Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 25. Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3

"Ada apa, denganmu?" tanya Chandra. Dia melihat Evan duduk di balik meja kerja dengan wajah murung ketika dirinya datang.


Evan menghembuskan nafas panjang, lalu menegakkan duduknya, kedua tangan diletakkan di atas meja. Dia menatap sang bos—pemilik FW COMPANY yang baru datang lalu duduk di hadapannya.


"Lagi mumet aku." Lagi-lagi Evan menghembuskan nafas panjang.


"Katanya semalam udah oke. Ngapain mumet lagi?" Chandra mengernyitkan dahi.


"Bukan itu. Ini masalah intern keluarga." Evan diam sejenak. "Oke. Ada apa Tuan datang ke sini?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. Dia tak ingin membahas masalah pribadi ketika bekerja.


"Gak! Kamu cerita dulu. Lagian, kamu gak bakalan fokus kalau lagi ada masalah."


Akhirnya Evan menceritakan apa yang terjadi dalam rumah tangganya kepada sang sahabat. Tidak ada sedikit pun yang dia tutupi. Chandra memang satu-satunya sahabat yang paling bisa dipercaya.


"Sudah tau dia gak suka sama kamu, kenapa kamu paksaain juga?"


Evan diam, tak mampu menjawab pertanyaan Chandra.


"Lalu, bagaimana dengan rencana yang pernah kamu bilang dulu?"


Evan menghembuskan nafas berat. "Entahlah. Kalau seperti ini, semua rencanaku sepertinya gak guna. Aku harus buat rencana lagi. Bantu aku mikir!"


Mereka diam, mencari solusi untuk masalah Evan. Beberapa waktu kemudian, Chandra tersenyum, lalu mengutarakan rencananya.


"Oke, bantu aku dengan anak buahmu. Aku gak bisa memantaunya sendiri karena aku harus memantau perusahaan Perdana Group."

__ADS_1


Ya, sekarang memang sedang terjadi perselisihan antara ke dua perusahaan itu. Pihak Perdana Group mencari masalah dengan FW COMPANY. Maka dari itu, kemarin Evan harus menyelesaikan masalah itu, tetapi mereka malah mengajak adu jotos. Untung pihak Evan yang menang.


"Makasih udah ngutamain perusahaan. Aku janji, anak buahku akan segera mendapatkan hasilnya," ucapnya. "Oh, ya. Kenapa lukamu masih kayak gitu? Gak kamu obatin?"


Evan memegang pipinya. "Ini ...."


Baru saja Evan ingin menjelaskan, tetapi suara ketukan pintu mengurungkannya. Kedua pria itu pun segera menoleh ke arah sumber suara.


"Masuk!" teriak Evan.


Seorang wanita berparas cantik dengan rambut ikal sebahu, masuk ke dalam ruangan itu. Langkahnya anggun bak super model. Dengan rok span hitam di bawah lutut dan kemeja biru laut, membuat wanita itu terlihat kalem. Dia berhenti beberapa meter di depan ke dua pria tersebut.


"Ada apa, Vania?" tanya Evan segera.


"Mereka ternyata masih tidak terima. Bagaimana, Bos?" Evan menatap Chandra tajam. Dia meminta persetujuan dari sang CEO.


"Apa sore ini kosong?" tanya Chandra kepada David.


"Ya, sore ini kosong," jawab Evan setelah mengingat agenda bosnya.


"Baiklah, kita pergi!" ucap Chandra tegas.


"Maaf, aku tidak bisa ikut kali ini, Bos," tolak Evan. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, mengisyaratkan kepada Chandra untuk mengerti keadaannya.


"Oke, kamu tidak usah ikut biar aku sendiri yang ke sana." Chandra menyetujui permintaan Evan lalu segera menatap sang Kepala Depatemen Pemasaran. "Katakan pada mereka, akan aku temui!" perintahnya.

__ADS_1


Namun, wanita itu tidak merespon ucapa Chandra. Dia terus saja menatap ke arah Evan.


"Ehm," dehem Evan.


Viona tersadar, lalu segera menundukkan kepalanya. "Maaf."


"Sudah, sana katakan pada mereka! Aku setuju untuk menemuinya." Chandra mengulangi perintahnya. Pria itu tahu jika wanita tersebut tidak mendengar apa yang dia perintahkan.


"Baik, Tuan." Viona mengangguk, lalu segera meninggalkan tempat itu.


"Ehm," dehem Chandra. Pria itu menatap sahabatnya dengan senyum menggoda.


"Apa?" tanya Evan merasa tidak senang. "Aku udah pernah bilang kalau gak punya rasa sama dia. Jangan mendesak ku terus!"


"Kenapa sih? Dia itu cantik, baik dan sangat perhatian denganmu. Lihat tadi! Dia kelihatan sedih waktu lihat mukamu itu."


"Jangan bahas masalah cinta! ini waktunya kerja. Ayo kita kerja!"


"Oke-oke, aku pergi." Chandra segera keluar dari ruangan Evan.


Evan kembali fokus pada layar laptop di depannya. Pikirannya menjadi kacau. Tatapan mata sedih Vania, masih saja menaungi pikirannya. Dia merasa bersalah dengan wanita itu.


Sudah lebih dari dua tahun Evan tahu jika wanita itu menyukainya, walaupun Viona tidak pernah mungungkapkan. Namun, semua itu sudah tersirat dari gaya tubuh ketika bertemu dan juga sikap wanita tersebut. Sungguh wanita malang, cinta bertepuk sebelah tangan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2