
Bulan terlihat bulat sempurna sehingga dapat memantulkan cahaya matahari lebih banyak. Walaupun sinarnya tak dapat menembus kegelapan, tetapi cukup untuk menerangi bumi. Bintang pun tak pernah absen menemani sang ratu malam.
Jalanan tampak lengang, seperti memang ditujukan hanya untuk sepasang kekasih yang tengah berboncengan. Sang wanita pun memeluk erat pria di depannya seolah takut terjatuh. Atau mungkin takut kehilangan.
"Sayang, nanti berhenti depan gang aja," ucap Elina.
"Kenapa?" David mengernyitkan dahi, tak tahu maksud dari ucapan sang kekasih.
"Takut tetangga lihat."
Ya, walau bagaimanapun saat ini statusnya masih istri Evan. Tentu saja dia tidak ingin jika ada tetangga yang melihat mereka. Pasti akan menjadi buah bibir di kalangan masyarakat sekitar, kasihan keluarganya.
"Baiklah." David menganggukkan kepala, menyetujui permintaan Elina. Dia juga berpikir ke arah itu.
Motor David berhenti tepat di samping gapura. Elina pun turun, lalu melepas helm. Pria itu mematikan mesin motor agar tidak menganggu warga.
"Terima kasih, Sayang, atas hari ini. Ini adalah hari paling bahagia bagiku," ucap Elina. Senyum cerah tak luput dari bibir manisnya.
__ADS_1
"Sama-sama, Sayang. Aku juga sangat bahagia. Akhirnya aku bisa merasakan manismu. Tapi ..." ucap David. Kata terakhir dia ucapkan mengambang, seolah sedang berpikir. Wajahnya pun terlihat sedikit ada rasa kekecewaan.
"Tapi apa?" tanya Elina. Dahinya mengerut, penasaran dengan ucapan David yang tak selesai.
"Eh!" David tersenyum kaku seraya menggaruk pipi yang tak gatal. "Kamu sangat hebat walau itu pengalaman pertama."
Elina menundukkan kepala, menyembunyikan warna merah pada pipi. Sungguh, ucapan David dirasanya adalah pujian. Mungkin juga olokan untuk dia. Namun, semua itu adalah benar, dan hari ini merupakan hari termanis baginya.
Tangan Elina terulur, meraih lengan David yang masih memegang stang motor. Diambilnya sedikit daging di balik jaket pembungkus. Tangannya memutar lembut seraya melepaskan cubitan itu.
"Aw!" pekik David.
Namun, semua itu hanya kepura-puraan David. Sebenarnya cubitan itu tak terasa sedikit pun. Begitulah kalau orang sedang dimabuk asmara, dia akan melebih-lebihkan yang sebenarnya hal kecil.
"Apaan, sih. Gak beneran juga. Mana ada sakit," gerutu Elina. Bibirnya pun sudah menggulung. Ceritanya sekarang dia sedang ngambek akan sikap David yang berlebihan.
Namun, David hanya menampakkan gigi putihnya.
__ADS_1
"Ya udah, sana pulang, gih," ujar David seraya mengusap lembut pangkal rambut Elina.
"Padahal aku masih pengen sama kamu." Elina mendekap lengan sang kekasih. "Bawa aku pulang ke rumahmu," rengeknya.
"Besok kamu 'kan kerja. Jangan aneh-aneh." David mencubit lembut pipi wanita tersebut.
Hembusan nafas panjang terdengar keluar dari mulut Elina. Sungguh, dirinya merasa sangat kurang akan kebersamaan mereka hari ini. Tak ingin berpisah dari sang kekasih agar selalu bisa bermesraan.
Namun, semua tak harus berjalan sesuai keinginannya. Kewajiban tetap harus dilaksanakan. Begitu nasib para pengais rupiah, tak dapat seenaknya dalam bekerja.
"Iya-iya." Elina melepaskan pelukannya. Terlihat pula bibirnya yang sudah seperti toa. Tinggal ambil karet, bisa itu bibir dikuncir.
"Aku pulang dulu."
Elina menyambar bibir David, lalu segera membalikkan badan. Wanita itu pergi tanpa menghiraukan pria yang menggeleng akan sikapnya. Dia terus saja menarik bibirnya ke dalam sepanjang jalan menuju rumah, merasakan bibir sang kekasih yang masih terasa melekat di sana.
100 meter telah ditempuh, akhirnya Elina sampai di depan rumah. Entah, ada magnet apa sehingga membuatnya menoleh ke arah balkon rumah Evan. Di sana terlihat sepi, bahkan kamarnya pun gelap.
__ADS_1
"Ngapain juga aku lihatin kamar itu," gerutunya. Dia segera membuka kunci, lalu masuk ke dalam rumah.
Bersambung.