
Beberapa hari ini, Elina merasakan bak ratu. Evan sungguh melayani dirinya dengan sangat istimewa. Bagaimana tidak, pulang kerja sudah disambut di depan pintu. Tas dan peralatan kerja segera dibawakan pria itu seperti porter.
Elina merasa bingung, semenjak saat itu, sikap Evan berubah drastis. Namun, tekatnya tetap bulat, tak akan pernah burubah. Walaupun diperlakukan seperti itu, hatinya tak akan luluh.
"Halo, Sayang," ucap Elina penuh kebahagiaan. Dia berani menelepon David karena Evan sedang pergi entah ke mana. Itu tidak penting baginya, yang penting bisa ngobrol sama sang pujaan hati
"Halo, Sayang. Tumben telepon, ada apa?" tanya David dengan suara lembut.
Suara pria itu menghanyutkan Elina. Untuk beberapa detik dia menikmati alunan merdu dari seberang sana.
"Iya, mumpung di gak ada," jelas Elina.
"Kemana dia?"
"Entah. Biarin aja, yang penting kita bisa ngobrol."
Elina selalu memanfaatkan kesempatan itu. Bukannya takut dengan Evan, tetapi dia tidak mau jika hubungan dengan David diketahui pria itu lalu disampaikan kepada keluarganya. Bisa perang besar nanti.
Elina belum siap untuk menghadapi perang. Dia harus menunggu David lulus agar bisa mendapat perlindungan. Jika saat itu datang, dirinya tak perlu merasa khawatir karena bagaimanapun juga akhirnya dia akan tinggal bersama sang kekasih. Wanita itu tidak akan mendengar ocehan seluruh keluarganya.
"Benar juga." Tawa terdengar dari mulut David.
"Sayang," jeda Elina sesaat, "aku kangen, pengen ketemu. Gak sabar aku tunggu hari Kamis lagi."
Sejak pertemuan kemarin, mereka belum pernah bertemu lagi. Elina tahu kesibukan David, jadi dia memakluminya. Hanya hari Kamislah mereka dapat bertemu atau di mana sang kekasih tidak sibuk, seperti waktu dulu.
__ADS_1
"Aku juga kangen kamu, Sayang. Tapi, mau gimana lagi, kerjaanku banyak. Kamu sabar, ya." David mengakhiri kalimatnya dengan sebuah kecupan.
"Ah, kecupannya gak kena," goda Elina. Suaranya terdengar centil.
Tawa pun terdengar dari seberang sana. "Sudah berani menggodaku, ya, sekarang? Awas nanti kalau ketemu, kamu bakalan habis!" Suara David terdengar sedang gemes seperti singa lapar yang ingin segera mencengkeram mangsanya.
Ya, kini pembicaraan mereka lebih terbuka. Elina sudah mulai berani menggoda David. Bahkan, dia pernah menggoda dengan mendengarkan hembusan nafas yang sangat merdu dari mulutnya kepada sang kekasih.
"Ow, aku takut," ucap Elina berpura-pura. Dia sebenarnya sangat menantikan saat-saat itu. Ketika bibirnya bersatu dengan bibir David seketika melintas di angannya.
Entahlah, setelah hubungannya dengan David kembali, Elina merasa rasa sayangnya semakin besar. Dia bahkan merasa ingin selalu dipeluk dan didekap oleh pria itu. Padahal, rasa itu tak pernah ada sebelumnya.
Mungkin ini adalah efek dari rasa rindu Elina sebab lama tidak bertemu. Atau mungkin juga karena dia sudah terbiasa dipeluk dan didekap oleh Evan.
"Ayo, ketemu. Aku juga gak sabar."
"Em." David berpikir sejenak. "Sepertinya besok aku sedikit luang. Kita bisa ketemu."
"Beneran?" tanya Elina antusias. Dia sangat senang mendengar kata-kata David. Tak perlu menunggu hari Kamis lagi, rasa rindunya akan segera terobati.
"Tapi, tunggu kabar selanjutnya. Kalau udah pasti, aku kabari kamu."
"Oke, aku pasti tunggu kabar darimu. Jangan lama-lama, ya! Udah nggak sabar, nih."
Kini, angannya untuk dipeluk dan dicium sudah di depan mata. Elina pun tersenyum lebar. Dia merasakan bahagia yang sangat teramat.
__ADS_1
"Aku juga udah nggak sabar buat ngabisin kamu."
"Jangan dihabisin, dong. Kasihani aku," ucap Elina manja.
"Hm." Deheman tiba-tiba terdengar dari arah belakang.
Elina segera menarik ponselnya dari telinga lalu menoleh ke arah belakang. Ternyata Evan telah berada di depan pintu. Panik dan gugup tampak di wajah wanita itu.
"Ka-kapan kamu pulang?"
"Saat kamu bilang 'Jangan habisin'," jawab Evan tanpa ekspresi. Pria itu merasa kesal memergoki sang istri yang tengah berbincang di telepon. apalagi dengan nada yang seperti itu.
"Oh, i-itu. Si Bunga punya mangga, aku mau minta. Makanya aku bilang jangan habisin," jelas Elina sedapatnya. Dia mengatakan alasan yang begitu saja melintas di pikirannya saat itu.
"Oh." Evan berlalu pergi menuju kamar mandi tanpa mengatakan apa pun lagi.
Elina bisa menghembuskan nafas lega setelah Evan masuk ke dalam kotak kecil itu. Untung saja pria itu tidak marah. Namun, wajahnya terlihat beda sekali.
Apa dia denger tadi, ya? Tapi, kalau memang dia denger, kenapa nggak marah? Ah, biarin aja, batin Elina.
Elina kembali menatap ponsel di tangannya. Namun, sayangnya panggilan itu sudah berakhir. Dia pun menghembuskan nafas panjang.
"Padahal masih kangen," gumam Elina.
Bersambung.
__ADS_1