Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 42. Ajak Jalan


__ADS_3

Malam minggu adalah waktu yang tepat untuk menghabiskan malam yang panjang. Banyak pasangan muda-mudi melakukan hal itu. Namun, tidak bagi Elina. Dia hanya duduk di ruang tamu rumah sang ayah.


Elina memang lebih sering menghabiskan waktu malam minggu di rumah orang tuanya. Dengan begitu, dia akan bebas berkirim pesan dengan sang kekasih.


Jari manisnya lincah mengetik pesan untuk David. Dia berharap, malam Minggu kali ini akan diajak keluar oleh sang kekasih karena sudah lebih dari dua minggu tidak bertemu. Akan tetapi, kecewa kembali menghampirinya.


"Ih, centang satu lagi," keluh Elina, "apa dia belum beli hp baru, ya?"


Elina menghembuskan nafas panjang, mencoba memaklumi kesibukan David. Kemarin memang dia sempat bertanya pada pria itu, kenapa belum juga membeli ponsel baru. Padahal, kemarin adalah hari ke tiga setelah dirinya mengirim uang.


David menjawab bahwa dirinya sangat sibuk saat ini sehingga tidak sempat untuk membeli ponsel. Tugas kuliah pria itu sangat banyak. Semua itu mengharuskan dirinya menghabiskan waktu hanya untuk perkuliahan.


Padahal, rasa rindu Elina sudah menggebu, tak mampu rasanya untuk menahan lebih lama. Dia ingin segera bertemu dengan sang kekasih. Ketika bertemu nanti, dia pasti akan meluapkan semua kerinduannya.


"Elin!" panggil Diyah yang menghampiri Elina dari arah toko, "dicari, tuh." Dia menunjuk seorang pria yang memasuki halaman rumah tersebut, kemudian berlalu menuju arah belakang.

__ADS_1


Elina tahu persis siapa yang mencarinya. Untuk itu, dia tak menghiraukan, bahkan menengok pun tidak.


"El," panggil pria itu lembut, "kita jalan, yuk. Mumpung malam minggu, nih."


Dialah Evan, lalu segera duduk di samping Elina. Dia menatap wajah yang selalu cantik di matanya. Senyum yang sangat manis terbingkai indah di wajah pria itu.


Setelah hampir satu bulan tak pernah lagi mengajak Elina pergi, kini Evan ingin mencoba sekali lagi untuk mengajak sang istri keluar rumah. Malam minggu merupakan waktu yang tepat menurutnya. Informasi yang akurat pun telah dia dapatkan. Hanya satu diharapankan, wanita tersebut menyetujui ajakannya.


Senyum seringai tampak di bibir merah jambu Elina. "Kenapa gak ajak cewek kamu aja?"


Elina berharap, dengan membongkar kelakuan Evan sekarang, orang tuanya akan mendengar sebuah fakta di balik kebaikan pria tersebut. Dengan begitu pula, mereka pasti akan membela dirinya, lalu meminta pria itu untuk menceraikan anak mereka.


Situasi sangat menguntungkan bagi Elina. Dia tak perlu susah payah mencari lagi alasan atau cara untuk berpisah dengan Evan. Sungguh keberuntungan yang datang tiba-tiba untuknya.


Evan yang mendengar pertanyaan Elina, tak mengerti apa maksud dari pertanyaan itu. Wanita mana yang dimaksud? Dia merasa tak pernah berhubungan dekat dengan wanita lain. Apalagi sampai dilihat istrinya.

__ADS_1


"Maksud kamu?" tanya Evan. Dia ingin Elina menjelaskan pertanyaannya tadi.


"Halah, gak usah pura-pura gak tahu, deh." Elina menyatukan alis, memandang Evan tak percaya.


"Aku bener-beber gak paham maksud kamu, El. Wanita mana? Aku cuma punya satu wanita, yaitu istriku." Evan mencoba membelai pipi Elina, tetapi segera ditangkis oleh wanita itu.


Emosi Elina semakin meningkat karena Evan tidak mengakui apa yang telah dilakukan. Dia merasa pria itu sangat pengecut. Hanya berpura-pura baik di hadapan keluarganya, tetapi ternyata kelakuan di luar sana sangat busuk.


"Wanita yang sama kamu direstoran itu, siapa?" tanya Elina. Wanita itu meninggikan suara supaya kedua orang tuanya mendengar apa yang dia katakan.


Benar saja, Diyah yang tengah mencuci piring di dapur, seketika menghentikan kegiatannya. Air keran pun segera dia matikan. Dirinya ingin mendengarkan ada perdebatan apa di antara sang anak dan menantu.


Sedangkan, Verry yang berada di toko, segera melongokkan kepala. Dia mencoba melihat apa yang sedang terjadi di ruang tamu. Namun, mereka berdua tidak ingin ikut campur dulu dalam urusan rumah tangga sang anak.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2