulah alasan wanita itu sangat mencintai sang kekasih.


"Udah dulu, Sayang. Aku buru-buru ngerjain tugas. Takut gak selesai tepat waktu. Kita ngobrol besok aja," pamit David.


"Oke, Sayang. Bye." Elina melambaikan tangan, tetapi David berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi.


Elina masih saja memeperhatikan sang kekasih. Namun, yang sedikit membingungkan, bukankah pria itu baru datang, tetapi kenapa pergi lagi. Dia hanya bisa mengambil kesimpulan sendiri bahwa mungkin harga di situ terlalu mahal. Dirinya tahu keuangan David, pria itu tak akan mampu untuk membayar harga makanan di sana.


...****************...


Elina melenggang memasuki rumah setelah memarkirkan motornya di halaman. Wanita itu memindai ruang tamu dan keluarga, tak ada seorang pun. Padahal baru jam 21.00 WIB, tetapi rumah itu sudah sepi.


Evan pun tersenyum melihat belajaan menumpuk di atas ranjang. Dia senang karena sang istri mau menggunakan uang yang diberikannya. Pria itu kembali fokus pada layar ponsel di tangan.


Air hangat mengguyur tubuh Elina, menjadikan penat seketika hilang. Pikiran pun menjadi tenang. Bayangan Evan sedang duduk di sofa beberapa saat yang lalu melintas, kini lenyap tergantikan dengan bayang David.


Tidak tahu kenapa dirinya bisa memikirkan pria itu. Ketika melirik sejenak ke arah sang suami, dia merasa betapa menawan pria itu. Tak pernah sebelumnya dia melihat Evan seperti itu. Ternyata kalau diam, tenang dan tidak mengganggunya, pria itu bisa meruntuhkan hati wanita.


Namun, dirinya tak lagi memikirkan Evan, kesadarannya kembali. Lalu, Davidlah yang bertengger di benak Elina. Dia membayangkan lagi pertemuannya tadi dengan pria itu. Betapa senangnya setelah sebulan lebih, akhirnya dapat melihat wajah yang begitu dicintai.


"Oh, Sayangku. Tadi ketemu sebentar malah bikin aku mau ketemu lagi. Aku pengen peluk kamu, udah gak sabar, nih," gumam Elina.

__ADS_1


Dia melompat-lompat kecil karena senang. Tangannya menyiprat-nyipratkan air yang jatuh dari shower. Ingin rasanya mencurahkan hati yang sudah satu bulan terpendam.


"Uh, segarnya." Elina menepuk pelan pipinya dengan handuk kecil. Dia segera keluar dari kamar mandi.


"Di mana dia?" tanyanya bergumam. Dia tak dapat menemukan pria yang duduk di sofa tadi di seluruh ruangan kamar. "Entahlah, biarin aja."


Elina memindahkan seluruh belanjaannya di sudut kamar, terlalu lelah baginya untuk membereskan. Dirinya kemudian duduk di atas sofa di mana Evan tadi duduk. Baru saja dia memposisikan diri, sebuah pesan masuk datang.


Wanita itu sangat gembira saat mendengar pemberitahuan itu. Segera dibukanya ponsel di tangan lalu melihat apa isi pesan itu. Namun, kekecewaan segera menghampiri, ternyata pesan tersebut bukan dari orang yang diharapkan. Elina Dengan enggan membaca isinya.


'Sayang, nanti aku pulang malam. Tidurlah dulu, jangan tunggu aku!' Isi pesan dari Evan.


"Siapa juga yang nungguin. Mau pulang malam, kek, nggak pulang, kek. Aku gak peduli," gumam Elina.


Mata wanita itu seketika berbinar karena menyadari sesuatu. Dia akan memanfaatkan waktu saat Evan pergi dengan menelepon David. Dirinya pun segera menekan nomor sang pujaan hati itu.


Namun, setelah beberapa lama, panggilan tak kunjung diangkat. Elina segera mengirim pesan kepada sang kekasih yang mengatakan bahwa dia ingin berbicara. Dia berharap kalau hanya pesan maka akan cepat dibalas.


Mata semakin berat, tak ada pemberitahuan pesan lagi. Elina memutuskan untuk berpindah ke ranjang sembari menunggu. Berkali-kali dia mengintip ponsel di genggaman hingga akhirnya tertidur.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2