Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 73. Cinta yang Sesungguhnya (Tamat)


__ADS_3

Udara terasa sangat kering. Angin pun terbang tanpa membawa setetes air. Kemarau begitu lama tahun ini hingga membuat telaga berkurang airnya.


Berbanding terbalik dengan telaga cinta Evan yang telah penuh kembali. Hatinya penuh ditumbuhi bunga yang bermekaran. Tak henti pula di dalam hati dia dendangkan lagu cinta ketika sedang mengendalikan mobil.


Sementara itu, Elina hanya diam, terus menatap bangunan di pinggir jalan. Hatinya sedang penuh dengan rasa jengkel. Melihat Evan pun terasa malas.


Hari ini Elina telah pulang dari rumah sakit. Semua luka di tubuh sebagian besar sudah sembuh. Hanya beberapa bagian yang masih menghitam, mungkin karena luka yang terlalu dalam.


"Sampai kapan kamu mau diemin aku?" tanya Evan setelah beberapa saat lalu melirik Elina.


Sang istri hanya melirik sesaat, lalu mendengus kesal. Suara Evan sungguh sangat menyebalkan. Untuk saat ini, dirinya sungguh tak ingin mendengar suara pria tersebut.


"Padahal baru aja baikan. Eh, marah lagi sampai sekarang. Dasar, wanita sulit dimengerti," gerutu Evan dengan bibir yang sudah maju. Suaranya sangat lirih, tetapi Elina masih dapat mendengarnya.


"Bukan aku yang sulit dimengerti, tapi Mas Evan yang gak ngerti aku!" pekik Elina. Dia menatap lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun. Hatinya semakin kesal kerena ucapan Evan.


Eh, dia dengar, batin Evan. Pria tersebut segera memukul mulutnya, mengutuk akan ucapan yang ke luar dari sana. Sungguh tak dapat direm mulut itu.


Ya, semua itu bermula ketika Bunga mulai mengejek Elina. Sang sahabat mengatakan bahwa dirinya telah termakan oleh omongan sendiri. Dulu wanita itu pernah mengatakan sangat membenci Evan, tetapi kini telah bertekuk lutut kepada pria tersebut.

__ADS_1


Bunga dapat mengatakan hal tersebut setelah mendapatkan bukti nyata. Pertama, dirinya telah memergoki mereka berdua ciuman. Kedua, tanda merah di leher Elina yang semakin memperkuat bukti.


Bukannya menghibur sang istri yang tengah dilanda malu, Evan justru menambahinya. Mengatakan Elina tidak bisa melihat orang, dihipnotis oleh David. Bahkan, yang paling membuatnya marah ketika pria itu mengatakan bahwa wanita itu bodoh. Seketika itu pula sang istri merajuk.


"Maafkan aku, Sayang. Mulutku emang gak bisa dikontrol. Aku salah, aku salah. Please, maafin aku," rengek Evan bak anak kecil yang meminta sesuatu. Dia menggoyangkan tubuh Elina pelan. Sungguh dirinya sangat menyesal telah mengatakan hal itu.


Melihat Evan yang seperti itu sebenarnya ingin membuat Elina tertawa. Bagaimana tidak, ketika dirinya melirik ke arah pria itu, sungguh wajahnya sangat lucu sekali. Akan tetapi, dia tetap diam tak mau menampilkannya, masih menahan tawa agar sang suami tidak cepat senang dan besar kepala.


Evan mengembuskan nafas panjang. Dirinya harus memutar otak lagi supaya dapat merayu sang istri. Tiba-tiba dia menepikan mobilnya, lalu mengotak-atik ponsel. Beberapa saat kemudian, pria itu kembali melajukan mobilnya dengan sebuah senyum yang mengembang.


Elina pun heran dengan apa yang dilakukan pria itu. Namun, dirinya enggan sekali bertanya. Berusaha tak peduli sedikit pun.


Elina pun semakin bingung ketika mobil memasuki area bandara. Batinnya bertanya-tanya, apakah Evan ke sini untuk menjemput seseorang. Apakah ada kerabatnya yang datang? Namun, pertanyaan itu hilang seketika saat Evan mengambil dua buah tiket dari loket.


"Buat apa tiket itu?" tanya Elina yang penasaran.


"Buat kita pergi ke Bali. Kita akan liburan seminggu ke sana," jelas Evan. Dia mengipaskan kedua tiket itu ke wajahnya.


Hati Elina pun seketika senang. Pulau indah yang menjadi impian semua orang akan segera dia datangi. Wanita itu pun tersanjung akan hal itu. Namun, perasaan gelisah segera menghinggapi ketika mengingat bahwa dirinya akan pergi selama seminggu.

__ADS_1


"Seminggu? Lalu gimana kerjaku?"


"Gak usah kerja lagi. Aku juga udah bilang sama Bunga kalau kamu resign."


"Tapi, ...." Sebuah telunjuk segera menutup mulut Elina, membuat wanita itu menghentikan ucapannya.


"Gak ada tapi-tapian. Aku gak mau kamu capek-capek."


Elina tersenyum, lalu menganggukkan kepala. Akhirnya kini wanita itu setuju akan usulan Evan untuk berhenti bekerja. Dia sudah mulai luluh akan perkataan sang suami sejak pria itu memohon maaf. Baginya sudah sangat sulit sekarang untuk membenci.


"Lalu, bajuku gimana? Aku baru pulang dari rumah sakit, gak bawa baju," keluh Elina.


"Kamu beli baju ketika di sana nanti. Belilah yang kamu mau. Jangan pikir masalah uang karena uangku hanya untuk membahagiakanmu."


Kata-kata Evan sangat membuatnya tersanjung. Dia merasa sangat ditinggikan sebagai wanita. Hal yang tak pernah dia rasakan selama bersama David.


Tanpa ragu Elina memeluk Evan di tengah padatnya orang. Dia sangat merasa bahagia sekarang. Orang yang selama ini dia benci ternyata yang terbaik untuknya.


Dari Abu Hurairah secara marfu': "Cintailah orang yang kau cinta dengan sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah kepada orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia yang kau benci menjadi orang yang kau cinta" (HR Tirmidzi)

__ADS_1


Tamat.


__ADS_2