
Usai sudah acara resepsi pernikahan Elina dan Evan. Para tamu undangan sudah meninggalkan tempat itu. Kini hanya tinggal keluarga besar kedua mempelai saja yang ada di sana.
Elina menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Dia menghela nafas panjang. Lega rasanya karena sudah melewati acara demi acara dengan lancar.
Sedangkan, Evan tengah berbincang dengan Eko. Mereka berdiri tidak jauh dari Elina sehingga wanita itu dapat mendengar percakapan kedua pria itu.
"Sudah! Sana, cepat ke kamar! Lihat Elin! Dia kelihatan capek banget." Eko menunjuk ke arah Elina dengan dagunya.
"Baiklah." Evan menganggukkan kepala, lalu membalikkan badan.
"Nanti malam pelan-pelan, Ev. Jangan sampai dia kesakitan," bisik Eko. Namun, masih terdengar oleh Elina.
"Siap, Bos! Akan ku perlakukan dia dengan sangat lembut." Evan menoleh ke arah Eko seraya memberi hormat.
"Apaan, sih!" gerutu Elina.
Evan tersenyum lebar ketika melihat bibir Elina yang sudah seperti terompet. Dia pun mendekati wanita yang baru saja dinikahi. Tangannya terulur untuk mengajak Elina segera meninggalkan tempat itu.
Elina bangkit dari duduknya tanpa memedulikan Evan. Dia berjalan lebih dulu menuju lift. Wanita itu meninggalkan sang suami yang masih berdiri di tempat.
"Ya, sudahlah." Evan menghembuskan nafas panjang, mencoba menyabarkan diri atas sikap Elina.
Evan segera berlari mengejar Elina yang tengah menunggu lift tiba. Seluruh anggota keluarga menggelengkan kepala menyaksikan sikap mereka. Mereka kagum dengan Evan yang sangat sabar menghadapi Elina.
__ADS_1
Evan telah menyewa sebuah kamar bulan madu di hotel itu juga. Jadi, mereka berdua tak perlu pergi jauh-jauh lagi setelah menikah untuk pergi beristirahat.
Elina keluar dari lift lalu berjalan lebih dahulu meninggalkan Evan lagi. Akan tetapi, langkahnya terhenti ketika dia telah berada tengah lorong hotel.
Nah, 'kan? Sekarang bingung dia, batin Evan. Dia melipat bibirnya ke dalam untuk menahan tawa. Pria itu meraih tangan Elina, membawanya menuju kamar yang telah di sewa.
Saat sampai di depan pintu, Evan segera membukanya. Mereka berdua melangkah ke dalam kamar. Terpampang kelopak bunga mawar yang bertebaran, membuat Elina terpesona.
"Indah sekali," gumam Elina.
"Kamu suka?" tanya Evan. Dia sangat senang karena Elina terlihat menyukainya.
Elina segera mengerjapkan mata. Lalu, seketika itu pula dia mengubah sikap menjadi acuh.
"Aku mau madi dulu."
"Aku ikut." Mata Evan berbinar. Dia berlari kecil mengejar Elina.
Ketika Evan sudah berada di depan pintu, Elina segera menutupnya. Pria itu sedikit kecewa karena harapannya sirna. Dia duduk di sofa yang berada di dekat jendela untuk menunggu sang istri selesai mandi.
Lumayan lama Evan menunggu hingga matanya mulai terkantuk. Namun, semerbak harum tiba-tiba mengusik hidungnya. Dia pun seketika membuka mata.
Evan melihat Elina telah selesai mandi. Wanita itu tampak segar dan menggiurkan. Tanpa diaba-aba, Evan berjalan mendekat ke arah wanita itu.
__ADS_1
"Kamu mau apa?" tanya Elina. Dia menepis tangan Evan yang mulai menyentuh pinggangnya.
"Kamu cantik banget setelah mandi." Tangan Evan kembali mendekati tubuh Elina.
Elina kembali menepis tangan Evan lagi. "Sana, mandi! Kamu bau banget."
Evan mengendus tubuhnya sendiri. Bau asam segera menusuk hidungnya. Dia pun meringis karena itu.
"Oke, aku mandi dulu. Tunggu aku sebentar, ya?" Evan segera berlari ke dalam kamar mandi.
Evan sangat bahagia karena sebentar lagi akan melepas status perjakanya. Pria itu membayangkan apa saja yang akan dilakukan pertama kali bersama Elina, nanti.
"Gak boleh buru-buru. Aku akan membuatnya nyama dulu," gumam Evan bermonolog.
Evan tersenyum sendiri ketika membayangkan sedang menikmati bibir Elina. "Hm, pasti manis."
Evan melompat-lompat kecil, tidak sanggup membayangkan lagi. "Udah gak sabar, nih." Dia segera menyelesaikan mandinya.
Evan membelitkan handuk di pinggang lalu berjalan keluar kamar mandi. Ditatapnya Elina yang telah barada di atas kasur dengan posisi miring membelakanginya. Selimut membungkus tubuh wanita itu. Pria itu mendekati sang istri lalu duduk di sebelah wanita itu.
"El," panggil Evan. Akan tetapi, wanita itu tidak memberikan respon.
Evan pun mengintip wajah Elina. Pria itu kecewa setelah mengetahui bahwa sang istri sudah tertidur. Dia menghebuskan nafas panjang lalu bangkit dari duduknya untuk memakai baju.
__ADS_1
Benar apa yang dikatakan Chandra saat itu. Malam pertama Evan benar-benar gagal.
Bersambung.