
Berat, pusing, itulah yang dirasakan kepala Elina saat ini. Ingatan sebelum pingsan kembali merasuk ke dalam pikirannya. Wanita itu segera membuka mata, lalu hendak duduk. Kondisi kepala yang sangat sakit mengurungkan niatnya.
Elina kembali berbaring dengan memegangi kepala. Dia baru menyadari, kini telah berada di tempat berbeda. Wanita itu melihat ke sekeliling, tempat yang sangat familiar baginya.
"Rumah sakit," gumam Elina terheran, "gimana aku biasa sampai sini?"
Elina segera tersadar, lalu meraba bagian bawah tubuhnya. Dia tak merasakan apa pun. Sakit atau perih tak ada sedikit pun, seperti yang diceritakan teman-temannya yang sudah menikah.
"Apa aku masih p3rawan? Mereka gak nyentuh aku?"
Elina semakin bingung, bagaimana itu bisa terjadi. Padahal tempat tersebut sangat sepi. Sangat menguntungkan bagi kedua preman tersebut. Namun, hal itu tak memuluskan aksi mereka.
"Apa David datang, terus nyelametin aku?" Senyum mengembang di bibir wanita tersebut.
Elina memikirkan sebuah spekulasi. Menurutnya hanya itu kemungkinan yang terjadi. Dia tahu persis bahwa tidak ada seorang pun yang melintas saat kejadiaan. Lagi pula, yang tahu posisi di mana dia berada saat itu hanyalah David.
"Ke mana dia?"
Elina menoleh ke sana kemari mencari keberadaan pria yang dimaksud. Namun, tak ada seorang pun di dalam sana.
Suara ketukan yang diikuti pintu terbuka mengalihkan Elina. Dia segera menoleh ke arah sumber suara dengan senyum semanis mungkin, menyambut kedatangan sang kekasih.
__ADS_1
Senyum itu seketika hilang ketika Elina melihat siapa yang muncul dari balik pintu. Tidak seperti harapannya, yang menanti sang kekasih. Justru seorang berbaju putih, masuk dengan infus dan jarum suntik di tangan.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa ners dengan ramah.
"Pagi, Mas," sahut Elina mencoba tersenyum kepada ners.
Sang ners pun tersenyum kikuk karena dipanggil "Mas" oleh Elina. Dia merasa aneh dengan panggilan tersebut saat bekerja. Akan tetapi, dirinya rak mempermasalahkan hat itu.
"Bagaimana keadaan Nyonya?"
Lagi-lagi dipanggil "Nyonya" membuat Elina memasang wajah jutek. Dia tidak senang dengan panggilan itu.
"Lalu, aku haris panggil apa, dong?" tanya ners. Dia tersenyum canggung, merasa tidak enak.
"Adek aja. Kayaknya aku lebih muda dari kamu," ucap Elina tanpa beban.
Ners pun semakin kikuk. Entah menyetujui permintaan sang pasien atau tidak. Namun, sebagai perawat profesional, akhirnya dia menuruti permintaan wanita tersebut.
"Baiklah." Ners tersenyum semanis mungkin.
"Adek," panggilnya selembut mungkin, "bagaimana keadaannya?"
__ADS_1
"Ya, kayak gini, Mas. Masih tanya aja," jawab Elina dengan wajah tidak senang.
Udah tahu sakit, masih aja tanya, keluhnya dalam hati.
Ners menghembuskan nafas panjang, mencoba menyabarkan diri menghadapi pasien yang satu ini.
"Maksudku, apa yang dirasakan sekarang?"
"Oh." Elina membuat lingkaran sempurna pada bibirnya. "Masih pusing dan sakit di sini." Elina menunjukkan bagian kepalanya yang sakit.
Tentu saja sakit karena tepat di bagian belakang pelipis terjadi benturan saat itu.
"Gak apa-apa. Sebentar lagi juga sembuh. Udah dijahit semalam."
"Dijahit?" pekik Elina. Dia tidak tahu apa yang terjadi, kenapa juga sampai kepalanya dijahit.
Elina hanya mengingat sedikit sakit beberapa saat sebelum akhirnya pingsan. Jadi, dia tidak berpikir sampai ke arah sana.
Namun, rasa sakit dan pusing di bagian tersebut, membenarkan apa yang dikatakan sang ners. Mungkin terjadi luka menganga sehingga membutuhkan sedikit jahitan untuk menutupnya.
Bersambung.
__ADS_1