Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 19. I Love You


__ADS_3

Malam semakin larut, tetapi Elina masih terjaga. Wanita itu enggan memejamkan mata, masih penasaran dengan apa yang ada di dalam benda pipih di tangannya. Berkali-kali dia membuka ponsel itu, tetapi masih saja sama. Tidak ada apa pun di sana.


Namun, tak dapat dipungkiri, semakin lama mata Elina semakin berat. Akhirnya wanita itu tak kuasa menahan kantuk yang melanda lalu mulai terlelap. Akan tetapi, baru beberapa saat tertidur, getar ponsel membangunkannya.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, sebuah pesan baru mendarat di ponselnya. Elina tersenyum senang ketika melihat sebuah nama yang tertera di sana. Tanpa menunggu lama, wanita itu membuka pesan tersebut.


"Maaf, baru bales. Tadi aku sibuk banget, banyak tugas kampus. Gak sempet deh, bales chat‐mu."


Benar dugaannya, sang pujaan hati tengah sibuk tadi. Untung saja dirinya urung mengirimkan pesan. Kalau tidak, tadi dia benar-benar telah mengganggu pria itu.


Sebenarnya Elina tak tahu bagaimana kesibukan seorang mahasiswa semester lima. Wanita itu hanya mendengar cerita dari sang kekasih tentang segala kesibukan itu. David pun pernah mengatakan untuk tidak mengganggu di saat itu.


"Gak apa-apa, Sayang. Aku tau, kok. Aku senang, kamu udah bales chat aku sekarang," balasnya.


Elina masih menyebut David dangan kata 'Sayang'. Dia merasa pria itu ingin kembali menjalin hubungan dilihat dari pesan pertamanya. Dia tak mempedulikan lagi kata putus yang pernah terucap dahulu. Bagi dirinya, kata maaf yang sang kekasih katakan adalah sebuah angin segar.


"Makasih, Sayang. Kamu emang pacar paling pengertian. Aku mau VC, boleh, 'kan?"


Hati Elina seketika berbunga-bunga, ternyata David masih menganggap wanita tersebut sebagai kekasih. Nyatanya, pria itu juga menyebut dirinya dengan 'Sayang' juga. Kata putus yang dulu pernah ada, seperti bagai angin lalu. Wanita itu pun tak mempermasalahkannya.

__ADS_1


Itulah kehebatan cinta, mudah sekali melupakan permasalahan yang lalu. Mereka akan terhanyut oleh indahnya asmara. Tanpa mempedulikan lainnya, yang benar hanyalah mereka, insan yang sedang dimabuk cinta.


"Jangan VC dulu!" balas Elina cepat. Dia tidak ingin David lebih dulu meneleponnya.


"Kenapa?"


"Besok aku jelasin. Kita ketemuan, oke!"


"Jangan besok! Gimana kalau kamis?"


"Oke, kamis." Elina menyetujui usulan David.


Mereka menentukan tempat bertemu di hari Kamis. Setelah itu, kedua orang itu berlanjut saling berbalas pesan. Senyum selalu tampak di bibir Elina ketika membaca pesan dari David.


Elina membayangkan apa saja yang akan dikatakan dan dilakukan saat bertemu. Dia sudah merencanakan banyak hal. Kali ini, dia berjanji akan melakukan apa pun untuk pria itu dan tidak akan melepaskannya.


Namun, tiba-tiba Evan menarik tubuh Elina semakin mendekat ke arah pria tersebut. Wanita itu pun terkejut, dengan cepat mematikan layar ponselnya. Jantungnya berdegup kencang, takut jika apa yang dia lakukan ketahuan.


"Kamu belum tidur?" tanya Evan berbisik tepat di samping telinga Elina.

__ADS_1


Elina pun semakin ketakutan setelah mendengar suara pria itu. Dia menggerakkan kepalanya perlahan untuk mengintip wajah pria itu. Dirinya bisa bernafas lega, mendapati sang suami masih menutup mata. Itu berarti suaminya tidak melihat tampilan layar ponsel tadi.


"Eh, iya. Sebentar lagi."


Evan semakin menyusupkan kepala ke leher Elina sehingga udara hangat menerpa kulit. Hembusan nasaf dengan suara lembut keluar dari mulut wanita itu. Seketika itu pula seluruh tubuhnya meremang. Sensasi yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.


Tak pernah dia merasakan sensasi luar biasa seperti ini sebelumnya. Elina merasa ingin dibelai di seluruh tubuh saat itu juga. Namun, dirinya menahan itu semua, tidak ingin terhanyut oleh perlakuan Evan.


Tidak ada pergerakan lagi yang dilakukan Evan. Artinya, pria itu sudah tertidur lagi. Elina menjauhkan kepalanya dari pria itu. Dia merasa terganggu dengan nafas sang suami.


"Udah dulu, ya, Sayang," balas Elina segera. Dia ingin lekas menutup obrolan itu, takut jika Evan bangun lagi.


"Oke, tidurlah. Kita ngobrol besok lagi."


"Oke. I love you, Honey." Tak lupa emotikon mencium dengan bentuk hati di depan bibir menyertai pesan itu.


"I love you, too." David hanya menyertakan emotikon hati.


Elina meletakkan ponsel ke atas nakas. Dia segera memejamkan mata, berharap malam cepat berlalu dan berganti hari. Dengan begitu, semakin cepat pula dirinya akan bertemu dengan pujaan hati.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2