
Suasana tegang tampak di ruang tamu keluarga Cahyono. Evan merasa bingung dengan tuduhan Elina. Dia merasa tidak pernah pergi berdua dengan wanita lain. Apalagi makan di restoran. Tuduhan itu sungguh tidak masuk akal baginya.
"Coba katakan dengan jelas, El. Kapan dan di mana kamu lihat aku jalan sama wanita lain," pinta Evan. Dia merasa sang istri sudah salah lihat atau mungkin, dirinya sendiri yang tak bisa mengingat kapan pernah pergi dengan wanita lain.
"Saat aku jalan sama Bunga. Aku lihat Mas Evan lagi makan berdua dengan wanita." Elina menarik sebelah ujung bibir. Dia merasa menang sekarang.
Evan mencoba mengingat kembali kapan itu terjadi. Namun, sebelum dia benar-benar ingat, Elina sudah menyerca dengan sebuah pertanyaan.
"Mas, Evan gak bisa ngelak lagi, 'kan?"
Saat dia pergi bareng Bunga. Evan masih berpikir tanpa menghiraukan Elina. Tak berapa lama dia mampu mengingat sesuatu.
"Oh, saat di restoran itu. Aku ingat sekarang," ucap Evan santai. Dia merasa tak bersalah.
"Ingat apa? Ingat kalau kamu selingkuh, hah?"
"Bukan. Aku gak mungkin selingkuh. Dia itu teman kantorku. Aku ketemu dia saat di sana, lalu kita duduk untuk ngobrol sebentar."
Namun, Elina tak mempercayai penjelasan Evan sama sekali. Dia malah memberikan senyum sinis kepada sang suami.
"Untuk apa pergi ke mall kalau gak untuk janjian dengan wanita itu."
Elina semakin tertawa di dalam hati akan kemenangannya. Dengan pengakuan Evan yang telah makan bersama wanita lain, dia semakin yakin bahwa kedua orang tua yang sedari tadi menguping pasti akan berpihak kepadanya.
__ADS_1
Evan semakin bingung. Sekeras apa pun dia berusaha menjelaskan, Elina masih saja tak akan percaya. Wanita itu tetap bersikukuh terhadap apa yang dia lihat.
Apa aku katakan aja yang sebenarnya, ya. Lalu, gimana kalau dia makin marah. Evan menghembuskan nafas di sela-sela dirinya membatin. Sangat merepotkan.
"El, bukanya kamu tahu sendiri kalau sejak dulu aku gak pernah bawa cewek ke rumah. Jadi, mana ada aku selingkuh." Evan mencoba menjelaskan sekali lagi, sebelum jurus pamungkasnya dikeluarkan.
"Hah!" dengus Elina. "Mana ada maling ngaku. Walaupun Mas Evan gak pernah ajak cewek pulang, bukan berarti di luar sana gak punya, 'kan?"
"Apalagi Mas Evan punya banyak uang. Gampang aja pilih cewek yang Mas mau," lanjutnya.
"El, aku gak seperti itu. Aku udah punya istri, buat apa wanita lainnya lagi."
"Ya, mungkin gak puas sama aku," ucap Elina, "karena Mas belum dapat jatah dariku," lanjutnya berbisik. Dia tidak ingin kedua orang tuanya mendengar kalimat terakhir itu.
"Aku harus bertindak. Elina harus diberi pelajaran cara memuaskan suami," gumam Diyah.
Sedangkan, Verry hanya menggelengkan kepala. Dia tak tahu harus bagaimana. Kalau urusan ranjang, seharusnya mereka berdualah yang dapat menangani. Mungkin, suatu saat dia akan memberikan saran kepada Evan.
"Tidak. Aku gak masalahin hal itu," elak Evan, "tapi, aku benar-benar gak ada hubungannya sama cewek itu, El. Aku berani bersumpah."
Evan berani mengucapkan sumpah karena ingin membersihkan nama baiknya. Dia tahu bahwa kedua orang tua Elina, sejak tadi mendengarkan percakapan mereka. Apalagi, sang istri selalu berucap dengan nada tinggi.
"Jangan mudah bersumpah. Sumpah itu berat efeknya. Udah ngaku makan sama cewek lain, masih ngelak kalau ada hubungan sama, tuh, cewek."
__ADS_1
"Aku ke sana bukan janjian sama dia, tapi ...."
"Tapi apa, hah?" Elina semakin meninggikan nada suaranya. Dia tidak sabar mendengar alasan apa lagi yang akan dikatakan Evan.
"Tapi, aku hanya mau ngikutin kamu."
Sebuah alasan yang membuat Elina bingung. Bukan membuat pembelaan, tetapi Evan malah mengatakan mengikuti dirinya.
"Ngapain juga ngikutin aku?"
"Aku gak mau kamu jalan sama mantan pacarmu."
Damp. Sebuah kalimat yang membuat Elina diam. Dia tidak menyangka bahwa Evan akan berkata seperti itu. Hal tersebut menandakan bahwa hubungannya dengan David telah diketahui sang suami.
Elina bingung mencari sebuah pembelaan. Beberapa saat dirinya gelagapan karena dia yakin kedua orang yang sedari tadi menguping, mendengar perkataan Evan.
"Jangan melempar batu, ya, Mas. Sudah nyata-nyata, Mas Evan, jalan sama cewek lain, sekarang malah nuduh aku."
"Aku gak nuduh kamu, aku tahu apa yang kamu lakukan, El."
"Tega-teganya, Mas Evan, nuduh aku. Aku gak terima itu!" teriak Elina. Dia berdiri dari duduknya, kemudian berlalu pergi untuk masuk ke dalam kamar.
Elina tidak ingin melanjutkan perdebatan itu. Dia tidak tahu seberapa dalam hubungannya dengan sang kekasih diketahui Evan. Dirinya takut jika perdebatan itu dilanjutkan, malah akan menjadi bumerang sendiri.
__ADS_1
Bersambung.