
Evan hanya menatap kepergian Elina. Dia tak ingin mengikuti langkah sang istri karena tak ingin meneruskan perdebatan ini berlarut-larut. Dirinya merasa malu kepada kedua mertuanya jika harus berdebat di sana.
Evan pun akhirnya baeranjak dari tempatnya, lalu berjalan pulang. Dengan perasaan sedikit malu, dia membiarkan sang istri di rumah orang tuanya.
Sedangkan, Elina di dalam kamar sedang berjalan mondar-mandir. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Dia segera membuka aplikasi pesan, ingin sekedar mengabarkan perihal itu kepada David. Walaupun, dirinya tahu bahwa pesan yang tadi saja belum mendapat balasan.
Namun, senyum terbit dari bibir Elina ketika melihat bahwa David sedang mengetik sesuatu. Nomor sang kekasih telah aktif kembali. Dia duduk di sisi ranjang sembari menunggu kekasihnya selesai mengetik, lalu mengirimkan pesan untuknya.
"Maaf, Sayang. Aku gak bisa pergi sama kamu hari ini."
Kecewa dengan pesan yang diterimanya, Elina segera menekan simbol telepon. Dia tidak ingin membuang kesempatan. Mumpung nomor itu aktif, dirinya ingin bercakap dengan David.
Panggilan terhubung, dengan senyum mengembang, Elina segera menyapa pria di ujung sana.
"Sayang, kenapa belum beli hp baru, sih?"
"Ma-af, Sayang," ucap David dengan suara sedikit berat, "tugas ku-liahku banyak. Besok pasti aku beli."
"Jan ...." Elina menghentikan ucapan yang belum selesai karena David memutus sambungan telepon sepihak.
"Ih, nyebelin! Kenapa juga David matiin teleponnya pas situasi kayak gini. Terus, aku kudu ngomong sama siapa?" tanya Elina pada diri sendiri dengan menggurutu.
__ADS_1
Elina menggenggam erat ponsel di tangan. Kekesalannya semakin menjadi karena dia tak dapat berbagi apa yang sedang dialami dengan sang kekasih. Dirinya bingung sendiri, harus berbicara apa andai saja sang ibu atau ayah bertanya.
Satu-satunya harapan untuk berbagi masalah tak dapat diharapkan. Harapan mendapatkan solusi telah sirna.
"Ngapain sih, dia? Bukannya latihan footsal biasanya malam minggu. Kenapa dia tadi kayak abis lari keliling lapangan?"
"Oke. Aku coba nanti malam buat telepon lagi."
Benar saja, Elina kembali menelepon David pada malam hari sembari berbaring. Wanita tersebut berani melakukan itu karena kini masih di rumah orang tuanya. Dia sangat enggan untuk pulang ke rumah suaminya karena takut dicerca berbagai pertanyaan oleh Evan.
Elina belum siap akan hal itu. Rencana jawaban apa saja yang akan dia katakan untuk menjawab semua kemungkinan pertanyaan Evan belum disiapkan. Padahal, belum tentu juga sang suami akan mengintrogasi dirinya dengan berbagai pertanyaan itu.
"Ada apa, Sayang?" tanya David dengan suara yang mengalun lembut.
"Sayang, kenapa sih, tadi siang dimatiin?" tanya Elina. Suaranya sangat manja dan pelan seperti berbisik. Dia takut jika orang yang berada di rumah itu, mendengarkan dan curiga.
"Maaf, Sayang. Tadi siang aku lagi nge-gym."
"Sejak kapan kamu mulai nge-gym?"
Elina yakin, selama dirinya mengenal David, pria itu tak pernah pergi ke gym. Dia hanya tahu bahwa olah raga yang digeluti sang pacar hanyalah footsal.
__ADS_1
"Apa, Sayang? Suaramu gak jelas. Kenapa bisik-bisik pula?" protes David.
"Aku lagi di rumah ibu. Takut kalau nanti ada yang denger," jelas Elina. Dia pun segera mengulangi pertanyaannya tadi.
Tanpa menunggu lama, David segera menjelaskan maksud dan tujuannya. Dia mengatakan bahwa ingin memiliki badan kekar.
"Wanita 'kan lebih suka sama cowok dengan perut six pack. Aku mau nunjukin ke kamu pas malam pertama nanti. Mau, 'kan?"
Elina tidak menjawab, tetapi wajahnya seketika memerah. Dia terlalu malu untuk menjawab pertanyaan itu. Namun, pikirannya segara membayangkan bagaimana bentuk perut David yang seperti roti sobek. Pasti mirip artis Vino S Bastian.
Bayangan tubuh bak roti sobek Vino, seketika buyar ketika sang ibu tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Wanita itu memasang wajah tidak senang. Elina menjadi ketakutan akan hal itu. Dia segera menarik telepon dari telinga, lalu duduk di tepi ranjang.
"El, ternyata kamu masih di sini? Aku kira udah pulang dari tadi sore. Kenapa gak pulang ke rumah suamimu?" Diyah menghampiri Elina, lalu duduk di sebelah sang anak.
Elina menghembuskan nafas panjang. Dia pikir bahwa sang ibu memergoki dirinya sedang menelpon.
"Eh, aku malas, Bu. Tadi, 'kan, Ibu denger sendiri kalau aku lagi marahan sama dia?" tanya Elina.
Elina mencoba mengingatkan sang ibu akan kejadian tadi siang. Dirinya juga menunggu bagaimana respon ibunya tentang masalah tadi. Dia yakin bahwa sang ibu telah mendengar semuanya.
Bersambung.
__ADS_1