
David segera menetralkan kembali ekspresinya. Pria itu mencoba terlihat biasa saja saat menaggapi ucapan Elina. Dia tidak ingin sang kekasih berpikir macam-macam tentangnya.
"Bagus kalau gitu." David membelai rambut Elina. "Ayo, kita makan dulu. Keburu dingin, nih, makanan."
Elina menganggukkan kepala, lalu segera meraih sendok untuk menikmati makanannya. Dia merasa hari ini begitu indah, semua keraguan telah hilang. Kini yang dinanti hanyalah kelulusan sang kekasih, setelah itu dia bisa menikah dengan pria itu.
"Yang ini enak, coba deh!" David mengarahkan sesendok ikan bersama kuahnya ke mulut Elina.
Wanita itu membuka mulut, menerima suapan dari David. perlahan pria itu memasukkan makanan ke dalam mulut kekasih. Bayangkan saja ketika kalian melihat sinetron. Nah, begitulah adegan mereka sekarang.
Kedua pasang kekasih itu saling menetap, mata bertemu mata. Senyum tampak di ujung-ujung bibir mereka. Sungguh pasangan romantis yang sempurna.
Elina merasakan begitu banyak kembang api yang meletus di dalam hatinya. Kebahagiaan sangat indah yang tercipta malam itu.
"Gimana? Enakkan?" tanya David ketika Elina mengunyah makanannya.
Elina hanya menganggukkan kepala, menyetujui perkataan David. Memang tak dapat di pungkiri, makanan itu begitu enak. Pantas saja kafe itu selalu ramai pengunjung seperti malam ini.
"Makanya, lain kali, tuh, pesen makanan kayak punyaku ini. Udah enak, bergizi lagi."
"Lah, malah kayak iklan," ucap Elina. "Punyaku juga enak, kok." Dia memasukkan sebongkah bakso aci ke dalam mulut. Namun, dia mengeluarkannya kembali. Mulutnya meniup-niup bibirnya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa? Pedes banget?" tanya David. Dia merasa khawatir sekaligus bingung.
"Gak, cuma panas." Elina menampilkan seluruh gigi ratanya.
Tentu saja panas, bakso itu disajikan di atas api spirtus yang akan menjaganya selau panas. Elina saja yang kurang sabaran.
"Lah, kirain." David menggelengkan kepala.
Elina membelah kecil-kecil bakso di mangkuk supaya lebih cepat dingin. Diambilnya sepotong, lalu dia masukkan ke dalam mulut. Bakso aci kafe, tentu saja lebih enak daripada yang dipinggiran jalan.
Elina mengunyah perlahan bakso di mulut untuk menikmati rasa. Pada saat itu, David memperhatikannya.
"Gak, ah. Makanan bikin mencret. Lagian, bekas mulutmu tadi."
David membayangkan ketika Elina mengeluarkan makanan dari dalam mulut saat kepanasan tadi. Sungguh sangat mengganggu pikirannya. Bakso yang sudah masuk ke dalam mulut, lalu bercampur air liur, kembali kedalam mangkuk lagi.
Uh! David tidak mau membayangkannya lagi. Dia menggelengkan kepala, lalu memasukkan secuil ikan tuna ke dalam mulut.
Seperti biasa, Elina selalu memesan makanan pedas. Menurutnya, kalau tidak pedas seperti makan bubur, tidak terasa. Berbanding terbalik dengan David yang tidak suka pedas. Pria itu bisa mencret setelah memakan makanan Elina.
Mereka pun menikmati makanan masing seraya bersenda-gurau. Tanpa terasa, apa yang ada di dalam mangkok sudah tidak tersisa. Elina menyenderkan tubuhnya kebelakang.
__ADS_1
"Sayang, keringet kamu itu, loh." David mengambil tisu, lalu mengusap lembut kening Elina.
"Makasih, Sayang." Elina memeluk lengan David. Dia merasa senang diperhatikan seperti itu.
Ya, David selalu bersifat lembut terhadap Elina. Perlakuan pria itu selalu saja bisa membuatnya terbang melayang. Sungguh pria idaman semua wanita.
"Aku kayaknya gak mau pulang, deh. Pengen sama kamu terus." Elina semakin merekatkan pelukannya. Dia takut jika pelukan itu terlepas, maka sang pujaan hati akan hilang juga.
"Gak boleh begitu. Kamu ingat kejadian terakhir?" tanya David. Dia mencoba mengngatkan pada kejadian sebulan lebih yang lalu. "Mau aku kayak gitu lagi?"
Elina menggeleng cepat. Tentu saja dia tidak ingin kekasihnya terluka lagi.
"Makanya, kita sekarang harus lebih hati-hati. Apalagi sekarang kamu udah jadi istrinya. Dia pasti tambah overprotektive."
"Jangan sampai dia tahu hubungan kita. Oke," tutur David. Dia senantiasa membelai kepala Elina.
"Oke, aku akan hati-hati."
Bebera saat mereka di sana hingga malam sudah menunjukkan pukul 09.00 PM. David pun menyudahi pertemuan mereka, walaupun sebernarnya Elina enggan. Namun, mau bagaimana lagi, pria tersebut tidak ingin suami wanita yang menjadi kekasihnya itu curiga.
Bersambung.
__ADS_1