Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 51. Ingin Cerai


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, tetapi berdebatan mereka belum juga berakhir. Elina tetap pada pendiriannya, tak mau percaya kepada Evan. Sebab dengan cara itulah, dia berharap dapat berpisah dengan sang suami.


Bahkan, setelah pulang dari rumah sakit, Elina tidak mau masuk ke rumah Evan. Dia segera masuk ke dalam rumah orang tuanya setelah keluar dari mobil.


Evan segera membuntuti Elina. Namun, saat di dalam rumah, wanita itu segera mengusir sang suami, lalu meninggalkannya di ruang tamu. Dia segera masuk ke dalam kamar, mengunci pintu rapat-rapat.


Diyah menyaksikan hal itu, lalu meminta Evan untuk pulang dahulu. Dia akan mencoba berbicara dengan sang anak. Akhirnya, setelah sekian lama merayu, dia dapat masuk, lalu berbicara empat mata dengan Elina.


"Elin, coba pikir baik-baik," ucap Diyah setelah mendengar keinginan sang anak, "apa keputusanmu sudah tepat?" tanya Diyah dengan lembut. Dia berharap dapat meluluhkan hati sang anak.


"Ibu, aku mohon, hargai keputusan dan pilihanku. Aku udah dewasa, Bu. Aku juga tahu mana yang terbaik buatku."


Diyah tak tahu harus berbicara apa lagi. Dirinya merasa kalah, memang kebahagiaan sang anak adalah yang utama. Dia tak dapat memaksakan kehendak, jika hanya membuat anaknya tidak bahagia.


"Tapi, Elin, ibu harap kamu memikirkan lagi keputusanmu." Diyah berbicara penuh dengan keseriusan.

__ADS_1


"Bu, aku udah memikirkan baik-baik keputusanku," ucap Elina penuh keyakinan.


Elina melihat jam pada layar ponselnya. Sesaat setelah itu, dia meraih tas di atas meja kamarnya, lalu jaket yang menggantung di belakang pintu.


"Mau ke mana?" tanya Diyah menyelidik.


"Mau keluar sebentar," jawab Elina.


"Udah sore. Lagian, kamu juga baru pulang dari rumah sakit. Jangan pergi-pergi dulu!" larang Diyah.


Elina berlalu begitu saja, keluar dari kamar. Dengan mengendarai motor, wanita itu melaju menyusuri jalanan.


***


The mediterinian cafe memang sangat populer dengan pemandangan dan suasana romantis. Banyak pasang muda-mudi menghabiskan waktu di sana. Namun, hari ini lumayan sepi karena Elina dan David pergi ke sana pada hari kamis.

__ADS_1


Kedua pasang kekasih itu duduk berdampingan di roof top, memungkinkan mereka memandang lepas ke seluruh arah. Pemandangan kota menjadi hal menarik ketika malam hari. Pada saat itu pula, Elina menceritakan semua rencananya kepada David.


"Sayang, kamu yakin mau pisah sama suamimu?" tanya David. Dia tidak percaya jika sang kekasih akan senekat itu.


"Tentu aja yakin," ucap Elina, "kenapa sih, kamu kayak gitu? Kamu masih mau, ya, kalau aku terus-terusan sakit hati sama dia? Kamu gak kasihan sama aku?"


Deretan pertanyaan Elina membuat David engap. Dia pun menghembusakan nafas panjang untuk mengurangi perasaan tak enak di dada. Sungguh dirinya tak berpikir demikian.


Padahal, menurut David, pendapatnya bagus untuk Elina saat ini. Bagaimana tidak, uang akan terus mengalir jika sang kekasih masih mau bersama suaminya. Akan tetapi, begitulah Elina. Tak tahu harus bagaimana lagi, baginya inilah terakhir kali membujuk wanita tersebut.


"Ya, udah. Sekarang terserah kamu. Aku gak bisa menuhin kebutuhan kamu, loh. Buat kuliah aja, seringnya kurang."


"Aku gak pernah minta sama kamu. Udah sama kamu aja aku sangat bahagia. Gak usah mikir yang lain," jelas Elina, "lagi pula, kalau kamu kurang juga bisa minta sama aku. Aku 'kan masih kerja. Jadi, gak perlu khawatir."


Sungguh pemikiran wanita yang polos. Dia seperti hanya dibutakan oleh cinta. Namun, jika hidup tanpa cinta, memang seperti tak ada warnya. Semuanya terlihat abu-abu. Begitulah dia menjalani hidup bersama Evan hampir tiga bulan ini.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2